Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Terror Again (2)


__ADS_3

Beberapa saat sebelum Jeanne dan ordo ksatria kerajaan Warsawa tiba.


Begitu alun-alun kosong dan penduduk telah dievakuasi, 100 orang keluar dari tempat persembunyian mereka. Target mereka? Sudah jelas, pendeta Gizela.


Pengikut kultus keselamatan sudah menargetkan Gizela sejak awal. Mereka tidak begitu peduli pada penduduk. Hidup dan matinya mereka tidak begitu penting bagi para anggota kultus keselamatan.


Mereka langsung bergegas untuk mengejar Gizela. Namun sebelum mereka dapat maju lebih jauh, Jean telah tiba terlebih dahulu di depan mereka, menghalangi.


"Minggir nak! Kami tidak memiliki urusan denganmu!"


Bahkan meski Jean menyingkir dari jalan mereka, dia akan tetap dibunuh. Well, jemaat kultus tidak pilih-pilih ketika mereka ingin membunuh seseorang. Jean menghela nafas.


Bagaimana lagi kan? Jean pada akhirnya benar-benar membiarkan mereka lewat. Dua orang melewatinya. Sementara empat orang lainnya telah mengeluarkan senjata mereka untuk menghabisi Jean.


Namun, begitu jarak kedua orang tadi telah agak jauh dengan Jean, kepala mereka terpenggal begitu saja.


Keempat orang yang bersiap menghabisi nyawa Jean terkesiap. Mereka tidak tahu apa yang terjadi. Namun insting mereka membunyikan alarm bahaya. Segera, mereka menghentikan langkah mereka dan berniat mundur.


Terlambat. Begitu jarak mereka hanya beberapa meter dari Jean, secara tiba-tiba api berwarna keemasan keluar dari tubuh mereka. Awalnya mereka tidak tahu apa yang terjadi. Namun, rasa sakit yang tidak terbayangkan memenuhi tubuh mereka.


Mereka merasakan penderitaan dan kesakitan. Bahkan namun sebelum mereka dapat menjerit, eksistensi mereka telah terhapus dari dunia ini. Tanpa menyisakan apa pun.

__ADS_1


"Si-siapa kau sebenarnya!?"


Ketakutan tergambar di wajah mereka. Biasanya, kata 'takut' bagi pengikut [Cult Of Savior] adalah hal yang tabu. Tidak peduli siapa musuh mereka dan sekuat apa, mereka akan terus maju untuk mencapai tujuan mereka.


Tapi kali ini berbeda. Tidak peduli sekuat apa pun usaha untuk mengatasi rasa takut itu, perasaan tersebut sama sekali tidak lenyap. Bahkan hanya dengan menatap mata Jean, tubuh mereka bergetar ketakutan.


"Itu tidak penting kan? Baiklah, aku pikir sekarang adalah waktunya untuk bersenang-senang."


Jean melangkah melintasi ruang. Dengan sekejap, dia sudah berada di depan musuh-musuhnya dan mulai menyingkirkan mereka. Pada dasarnya, Jean tidak melakukan apa pun. Iya, yang ia lakukan hanya lah berjalan melewati mereka begitu saja.


Namun, untuk setiap orang yang Jean lewati, tubuh mereka mulai terbakar satu per satu dengan api berwarna emas hingga tidak ada yang tersisa. Benar-benar musnah.


"Se-serang! Jangan takut! Jumlah kita lebih banyak dan tingkat kultivasi kita lebih tinggi!"


Dan salah satu bukti yang bisa Jean tinggalkan di sini adalah..... Mayat mereka.


Semua jemaat kultus yang tersisa menyerang Jean secara bersamaan. Dia menggeleng ringan. Hanya ketika salah satu anggota berada beberapa meter di depannya, Jean meninjunya hingga kepala orang tersebut hancur berkeping-keping.


Jean tidak pasif. Ketika mereka menerjang Jean, Jean juga menerjang mereka. Tidak perlu memakai senjata apa pun. Tangan kosongnya lebih dari cukup. Dia meninju para anggota kultus, yang membuat tubuh mereka terbelah, hancur, dan isinya tercecer ke mana-mana.


Tendangan yang ia lancarkan kepada musuhnya membuat kepala mereka berterbangan. Semburat darah mengucur dari leher mereka yang tak lagi memiliki kepala.

__ADS_1


Para anggota kultus mulai memutuskan untuk mundur. Sayang, Jean tidak memberikan mereka kesempatan. Tanpa menghabiskan banyak waktu, Jean membunuh anggota kultus yang tersisa.


Sudah, begitu saja. Pertarungan benar-benar telah berakhir.


***


Tubuh Jeanne gemetar. Inilah pertama kalinya ia melihat adik laki-lakinya berada di tengah lautan darah. Meski begitu, bibirnya tersenyum manis ketika melihat Jeanne.


Anehnya bagi ia, Jeanne tidak merasa khawatir. Dia tidak merasa peduli dengan mayat yang bertebaran di tanah. Ketika melihat senyum adiknya, hatinya terasa hangat. Meski tubuhnya gemetar.


"Je-jean.... Apa yang terjadi.... Padamu? A-apa tubuhmu.... Terluka?"


Dengan tertatih, Jeanne melangkah ke arah Jean yang sedang terduduk di atas sebuah mayat. Begitu sampai di sana, dis terduduk melutut dan mulai mengusap wajah Jean.


Para ksatria yang ada di belakangnya waspada. Bersiap jika ada sesuatu yang berbahaya muncul dari orang itu. Namun tidak ada apa pun.


Hanna yang tadi sangat waspada mulai mengendurkan penjagaannya. Dia masih menggenggam pedangnya, namun tidak setegang tadi.


Pada saat itulah....


"Dia! Dia adalah anggota dari kultus keselamatan! Serang dia! Pastikan untuk tidak membunuhnya! Kita membutuhkan informasi darinya!"

__ADS_1


Gerakan sewenang-wenang Szymon Krzys membuat suasana menjadi kacau lagi.


__ADS_2