Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Vs Kingdom Of Silesia (1)


__ADS_3

Sementara perang berkecamuk, pagi itu Natasha sedang duduk di depan mejanya. Sepagi ini, dokumen yang harus ia buat atau yang ia tanda tangani sudah sangat menumpuk. Semakin ke sini, beban pekerjaan miliknya juga semakin berat.


Tapi karena satu alasan, staminanya selalu terjaga. Dia seringkali terlihat segar terlepas dari betapa banyaknya pekerjaan yang ia lakukan. Dia tidak menyembunyikan apapun. Satu-satunya penyebab kenapa dia tidak pernah terlihat lelah adalah cincin yang ia pakai.


Benar, cincin yang Jean berikan selalu memberikan [Earth energy] ke dalam tubuh Natasha (dan kekasihnya yang lain) lalu secara otomatis membuang energi kotor yang ada di dalam tubuh mereka. Bagaimana jika cincin tersebut di lepas? Yah, efeknya tidak akan hilang.


Kembali ke Natasha. Meskipun wajahnya terlihat tenang, gestur tubuhnya memperlihatkan seolah-olah ia sedang resah karena satu hal.


Ini semua tentang musuhnya kali ini, kerajaan Silesia. Tidak, dia sungguh tidak mengkhawatirkan Rose, sebenarnya. Dengan kemampuan yang Rose miliki, Natasha yakin bahwa Gadis itu pasti berhasil mengalahkan kerajaan Silesia.


Pada dasarnya, yang ia khawatirkan justru para bangsawan yang telah 'menjual' kesetiaan mereka pada dirinya. Dengan penuh keindahan, mereka mendeklarasikan diri mereka sendiri sebagai pengawal setia kerajaan yang baru.


Natasha bukan wanita yang naif. Para count yang datang kepadanya jelas bukan sekelompok orang yang loyal. Sebaliknya, mereka adalah pengecut yang siap mengkhianati Natasha kapan pun ketika hal menyenangkan tidak lagi berada di pihaknya.


"Kalau itu Jean.... Hahh, dia sudah pasti tidak akan ragu untuk menghabisi mereka sejak awal. Mungkin, dia juga akan menghabisi seluruh keluarga mereka hingga ke akar-akarnya. Fufufu, aku jadi merindukanmu, sayang. Kapan kamu akan kembali huh?"


Natasha tertawa kecil. Tentu saja, Jean berada di level yang lain. Meski dari luar Jean terlihat sebagai orang yang lembut, supel, dan periang, Natasha sangat mengetahui bahwa Jean adalah orang yang sangat dingin dan kalkulatif.


Ia akan memakai cara apapun untuk mencapai tujuannya. Bahkan jika itu harus membunuh banyak nyawa atau menghancurkan dunia sekalipun.


Tentu saja, Jean memang seperti itu. Setelah semua hal yang mereka lalui bersama, demikian lah kesimpulan Natasha. Meski begitu, Jean sangat menghargai orang-orang yang terikat dengannya.


Yah, membandingkan dirinya dengan Jean memang tidak ada gunanya. Natasha punya caranya sendiri untuk berurusan dengan orang-orang seperti mereka. Dan dalam peperangan ini, Natasha dan Rose sudah sepakat untuk hal tersebut.

__ADS_1


"Sekarang, aku serahkan sisanya padamu, Rose-ku yang tersayang."


***


Meriam-meriam masih menyalak. Medan pertempuran segera menjadi arena pertumpahan darah. Meriam yang digunakan oleh Rose terbukti menjadi efek deteren kepada musuh. Barisan mereka menjadi kacau balau karena panik.


Para prajurit yang berpengalaman di pihak kerajaan Silesia berusaha untuk menyusun ulang formasi mereka. Namun para milisi yang kebanyakan adalah petani tetap kalang-kabut.


Melihat hal tersebut, Rose mengangguk ringan. Meski korban dari serangan meriam dan balistik tidak begitu banyak, kepanikan yang terjadi di pihak kerajaan Silesia membuktikan bahwa fase pertama dari taktiknya telah sukses.


"Nona Rose, bolehkah saya memimpin para ksatria saya untuk menghancurkan musuh yang sudah terpecah-pecah?"


Salah seorang pria menghampiri Rose. Ia adalah lelaki berusia awal 40-an. Memiliki rambut berwarna pirang dengan sedikit keriput di wajahnya, matanya memancarkan ambisi yang menyala-nyala.


Kerutan muncul di dahi pria yang memiliki status sebagai count tersebut. Sebuah nadi muncul di dahinya. Dia jelas tersinggung dengan Rose yang tidak mendengarkan pertanyaannya sejak awal.


Ya, dia adalah count Lombard. Salah satu dari beberapa count yang menyatakan kesetiaannya untuk Natasha. Dia ada di sini sebagai bala bantuan untuk Rose. Juga, untuk mencapai wilayah kerajaan Silesia, Rose dan pasukannya harus melewati wilayah Lombard.


Dari 10.000 pasukan Rose, 3000 diantaranya adalah ksatria pribadi milik keluarga Lombard. Sebenarnya, count Lombard sendiri enggan untuk datang sebagai bantuan. Namun saat Rose memberikan dirinya sebagian besar bantuan keuangan dan beberapa janji lainnya, keberatan itu langsung hilang.


"Saya akan mengulanginya sekali lagi, bisakah saya membawa pasukan saya untuk menghancurkan barisan musuh yang sedang dilanda kepanikan!?"


Ada penekanan dalam pertanyaan tersebut. Rose bisa memahami keinginan kuat count Lombard untuk memanfaatkan kesempatan ini demi mendapatkan rasa senang dari dirinya dan Natasha.

__ADS_1


Rose berpikir keras. Seolah tidak ada pilihan lain, Rose mengangguk.


"Baiklah, yang mulia Count Lombard. Pimpin lah ksatriamu untuk menghancurkan musuh! Atas nama yang mulia ratu Natasha, saya akan memberikan hadiah jika berhasil melaksanakan tugas mulia ini!"


"Dimengerti, Nona Rose! Kalau begitu, saya akan segera berangkat!"


Count Lombard menaiki kudanya dan segera kembali ke kemahnya yang terpisahkan dari kamp utama. Rose hanya memandangi punggung count Lombard hingga dirinya tidak terlihat lagi.


***


"Cih, wanita jelata itu.... Berani-beraninya dia mengabaikanku!"


Ditemani oleh punggawanya, Count Lombard mempersiapkan diri untuk terjun ke Medan perang. Rasa marahnya belum hilang karena Rose yang sudah merendah dirinya secara tidak langsung.


Mau bagaimana pun, dirinya adalah Bangsawan sementara Rose adalah seorang jelata. Meski gadis itu mendapat tempat terhormat di militer, darah kotor seorang jelata tetap mengalir dalam diri wanita itu!


Count Lombard memutuskan untuk menyimpan amarahnya dan fokus ke peperangan yang ada di dihadapannya.


Kalau misinya berhasil, dia akan meminta meriam, balistik, dan senapan musket itu untuk dirinya. Dengan begitu, status dan kemampuan militernya akan meningkat. Dengan itu ia bisa menekan bangsawan lainnya.


Natasha jelas akan memberikannya jabatan strategis di pusat kerajaan. Count Lombard tidak sabar untuk menunggu hari itu tiba.


Semua pasukannya sudah berkumpul. 2.700 infanteri dan 300 kavaleri. Dengan semangat tinggi, count Lombard memimpin pasukannya ke jantung musuh begitu tembakan meriam terhenti.

__ADS_1


Hari itu, takdir count Lombard telah ditentukan.


__ADS_2