Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Apa Yang Dia Mau


__ADS_3

Duke Eisen memang memiliki rencana yang matang. Dia telah melakukan semua persiapan yang diperlukan. Tapi bukan berarti semuanya bergerak sesuai dengan apa yang dia kehendaki.


Malam itu dia baru saja menyelesaikan sebuah surat yang ditujukan pada penguasa baru Dublin mengenai pemutusan hubungan diplomatik antara kedua kerajaan. Surat itu bahkan telah ditandatangani dan dibubuhi cap resmi darinya. Dia akan mengirimkan surat ini esok hari kepada otoritas di Dublin.


Tetapi entah kenapa, dia merasa sangat mengantuk. Matanya tidak lagi bisa bertahan untuk tetap terbuka. Pada akhirnya, dia memutuskan untuk memasukan suratnya ke dalam laci mejanya dan pergi tidur. Berharap untuk mendapatkan mimpi indah yang telah lama ia dambakan.


Tidak hanya Duke Brandon Eisen, pelayan dan ksatria yang bekerja di kastilnya juga merasakan hal yang sama. Mereka memaksakan diri untuk tetap terjaga hingga tuan mereka benar-benar istirahat. Begitu dia telah masuk kamar, rasa suka cita muncul di hati mereka dan semuanya memutuskan menuruti keinginan untuk tidur.


Hanya ada beberapa Ksatria yang masih bertahan. Mereka memang ksatria terbaik yang didanai oleh Duke Eisen. Mereka bahkan bisa tidak tidur dua hari penuh. Sedikit rasa kantuk tidak akan membuat mereka lengah.


"Malam ini sedikit lebih dingin ya. Aku jadi ingin berisitirahat."


Salah satu Ksatria yang menjaga bagian depan kastil Duke Eisen mengeluh pada rekan yang berjaga dengannya.

__ADS_1


"Benar. Aku tidak mau berbicara buruk tentang tuan kita, tapi.... setidaknya tolong sediakan minuman hangat untuk yang sedang berjaga."


Keluhannya di balas keluhan lagi. Tidak masalah. Ini sudah menjadi obrolan sehari-hari. Selama tidak terdengar oleh Duke Eisen, semuanya akan baik-baik saja.


Terlepas dari betapa seringnya menggerutu, mereka tetap menjalankan tugasnya dengan baik. Tidak ada satupun yang menurunkan penjagaannya. Semua tetap berada di pos masing-masing dengan keadaan siaga.


Sayangnya, tidak ada yang sadar akan bahaya nan menghampiri mereka. Malam itu, tanpa suara, tanpa dapat dilihat, puluhan anak panah berterbangan lalu menusuk telak ke leher mereka dan membunuh semua Ksatria yang berjaga di depan kastil.


Semua mayat ksatria yang berjumlah 15 dengan cepat dibersihkan tanpa menyisakan jejak sedikitpun. Tubuh-tubuh mati itu dikubur secara massal di sebuah lubang besar yang telah dibuat.


Tidak ada halangan yang berarti. Selama semuanya bergerak sesuai arahan, tidak ada rintangan apapun yang akan menghadang mereka.


15 orang itu menyebarkan diri ke titik yang telah ditentukan. Berdasarkan arahan yang diberikan pada mereka, tidak boleh ada yang melakukan sesuatu diluar tugas yang telah ditentukan. Karena itu, mereka semua terus melesat menuju target masing-masing.

__ADS_1


Permainan baru saja dimulai.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dari kejauhan, Jean asyik duduk di sebuah atap datar sembari mengamati sekelompok orang yang menerobos kastil Duke Eisen. Dengan teknik [World Wide] yang ia miliki, Jean tidak perlu repot-repot berada di dekat tempat yang dia incar. Cukup berdiri tiga kilometer dari sana, dia bisa melihat semuanya.


Jean mulai tersenyum ketika semua kriminal itu telah berada di posisi mereka masing-masing. Tidak perlu sinyal. Jean hanya mengatakan pada mereka 'selama kalian telah berada di posisi masing-masing, lakukan apa yang kalian sukai.'


Saat itu juga, suara gaduh muncul dari arah kastil Duke Eisen. Pendengaran Jean yang tajam dapat menangkap itu. Kelihatannya, para kriminal itu telah memulai permainannya.


Jean juga tidak mau ketinggalan. Dengan santainya, dia melompati atap-atap, bergegas menuju kastil Duke Eisen yang telah ricuh. Dia juga melewati beberapa mayat yang bergelimpangan. Jika dia menemukan ada yang masih hidup, Jean dengan enteng akan menebas kepala orang itu.


Saat dia memasuki kastil, lantai pertama telah kosong. Tidak ada orang yang tersisa. Yang ada hanyalah barang-barang yang berantakan, pecah, dan hancur dimana-mana. Lantai satu sudah bersih.

__ADS_1


Idealnya, dia harus menyisir lantai atas. Namun, Jean tidak melakukan hal itu. Lebih tepatnya tidak perlu. Tujuan dia bukanlah gudang harta atau senjata yang ada di ruang atas. Sebaliknya, apa yang dia inginkan justru terletak di bawah.


Begitu Jean turun ke ruang bawah tanah, ia tersenyum. Semua yang dia mau ada di tempat ini.


__ADS_2