
Kastil Duke Eisen adalah bangunan terbesar di Nebelhorn City. Bangunannya bisa terlihat dari semua sisi kota. Meskipun besar, arsitektur dan interiornya benar-benar sederhana. Namun batu yang dipakai untuk membangun kastil tersebut adalah batu dengan kualitas terbaik yang bisa ditemukan di kawasan pegunungan Ural.
Kastil tersebut setidaknya di jaga oleh 200 ksatria terbaik yang bisa Duke Eisen rekrut. Mereka tersebar di berbagai titik dan selalu siaga. Siap dikerahkan kapanpun Duke Eisen membutuhkannya.
Sejauh ini, kastil Duke Eisen selalu berada dalam kondisi yang aman. Tidak pernah sekalipun ada yang berani membuat masalah di kastilnya, seolah-olah tempat itu adalah katedral suci yang pantang untuk dikotori oleh siapapun.
Di dalam kediamannya yang besar, Duke Brandon Eisen sedang menjamu seorang tamu. Tamunya adalah seorang pria kurus paruh baya. Pakaiannya terlihat bagus dan mahal. Usianya mungkin berada di angka 40-an. Meski begitu, semangat hidupnya masih sangat terasa.
Duke Brandon Eisen terlihat sangat senang dengan kehadiran tamunya. Matanya berbinar dan dia tidak bisa menyembunyikan niatnya sama sekali.
"E-he-ehehe....jadi...tuan, apakah anda benar-benar bisa menyelesaikan masalah yang sekarang sedang kami hadapi? A-ah, te-tentu saja kami tidak akan menggunakan jasa anda dengan gratis! Kami pasti akan membayar anda dengan layak!"
Duke Brandon Eisen mengatakan itu sembari menggosok-gosok tangannya. Sesekali, dia mengelap keringat yang mengalir dari dahinya menggunakan sapu tangan.
__ADS_1
"Tentu saja, yang mulia Duke. Demi membalaskan dendam kepada orang itu, saya akan membantu anda dengan segenap hati dan tenaga saya. Saya juga tidak membutuhkan bayaran sama sekali."
Mendengar apa yang tamunya katakan, Duke Brandon Eisen langsung sumringah. Dia membayangkan kalau impiannya segera tercapai dengan memanfaatkan orang yang ada di depannya.
"Tidak ada masalah sama sekali, tuan Goln. Kami akan memberikan apapun yang anda butuhkan selama anda bisa membantu kami."
Goln adalah pria yang Duke Brandon Eisen temukan di bekas kerajaan Dublin berkat kontak yang berlangsung antara dirinya dan mata-mata yang dia kirim ke sana. Dia telah membaca riwayat Goln. Seorang pria yang dulunya menjadi tangan kanan paling setia milik Duke Cassilas.
Dia adalah maestro dibalik semua strategi yang dimainkan oleh Duke Cassilas. Berdasarkan catatan dari riwayat hidupnya, Duke Cassilas mungkin sudah kehilangan kekuatannya sejak lama.
Dan disinilah dia sekarang. Berlindung di wilayahnya dan mencari kesempatan untuk membalaskan dendamnya. Orang seperti ini memang problematik. Tapi kecerdasannya benar-benar dibutuhkan.
Duke Brandon Eisen tidak menghabiskan waktunya. Dia langsung membeberkan beberapa kekhawatirannya mengenai ketidakpastian hubungan antara negerinya dengan bekas kerajaan Dublin.
__ADS_1
Dia tidak menutupi fakta kalau dirinya takut dengan pergerakan agresif yang dilakukan oleh rezim yang baru saja memegang kendali atas kerajaan tetangganya. Tentu saja, dia menutupi ambisinya yang berniat untuk menaklukan kerajaan yang dia anggap tidak stabil dan berada dalam posisi terlemahnya itu.
Namun, sebagai orang yang tajam, Goln memahami apa yang lawan bicaranya pikirkan. Meskipun begitu, dia tetap mendengarkan Duke Brandon Eisen hingga selesai bicara.
"Begitu. Anda mau agar para Bajingan itu tidak Bergerak seenaknya, kan?"
Duke Brandon Eisen mengangguk.
"Kalau begitu tidak terlalu sulit. Anda pasti telah memahami kalau Dublin memiliki ketergantungan yang luar biasa dengan bijih logam yang berasal dari wilayah anda.
"Hentikan penjualan logam yang anda hasilkan pada mereka dan biarkan para Bajingan itu kesulitan untuk membuat senjata. Mereka pasti tidak akan berani macam-macam dengan yang mulia Duke Eisen."
Apa yang Goln katakan masuk akal. Dengan menghentikan perdagangan bijih logam ke bekas kerajaan Dublin, mereka pasti akan terseok-seok dan mengemis pada dirinya untuk membuka kembali keran perdagangan bijih logam. Di saat itulah, Duke Brandon Eisen akan mengulik keuntungan untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Goln juga meyakinkannya kalau Duke Brandon Eisen tidak perlu khawatir dengan pasokan makanan yang bergantung pada kerajaan Dublin. Dia bisa membuka hubungan perdagangan dengan kerajaan yang terletak di dataran rendah lainnya sebagai alternatif.
Duke Eisen tersenyum lebar. Mengetahui kalau masa depannya akan menjadi sangat cerah, tawa mulai keluar dari mulutnya. Membuat ruang belajarnya dipenuhi oleh tawanya yang kencang.