Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Deadly Battle (2)


__ADS_3

Untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, mari kita kembali ke beberapa saat sebelumnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"orang-orang tolol itu....hahhh."


Jean hanya bisa menghela nafas dari belakang ketika melihat barisan depan berada dalam kekacauan karena serangan mendadak.


Jean tidak langsung melakukan intervensi. Dia ingin melihat tindakan yang pangeran Hans dan para punggawanya ambil. Buruk, mereka terlalu panik karena sergapan yang terjadi secara tiba-tiba.


Barisan menjadi kacau seketika. Para bangsawan dan pedagang dengan pasukan mereka bergerak sendiri-sendiri. Sementara pangeran Hans, Greg Cassilas, Hansen Baldric tidak bisa mengambil alih komando secara penuh.


Melihat kekacauan yang semakin parah, Jean merasa kalau sudah saat dirinya bertindak.


Jean membagi 800 pasukannya menjadi tiga unit. Unit pertama terdiri dari 200 orang. Tugas mereka adalah tetap stand by di belakang untuk menjaga karavan yang membawa suplai logistik milik mereka.


Unit kedua terdiri 100 orang. Mereka memiliki tugas untuk berbaur dalam kekacauan di Medan perang. Tugas mereka adalah membunuh musuh sebanyak mungkin.


Dan unit terakhir berjumlah 500 orang. Jean yang akan langsung memimpin unit ini. Rencananya adalah menyerang dan menghancurkan tempat yang menjadi basis dan markas musuh.

__ADS_1


Berkat informasi yang dia peras dari tim pengintai lawan, Jean bisa memetakan secara akurat dimana posisi lawan dan berapa jumlah mereka. Orang-orang yang Jean tangkap memang tidak mengatakan secara akurat. Jean mengandalkan kemampuan deduksi miliknya untuk menganalisis renacana musuh.


Jean memacu kudanya dengan kencang, diikuti oleh 50 Kavaleri di belakangnya dan 450 infanteri. Jean mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Sembari membiarkan bilang pedang miliknya terkena pantulan sinar matahari, Jean berteriak untuk menaikan moral prajuritnya.


"SEMUANYA, SERAAANNGGG!!"


Teriakan Jean membawa semangat bagi para prajuritnya. Api dalam diri mereka menyala-nyala. Keinginan untuk mengikuti tuan mereka dan menyingkirkan musuh-musuhnya tertransmisikan ke dalam diri Jean, yang membuat ia tersenyum dalam hati.


Segera, ketika Jean telah sampai ke markas mereka, dia segera menghancurkan apapun yang ada di depannya. Ketika pasukan musuh yang berjumlah 10 orang berusaha untuk menghadangnya, Jean langsung mengayunkan pedangnya dan membunuh mereka semua hanya dalam sekali tebasan!


Di belakangnya, para prajurit yang ia pimpin juga mulai terlibat dalam pertarungan yang sengit. Jean berterimakasih pada mereka. Dengan begitu perhatian prajurit musuh akan teralihkan dan dia bisa menyelesaikan ini semua dengan menghabisi komandannya.


Tidak lama kemudian, Jean dapat menemukan targetnya. Berdasarkan informasi yang dia dapatkan, nama komandan dari para tentara bayaran yang disewa oleh dua kerajaan ini adalah Vichy.


Sebelum membunuh mereka, Jean memaksa mereka untuk buka mulut mengenai ciri-ciri dari pemimpin mereka. Rambut merah dengan goresan luka dibagian kiri wajah. Badannya besar dan penuh dengan otot.


Sekarang, orang dengan ciri-ciri itu berdiri di depannya. Matanya penuh dengan haus darah dan nafsu membunuh yang kuat. Melihat tekanan yang Vichy keluarkan, Jean mengeluarkan tawa yang psikopatik.


"Salam. Senang bertemu denganmu. Kau adalah Vichy kan? Namaku Jean dan seperti yang kau lihat, aku adalah salah satu dari komandan. Ini adalah pertama kalinya aku terjun ke Medan perang. Jadi, mohon bantuannya."

__ADS_1


Vichy menggertakan giginya ketika melihat Jean tersenyum seperti itu. Tetapi ada rasa ketidakpercayaan muncul dalam dirinya. Benarkah dia belum pernah turun ke Medan perang sama sekali?


Vichy segera mendapatkan jawaban. Pria yang sekarang berdiri di depannya adalah orang yang berbahaya! Dia adalah orang menghancurkan salah satu unit penyergap milik dirinya! Dia adalah orang yang sama dengan orang yang membunuh Mage dipihaknya dan menghabisi dua tim pengintai yang dia kirim!


Tapi jawaban serta kesadaran itu datang terlambat. Jean yang telah turun dari kudanya langsung melesat ke arah dirinya dengan kecepatan yang sangat tinggi!


Vichy berusaha menangkis tebasan pedang yang musuhnya ayunkan, tetapi yang tidak dia sangka adalah tenaga milik musuhnya jauh lebih besar daripada dirinya! Dia merasa sendinya bergeser ketika dia menahan serangan lawannya!


Tapi itu belum semua. Jean melepas serangan bertubi-tubi ke arahnya. Ayunan pedangnya sangat elegan tapi di saat yang sama juga berbahaya. Kintamani tidak bisa diikuti oleh mata dan kecepatan ayunannya tidak bisa diikuti oleh gerakan manapun.


Vichy segera merasa frustasi. Dia dengan acak menangkis serangan yang dilancarkan lawannya. Tetapi tidak berapa lama kemudian, dia merasakan sakit yang amat sangat dari bagian tangan kirinya. Seketika itu juga dia melihat tangannya telah melayang.


Vichy menjerit kesakitan. Tapi sebelum teriakannya selesai, kaki kanannya juga telah terputus. Dan kali ini dia tidak bisa berteriak karena kepalanya telah terpisah dari tubuhnya. Vichy tewas saat itu juga.


Jean tersenyum. Tubuhnya berlumur darah. Bau amis masuk ke dalam hidungnya namun dia tidak memedulikan hal itu. Dia segera menusukan pedangnya ke kepala Vichy yang telah mati lalu mengangkatnya tinggi-tinggi.


"KOMANDAN KALIAN, VICHY, SUDAH MATI!"


Teriakan itu adalah tanda bahwa peperangan telah berakhir.

__ADS_1


__ADS_2