Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Memantik Api


__ADS_3

Kabar tentang pembakaran massal para anggota kelompok Kuda Hitam oleh Serigala Putih masih menjadi perbincangan yang panas bahkan setelah tujuh hari sejak kejadian itu berlangsung.


Entah itu rakyat jelata, bangsawan, bahkan orang-orang yang tinggal di istana kerajaan, semuanya tidak luput membicarakan hal ini.


Para ksatria telah dikirim oleh setiap keluarga bangsawan yang penasaran dengan kejadian tersebut. Hasilnya, mereka mual dan muntah setelah melihat kondisi mayat yang hangus dan sangat bau.


Peristiwa ini menyalakan lonceng peringatan bagi semua yang mengetahuinya. Siapapun yang berani mengusik Serigala Putih, maka nasib yang mereka temui akan sama seperti tubuh-tubuh gosong ini.


"Uhhh....ini mengerikan! Aku tidak menyangka kalau akan ada sesuatu seperti itu di ibukota."


Jean sedang mengarahkan beberapa buruh angkut untuk meletakan karung-karung besar berisi hasil panen ketika Charlotte mengeluh tentang apa yang telah terjadi. Jean hanya tertawa kecil sambil mengelus rambut Charlotte.


"Kenapa? Apa kau takut? Atau mungkin merasa kasihan?"


"Hmmm, tentu saja tidak. Pada saat aku ke sana....aku memang sedikit merinding. Tapi hanya itu. Kematian yang menimpa mereka adalah hasil dari keputusan bodoh yang mereka ambil. Tidak ada kehormatan atau apapun itu."


Jean menyeringai. Satu bulan semenjak paman Hull tertidur untuk selamanya, Charlotte banyak berubah. Dia tetap Charlotte yang cantik, menggemaskan, dan manja. Tapi begitu berhadapan dengan orang lain, sifatnya berubah 180 derajat.


Ketika dia berhadapan dengan lawannya, Charlotte terlihat bagaikan seekor elang yang selalu menatap mangsanya lalu melahap mereka begitu waktunya tiba.


Well, selama Charlotte menjadi gadis yang imut dan lucu dihadapannya, Jean tidak begitu peduli dengan sisanya.


"Ah ngomong-ngomong, bagaimana dengan Samuel? Aku merasa anak itu semakin mengganggu dari hari ke hari."


Charlotte mengalihkan pandangannya. Tingkah Samuel sangat mengganggu dia dan Jean. Anak itu berusaha sekeras mungkin menghancurkan reputasi mereka hingga berkeping-keping.

__ADS_1


"Mau aku yang menyingkirkannya?"


"Eh, apakah kamu bisa melakukan itu, Jean?"


"Kalau kau menginginkannya, aku bisa melakukan itu untukmu. Membuat dirinya mati seolah-olah karena kecelakaan atau membuat dia benar-benar hilang dari muka bumi tanpa jejak sama sekali bukan hal yang sulit."


Charlotte tertawa kecil. Alih-alih terlihat seperti kucing yang manis, dia bagaikan rubah licik sekarang.


"Tuan Jean, nona Charlotte, waktu makan siang sudah tiba. Saya bawakan makan siang untuk anda berdua. Silahkan menikmati."


Di tengah momen bermesraan mereka berdua, seorang pelayan cantik dengan rambut berwarna coklat sepundak datang. Keduanya langsung tersenyum menyambut wanita itu. Ya, dia adalah Selena.


"Selena! Terimakasih banyak! Ayo, makan dengan kami berdua!"


"Selena, ikut makan bersama kami. Oi, jangan memasang wajah seperti itu. Jangan menganggap dirimu terasing dari kami, oke?"


Selena ragu sejenak. Setelah pengumuman pertunangan antara Jean dan Charlotte, Selena berusaha menjaga jarak dari Jean meskipun itu menyakitkan bagi dirinya.


Tetapi Jean benar-benar menghancurkan tekadnya dengan mengajak Selena tidur bersama dia dan Charlotte. Alhasil, gadis itu tidak bisa menjaga jarak dari Jean. Meski canggung, Selena masih dan akan selalu mencintai Jean.


"Selena, aku selalu mengatakan padamu untuk tidak menjaga jarak dari kami kan? Ayo duduk dengan kami. Sebagi keluarga, aku mau kita akur dan rukun."


Charlotte tersenyum manis pada Selena, yang membuat pipi gadis itu menjadi merah. Selena duduk di sisi kanan Jean sementara Charlotte di sisi kiri. Jean dengan santai memberikan makan siangnya pada Selena. Yah, dia tidak lapar.


Jean menikmati momen ini. Dia tidak punya petunjuk sampai kapan kedamian ini berlanjut. Yang jelas, Jean merasakan bahwa untuk mempertahankan apa yang dia miliki, Jean harus melakukan apapun untuk itu.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Di sudut gang-gang yang gelap, tikus-tikus liar berkeliaran. Sampah yang menumpuk, udara yang lembab, dan gorong-gorong yang bau menjadi habitat yang cocok bagi mereka untuk tinggal dan beranak Pinak.


Tetapi yang tinggal di tempat itu tidak hanya para tikus. Orang-orang dengan tubuh kurus, wajah yang semrawut, dan pakaian acak-acakan. Orang-orang semacam itu tinggal di sini.


Botol alkohol berserakan dimana-mana. Aroma minuman yang keras membuat udara di tempat ini menjadi sumpek. Tidak akan ada orang yang bahkan mau datang ke tempat ini.


Tetapi berbeda halnya dengan laki-laki ini. Dia berjalan dengan riangnya. Bahkan bersenandung sembari menendang beberapa tikus kecil yang kebetulan lewat di hadapannya. Pembawaannya benar-benar tidak cocok dengan suasana di gang sempit ini.


Tapi dia tidak peduli. Dia hanya terus berjalan sembari bersenandung.


Hingga pada akhirnya, dia sampai ke tempat orang-orang yang sedang berkumpul. Mereka menyalakan api di tengah-tengah. Mungkin untuk menghangatkan tubuh mereka.


Kondisi mereka...buruk. kurus, bau, dan kusam. Pakaian sobek dan berjamur dimana-mana. Semua orang itu mengalihkan pandangannya pada orang yang baru saja datang.


Dengan senyum yang lebar, lelaki itu mengeluarkan kantung yang berisi koin emas dan perak dan melemparkannya pada mereka.


"Aku akan memberimu semua uang itu. Tapi, ada satu syarat."


Mereka saling berpandangan satu sama lain. Mungkin berusaha saling memastikan. Pada akhirnya, tanpa mengatakan apapun lagi, mereka setuju dan mengangguk.


"Bagus! Kalau begitu, ambil ini, ini, ah yang ini juga. Pakai ini untuk melakukan hal yang kalian sukai di kota ini. Tidak perlu menahan diri, bersenang-senanglah hingga puas!"


Mengeluarkan sumringahnya, lelaki berambut hitam dan iris yang juga hitam itu melebarkan tangannya. Ah, dia tidak sabar untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2