
Jean dengan tenang bersandar di dahan sebuah pohon yang cukup tinggi setelah selesai berlatih. Dia melakukannya pelatihan di dalam hutan namun bersandar di atas pohon yang terletak di dekat rumah nenek Alija.
Sambil bersandar, dia memakan sebuah apel berwarna emas sembari mengawasi Elyse dan Elsie yang berlatih sihir seorang diri. Perkembangan mereka pesat dan Jean senang dengan usaha mereka.
Dia lalu memandangi langit yang biru. Matahari bersembunyi di balik gumpalan awan nan putih, membuat pagi ini tidak begitu silau.
Mendadak, senyum terbentuk di mulutnya. Dia tertawa kecil tanpa sebab, atau itulah penilaian orang lain kalau mereka melihat Jean sekarang.
"Ternyata sudah dimulai."
Jean melempar apelnya ke langit lalu menangkapnya lagi. Setelah itu, dia menggigit bagian lain dari apelnya. Dia melakukan itu terus-menerus dan baru berhenti ketika si kembar memanggilnya dari bawah.
"Kakak Jean! Ayo lihat sihirku!!"
"Ayo, ayo!"
Jean tertawa kecil lagi, meskipun kali ini karena alasan yang berbeda. Elyse dan Elsie sangat menggemaskan! Dia tidak bisa menahan senyumnya ketika melihat si kembar bersemangat.
Dia melompat dari atas pohon yang tingginya sekitar tiga meter dan mendarat dengan mulus di tanah.
"Baiklah, tunjukan kemampuannya kalian padaku!"
__ADS_1
Elyse dan Elsie mengangguk dengan semangat. Tanpa menahan diri, mereka menunjukan perkembangan yang telah mereka capai pada kakaknya.
***
Di saat yang sama ketika Jean sedang mengawasi kedua adiknya, Jeanne dan ksatria lainnya mulai menjelajahi hutan yang memisahkan kerajaan Warsawa dan Principality of Danzig.
Para ksatria terbagi menjadi empat tim dengan masing-masing kapten sebagai pemimpinnya. Area penjelajahan juga dibagi menjadi empat. Mereka semua berpencar dan ketika petang tiba, semuanya akan berkumpul di titik yang telah ditentukan.
Jeanne menulusuri hutan yang rimbun bersama dengan anak buahnya. Sepanjang perjalanan, mereka menemukan berbagai monster berbahaya seperti katak raksasa beracun, ular raksasa berbisa, rusa besar dengan tanduk setajam pedang, dan lainnya.
Syukurlah, berkat kekuatan yang Jeanne miliki, ia berhasil menyingkap monster-monster yang menghalanginya. Anak buahnya juga tidak ada yang tewas meskipun beberapa dari mereka terluka.
Salah seorang anak buahnya melapor kepada Jeanne. Dia adalah pengguna sihir [Tamer]. Salah satu keunggulannya adalah pengguna sihir dapat memanggil hewan dan berbagai kesadaran dengan hewan yang dia panggil.
Anak buahnya menjadikan burung sebagai hewan untuk berbagi kesadaran. Lewat penglihatan burung tersebut, dia menyelidiki hutan dari atas. Dan seperti yang ia katakan, tidak ada hal yang mencurigakan.
Jeanne merasa kalau ia masuk lebih dalam ke hutan, akan ada bahaya yang menanti dia dan anak buahnya. Tanpa ragu, Jeanne memerintahkan anak buahnya untuk mundur ke kamp mereka.
Ternyata bukan hanya dia yang mengambil keputusan untuk mundur. Hanna dan Karina juga sudah berada di sana. Meski dengan ekspresi yang agak frustasi dan jumlah anak buah yang berkurang.
"Hanna, Karina. A-apa kalian baik-baik saja?"
__ADS_1
Dengan lesu, mereka mengangguk. Keduanya mengalami luka ringan yang akan sembuh dalam hitungan jam. Tetapi ksatria mereka mengalami luka yang cukup parah sehingga tidak bisa melanjutkan misi.
"Apa kalian mendapat sesuatu di area penjelajahan kalian?"
Hanna menggeleng. Ia yang pertama menjawab.
"Kami tidak mendapatkan apapun. Yang kami temukan hanyalah sekelompok monster yang kuat dan gila. Bahkan lima anak buahku harus tewas karena melindungiku."
"Sama di sini. Kami tidak menemukan aktivitas manusia sama sekali. Sial! Dari awal memang seharusnya tidak ada manusia yang dengan bodoh tinggal di sini apapun alasannya!"
Mereka berdua menggertakan giginya karena frustasi. Meskipun ini bukan pertama kalinya mereka kehilangan anak buah, perasaan ini tetap tidak menyenangkan bagi mereka.
Mereka sadar bahwa misi ini sama sekali tidak masuk akal dari awal. Untuk apa mereka dikirim jauh ke tempat ini padahal mata-mata dari Principality of Danzig dapat dengan mudah melintasi perbatasan resmi?
Mereka hanya harus memperketat penjagaan tugas tersebut bisa diserahkan pada ksatria lokal milik viscount Konarski. Tidak perlu mengutus ksatria elit ibukota jauh-jauh untuk menyelesaikan masalah seperti ini!
"Baiklah. Aku rasa berada di tempat seperti ini terus-menerus akan sangat beresiko. Begitu Krzys kembali, kita akan keluar dari hutan ini pergi ke Krakov. Meskipun misi ini gagal, itu lebih baik daripada korban semakin berjatuhan."
Jeanne secara alamiah menjadi pemimpin. Hanna dan Karina setuju dengan usulan tersebut. Markas pusat jelas akan memberikan mereka sanksi. Tapi itu jauh lebih baik daripada mati.
Tanpa diduga oleh siapapun, tragedi akan segera terjadi.
__ADS_1