
*jilat* *jilat*
Jean merasakan sensasi yang tidak bisa dia gambarkan di bagian bawah tubuhnya. Selena sedang berlutut dan mengemut dan mengulum 'adik' kebanggaan Jean, membuat dia mengerang dalam kesenangan.
Kemudian, sensasi kesenangan datang dari perut Jean dan keluar melalui tongkat dagingnya ke mulut Selena.
Selena menatap Jean dengan mata berkaca-kaca. Sangat menggemaskan!
"Telan Selena. Pelan-pelan saja, telan sebisamu."
Selena menuruti Jean dan menelan cairan hangat miliknya. Jean lalu mengangkat Selena layaknya tuan putri dan membaringkannya di kasur. 'pot madu' milik Selena sudah basah. Jadi Jean tidak perlu lagi melakukan foreplay.
Karena itu, dia langsung menindih Selena dengan seluruh jiwa dan raganya. Berkat para wanita yang ada di rumah bordil, Jean menjadi paham bagaimana cara menyenangkan wanita.
Selena terus mengerang ketika Jean mendorong dan menarik 'adik' miliknya di gua suci milik Selena. Karena tidak bisa menahan kenikmatan yang datang, Selena memeluk Jean dengan erat. Bahkan kukunya menancap di punggung Jean.
Jean mencium Selena dengan ciuman yang panjang dan dalam. Keduanya saling 'bertarung' satu sama lain dan baru berhenti ketika Selena ******* sebanyak lima kali dan Jean menembakan bibit hangatnya sebanyak dua kali ke dalam rahim Selena.
Selena tertidur dengan ekspresi yang puas di wajahnya. Sejujurnya, adik Jean sendiri masih keras. Tapi dia tidak tega untuk membangunkan malaikatnya yang sedang tertidur dengan ekspresi yang menggemaskan.
Jean bangga dengan 'adiknya'. Bahkan jika dibandingkan dengan orang dewasa, milik Jean masih lebih besar. Karena itulah Jean bisa menyentuh bagian terdalam milik Selena. Hmm! Menikmati wanita cantik memang indah!
Jean beranjak dari kasurnya dan memakai pakaiannya kembali. Dia mencium kening Selena dengan lembut dan menyelimuti tubuhnya. Setelah itu, dia keluar dari kamarnya.
Tapi Jean terkejut. Begitu membuka pintu kamarnya dan melangkah keluar, dia merasakan sesuatu yang lengket. Saat dia menoleh ke bawah, sudut bibir Jean naik. Ternyata ada yang mengintip. Tentu saja Jean tahu siapa pelakunya. Dia akan mengurus itu secepatnya.
__ADS_1
Jean keluar dari rumah paman Hull dan loncat dari satu atap ke atap yang lain. Dia sudah terbiasa melakukan ini. Entah itu untuk mempercepat perjalanan ataupun menghindari para ksatria.
Jean mendarat di atap markasnya. Ini adalah rumah ketiga buat Jean. Meskipun hanya di setiap malam dia ke sini, tetapi melihat anak-anak seusianya berkumpul membuat Jean menjadi sedikit sentimental.
Mar ternyata sudah menunggu di atap. Tidak, alih-alih menunggu, itu lebih seperti dia sedang merenungkan sesuatu sembari memandangi bulan sabit.
"Yah, Mar. Sepertinya sedang memikirkan sesuatu?"
Mar terkesiap. Rambut merah mudanya melambai tertiup angin malam. Wajah androgininya menggambarkan ekspresi keterkejutan ketika Jean tiba-tiba berdiri di sampingnya.
"Tu-tuan Jean! Maaf atas ketidaksopanan saya! Saya akan menyiapkan minuman untuk anda! Tu-tunggu lah terlebih dahulu."
Mar ingin turun ke dapur tapi Jean menahannya. Dia benar-benar penasaran apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Mar. Tidak biasanya dia seperti ini.
Mar diam sejenak. Matanya terlihat bergerak kemana-mana. Pada akhirnya, Mar menjawab pertanyaan Jean. Meskipun dengan suara yang tercekat.
"Saya hanya.... memikirkan masa lalu."
Jean terdiam. Dia tidak tahu masa lalu Mar. Dia juga tidak pernah menanyakannya. Bukan karena dia tidak peduli. Tapi karena dia punya firasat kalau Mar telah melalui hal-hal yang sangat kejam.
Jean teringat kalau dia menemukan Mar pada momen yang mirip saat dia menemukan Selena. Malam itu, Mar sedang dipukuli oleh para pemabuk yang frustasi karena kalah dalam berjudi.
Kondisi tubuhnya bahkan lebih buruk daripada Selena. Seluruh tulang yang ada di tubuhnya patah dan organ dalamnya terluka sangat parah. Jean langsung memenggal semua pemabuk itu dan membawa Mar ke rumah yang sekarang Jean jadikan markasnya. Butuh lebih dari dua Minggu untuk benar-benar menyembuhkan Mar.
"Tadi pagi, aku bertemu dengan gerombolan orang yang sedang mengeroyok seorang ibu beserta anak lelakinya karena mencuri roti. Aku teringat dengan tragedi yang pernah menimpaku.
__ADS_1
"Tetapi aku tidak bisa melakukan apapun. Aku tidak sehebat tuan Jean dalam bertarung. Jadi aku berniat akan menolong mereka begitu kerumunan sudah bubar.
"Namun....saat aku mengajak yang lain untuk membantu keduanya, ternyata.... ternyata mereka sudah mati! Yang bisa aku lakukan saat itu hanyalah mengubur mayat ibu dan anak itu. Ti-tidak ada yang bisa aku lakukan!"
Mar mulai menangis. Dia mengepalkan tangannya hingga telapak tangannya terluka. Jean tidak membicarakan apapun dan hanya diam di tengah suara serangga dan tangisan Mar. Barulah ketika Mar mulai sedikit tenang, Jean mulai berbicara.
"Mar, dunia ini dipenuhi dengan ketidakadilan. Memang seperti itu dan akan selalu begitu. Aku dan kau memang sedikit beruntung tetapi tidak dengan orang lain."
Jean berdeham sejenak.
"Mereka yang memukuli ibu dan anak itu adalah perwujudan dari ketidakadilan. Mereka kuat. Karena itu mereka melakukan hal-hal yang sewenang-wenang. Kau tahu kenapa begitu nyawa kedua orang itu sangat tidak berharga?"
Mar menggeleng. Dia cukup sakit hati dengan pernyataan tuannya, namun Mar memutuskan untuk tetap diam dan mendengarkan Jean hingga selesai.
"Jawabannya sederhana. Itu karena mereka yang memukuli ibu dan anak tersebut tidak pernah berada di posisi yang sama dengan keduanya. Mereka hidup dengan mudah. Pagi dan siang bekerja lalu sorenya pulang dan bertemu dengan anak dan istri mereka.
"Karena itulah aku bersumpah untuk membuat orang-orang itu berada di dalam posisi yang sebaliknya. Kehilangan orang-orang yang mereka sayangi! kehilangan harta benda yang telah susah payah mereka dapatkan! Dengan begitu, mereka akan memikirkan betapa berharganya sebuah nyawa."
Jean lalu menatap Mar dan mengulurkan tangannya sembari tersenyum.
"Karen itulah Mar. Aku akan mulai dari dunia bawah tanah nan kotor ini. Setelah itu aku akan mengendalikan kota ini. Dan....aku akan mengendalikan kerajaan Dublin di telapak tanganku."
Mar bergetar dan merinding ketika melihat senyum yang muncul di bibir Jean. Senyum tanpa rasa takut, senyum tanpa belas kasih, dan senyum yang penuh dengan kelicikan. Tetapi Mar senang. Dia meraih tangan Jean yang diulurkan padanya.
Demi ambisi Jean, Mar siap untuk melakukan apapun. Bahkan jika itu artinya nyawa Mar adalah taruhannya.
__ADS_1