
Gio kembali ke rumah sakit untuk melihat kondisi ibunya lagi..dia mendapat telepon dari daddynya bahwa ibunya sudah sadar.. Gio tak mau membuang waktu lagi dia segera berlari menuju mobil dan melesat menuju rumah sakit.
Sampai di rumah sakit Gio menuju ruangan Laura..dia masuk dan melihat keluarga nya sedang berkumpul ada Samuel..Alana..dan Vanya juga.
"Mommy..oh my mom" ucap Gio tanpa malu.
"Gio..kau datang boy..?" tanya Laura lirih.
"Sst..apa yang mommy katakan.. Gio pasti datang.. bagaimana keadaan mommy..sudah baikan..apa masih ada yang sakit..apa perlu Gio panggilkan dokter..?"
Jetak......
Satu jitakan mendarat mulus di kepala Gio dari sang Daddy yang sudah kesal mendengar ocehan Gio.
"Bisa diam tidak..kau tau Mommy baru sadar tapi kau malah memberondong Nya dengan banyak pertanyaan.. bisa-bisa Daddy ikat mulutmu dengan karet nasi bungkus" ucap sang Daddy kesal.
"Apa sih dad..namanya juga orang khawatir..Daddy rese..mom lihatlah anakmu yang tampan ini di jitak oleh orang tua itu"
Plak....
Satu pukulan mendarat di bahu Gio kali ini dari Genie yang kesal dengan sang kakak karena mengatai Daddy nya orang tua walau sebenarnya benar apa yang Gio ucapakan.
"Ka Gio durhaka ihhh.. tua-tua begini juga masih tampan iya kan mom..?" ucap Genie membela sang Daddy.
"Yayaya terserah kau saja anak kecil".
"Ishhh nyebelin..tau ah..Daddy mau Genie pijitin tidak tapi 500dolar ya dad sekali pijit hehe"
"Kau ini..matre sekali sih.. Mommy mu saja tidak matre..."
"Namanya juga anak Daddy..Genie ini ketularan aunty Vall yang suka ngumpulin uang"
"Astaga..istrinya si Willy benar-benar sudah menyebarkan virusnya pada anakku"
Semua yang ada di sana tertawa melihat jawaban blak-blakkan dari Genie..memang sifat Genie cenderung lebih ke Vallery mungkin dia di didik oleh Vallery saat masih kecil dulu untuk menjadi muridnya.
"Aunty Vanya bagaimana keadaannya..?" tanya Gio.
"Aunty baik-baik saja Gio..sebentar lagi juga boleh pulang"
"Syukurlah..maaf Gio nggak sempet ngunjungin aunty..maafin Gio"
"It's ok boy"
Skip>>>>>>>>
Seminggu sudah Laura di rumah sakit..dia sudah boleh pulang hari ini.. Gio juga ikut mengantarkan Mommy nya.. Gio menggendong Mommy nya di depan Rey..tentu saja Rey mendelik tak suka..jatahnya di ambil lagi oleh bocah itu.
__ADS_1
"Sudah Gio tau yang Daddy pikirkan..ingat encokmu dad..nanti Mommy kenapa-kenapa bagaimana..ck..CK..CK"
"Terserah kau saja boy.. menyebalkan"
"Sudah by..mengalah saja..dengan anakmu juga kan..bukan pria lain" ucap Laura menengahi.
"Baiklah baby..aku mengalah kali ini demi kebaikan mu"
Mereka tertawa melihat wajah pasrah Rey..sungguh jika anak dan ayah sudah bersaing begini lah jadinya.
Sampailah mereka di rumah..kali ini Gio kalah cepat dengan Rey..Rey lebih dulu menggendong Laura masuk..dia tak mau jatahnya di ambil lagi oleh anak nakal itu.
"Astaga Daddy ngeselin banget sih..udah Gio bilangin nanti encokmu kumat gimana dad..?"
"Udah diem nggak usah banyak omong..Daddy masih sanggup menggendong istri Daddy..bwek"
Gio hanya memasang wajah kesalnya tapi bibirnya mengulas senyum..dia senang dan bangga memiliki Daddy seperti Rey.
Gio pamit untuk menuntaskan pekerjaan nya yaitu mengakhiri hidup bajingan itu..dia pamit pada orang rumah dengan alasan untuk pertemuan penting karena tak mau membuat para ladies cemas.
Sampailah Gio di markas kematian..markas yang sudah puluhan tahun Daddy nya gunakan untuk melenyapkan bedebah dan cecunguk sekarang dia gunakan untuk melenyapkan bedebah dan cecunguk juga menggantikan sang Daddy.
"Siapkan segalanya akan ku akhiri mereka hari ini juga"
"Siap bos"
Gio memasuki ruangan kemarin..dia melihat kesepuluh jari tangan Remon sudah membusuk..dia tersenyum melihat mangsanya sudah tak berdaya..inilah hukuman yang pantas mereka dapatkan karena berani mengusik ketenangan keluarga nya.
"Baik bos"
Anak buah Gio menyeret paksa Remon yang sudah tidak memiliki tenaga lagi..dia hanya berharap semoga kematian segera menghampirinya..dia lebih baik mati daripada menanggung siksaan dari iblis semacam Gio.
"Aku tak mau berlama-lama..nikmatilah siksaan dariku bedebah"
Gio mengambil palu dan mulai menggeprek jari kaki Remon..tidak ada suara teriakan hanya jeritan dari Avril saja yang terdengar.
Gio terus melakukan kegiatannya sampai habis kesepuluh jari kaki Remon di gepreknya.. Gio tak mau berlama-lama..dia mengambil sebuah pisau untuk menguliti Remon.. sebelumnya Gio membakar rambut Remon menggunakan api dan bensin.
"Waktunya mengakhiri hidupmu bedebah..ingat jika kau terlahir kembali dan menjadi manusia brengsek lagi maka aku akan datang sebagai malaikat maut mu lagi.. beristirahat lah di neraka"
Gio memotong kaki dan tangan Remon..dia berikan pada dua hewan buas kesayangan nya yang sudah antri ingin di beri hadiah.
"This is for you Tiger..and this for you Wolfy"
Mereka memakan potongan tangan dan kaki Remon dengan senang..lapar yang mereka rasakan terbayar lunas dengan hadiah dari Daddy nya.
Avril meringkuk memeluk dirinya melihat bagaimana Gio menghabisi Remon.. seprtinya dia sudah salah mencari lawan..dia tak bis berbuat apapun lagi selain menunggu waktu nya.
__ADS_1
"Tuan tolong lepaskan aku..aku hanya di paksa oleh Remon tuan.. ampunilah aku "
Gio yang saat itu tengah asik memotong setiap bagian tubuh Remon mengalihkan pandangannya ke arah Avril dan menatap tajam kearah nya.
"Tunggulah hukuman mu..kau akan bernasib sama dengan bedebah ini"
Gio kembali melakukan pemotongan itu..Remon sudah semakin lemah..dia tak punya tenaga lagi..nafasnya semakin sulit..kematian belum juga menghampirinya.. Gio hanya bermain dengan tubuhnya..dia memilih mati daripada di siksa seperti ini.
"Sepertinya kau sudah sangat tidak sabar bertemu dengan Tuhan Remon.. baiklah segera aku kabulkan..ambilkan katana ku"
"Baik bos"
Anak buah Gio mengambilkan senjata kesayangan Gio..mereka menyerahkan senjata itu pada Gio.. Gio tersenyum melihat benda kesayangannya.
"Sudah saatnya kau bermain darah lagi.. lakukan tugasmu dengan benar"
Gio menebas leher Remon..sekali sabetan dan.
Dugh....
Jatuhlah kepala Remon ke lantai.. Gio tersenyum..tak sampai di situ saja.. Gio kembali melakukan pemotongan menggunakan gergaji..dia memberikan setiap Potongan tubuh Remon pada Tiger dan Wolfy.
"Habiskan boy jangan kau sisakan..free for you guys"
Gio menyerahkan sisanya pada anak buahnya..dia beralih menatap Avril yang sudah sangat ketakutan melihat aksinya.
"Now it's your time"
"Keluarkan dia"
"Baik bos"
Gio duduk sebentar..dia lelah setelah melakukan pemotongan tadi..dia melihat kedua peliharaan nya melahap setengah dari tubuh Remon..senyum mengembang di wajahnya.
"Ambilkan cambuk kawat kesayangan ku"
"Siap bos"
Gio hanya menatap datar Avril..dia tak peduli dengan rengekan dan permohonan ampun dari Avril dia hanya ingin membalas kesakitan calon mertuanya.
"Ini bos"
"Thanks.. sekarang giliranmu nona"
"Pegang dia.. berdiri"
Gio mencambuk punggung Avril menggunakan cambuk kawat itu.. cambuk itu berlapis kawat berduri yang sengaja Gio siapkan untuk para cecunguk.
__ADS_1
"Ampunnnn..akhhhh sakit....ampun...akhhhh"
Gio tak peduli..mau wanita atau laki-laki jika salah maka dia akan babat habis sampai akarnya..seharusnya mereka berpikir dua kali lagi sebelum melakukan tindakan bodoh pada keluarga nya.