
Pagi hari seperti biasa matahari mulai menyingsing tinggi di atas gedung pencakar langit tempat sepasang pengantin baru itu melakuakn reproduksi anak.
El sudah bangun sejak tadi dia melihat wajah elok sang istri yang masih terlelap dalam mimpinya..dia suka ekspresi Gia semalam..El jadi tersenyum-senyum sendiri mengingat betapa panasnya malam mereka.
"Kau cantik sekali Sweetie.. beruntungnya aku menjadi pendamping mu..aku takkan melepaskan mu Sweetie..Te amo querida"
El mengecup kening Gia sebentar..tatapan matanya tertuju pada sprei yang sudah ternoda dengan selai strawberry milik Gia..El lagi dan lagi tersenyum melihat noda itu.. beruntung dia jadi yang pertama untuk Gia.
El membersihkan diri karena tubuh nya lengket akibat sisa-sisa lumpur Lapindo yang dia semburkan semalam..El berharap semoga bibir unggul nya segera tumbuh dam mengembang di rahim Gia dan menjadi penerusnya kelak.
Selesai dengan urusan mandinya..El memesan makanan untuknya dan juga istrinya..dia jadi lapar karena semalam mereka hanya makan sedikit saja dan ketika mengingat betapa oanas dan membara nya permainan mereka semalam perutnya jadi meronta-ronta ingin di beri asupan.
Gia menggeliat dan membuka matanya ketika jendela kamar terbuka sedikit dan menerangi kamar mereka..Gia merasakan tubuhnya benar-benar sakit dan pegal-pegal akibat El yang begitu bringas ingin memproduksi anak.
"Morning kau sudah bangun Sweetie..?"
El mendekati Gia dan mengecup kening dan bibir Gia..Gia tersenyum meski badannya sekarang benar-benar remuk.
"Morning too husband"
"Mandilah sebentar lagi makanan nya datang"
"Iyah.."
Gia mencoba bangun tapi sayang area intinya sakit..dia meringis ketika merasakan sakit di area terlarangnya..El melihat ekspresi kesakitan pada wajah Gia dia bertanya pada Gia.
"Arkhhhh..ssshhh"
"Sweetie..are you ok..?"
"Arkshh..tidak apa-apa El..hanya shhh"
Mati-matian Gia menahan sakit di area intinya agar El tidak merasa bersalah.
"No..kau kesakitan Sweetie..katakan apanya yang sakit Sweetie"
Gia menunjuk ke area intinya..wajahnya merona..dia malu harus menunjukkan nya pada El..adalah lubang di sana biar Gia bisa masuk ke lubang itu dan menghilang.
"Astaga Sweetie..maafkan aku"
__ADS_1
Kan pasti begini,.huhh sudahlah dia sangat ingin mandi karena tubuhnya lengekt akibat sisa semburan lumpur Lapindo milik El.
"Bantu aku mandi El..".
"Of course Sweetie...ayo aku gendong"
El menggendong Gia dengan perlahan..dia jadi merasa bersalah pada Gia karena sudah membuatnya sakit.
Setelah acara mandi selesai..maknan yang El pesan juga datang..El mengambil pesanan nya kemudian masuk lagi kedalam kamar dan menghampiri Gia yang sudah berias di depan meja rias.
"Sweetie ayo sarapan"
"Iya.. sebentar"
Selesai dengan riasan tipisnya Gia bangkit dan menuju sofa yang ada di dalam kamar itu..Gia duduk di samping El dan mengambil makanannya..Gia menyuapi El juga dirinya sendiri..sesekali terdengar candaan dari keduanya..sungguh adem ayem melihat keduanya..maklum masih anget-angetnya.
Skip>>>>>>>>>>>
"Via bagaimana pekerjaan mu nak..apa ada kesulitan..?" tanya Erick pada putri nya.
"No dad,.ka Gio dan yang lainnya selalu memantau dan mengajari Via.. don't worry dad"
"Baiklah..Daddy tidak perlu khawatir lagi..kau sudah besar nak"
"Hey apa maksudmu jangan mulai..Daddy hanya berkata bahwa kau sudah dewasa sekarang..Daddy tidak akan memaksamu menikah..Daddy membebaskan mu mencari pasangan yang mencintaimu sayang..tenang saja Daddy tidak seperti mommy"
"Oh Daddy i love you"
Ayah dan anak saling berpelukan.. Erick bersyukur bisa menjadi ayah yang baik untuk anak-anaknya..dia akan berusaha lebih baik lagi agar anaknya dapat di banggakan di masa depan.
"Hey apa yang kalian lakukan.. kenapa tidak mengajak mommy hm..?"
"Mommy.."
"YESS baby.."
"Love you mom..dad.. Via janji akan menjadi anak yang bisa membanggakan kalian"
"Oh sweetheart kau manis sekali.. terimakasih sayang..mommy selalu bangga padamu apalagi jika kau segera menikah dan memberikan cucu untuk mommy wah pasti mommy akan lebih bangga padamu"
__ADS_1
"Mom jangan mulai deh..apaan sih Via masih pengin sendiri sampai sukses"
Via beranjak dan meninggalkan kedua orangtuanya..selalu saja Mommy nya itu membahas mengenai pernikahan.. Via masih belum mau pacaran dia masih ingin mengejar mimpi nya yaitu menjadi pengusaha sukses.
"Kau itu kenapa sih sayang jangan begitu biarkan Via memilih jalan nya sendiri"
"Aku hanya ingin segera memiliki cucu yank.."
"Iya ada masanya sayang..jangan selalu membahas tentang pernikahan pada anak-anak..kau mengerti..?"
"Iya iya..maafkan aku "
Erick hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Nila yang semakin menginginkan cucu..dia kasihan pada anak-anak nya yang selalu di tanya kapan nikah..ingin marah tapi tidak tega..tidak marah tapi dongkol..huhh ntahlah.
Skip>>>>>>>>>
"Rachel cepat pergi dari rumah ini.." ucap seorang wanita cantik yang tengah berdiri di hadapan Rachel.
"Tapi Achel harus kemana kalau pergi dari sini..?"
"Terserah..sekarang pergi"
Terlihat wanita itu menyeret Rachel meninggalkan rumah yang sudah Rachel tempati selama 2 tahun itu..setelah di usir dari rumah mendiang ibunya kini Rachel harus di usir dari rumah peninggalan nenek baik hati yang menolongnya dua tahun silam.
"Vivi tolong jangan usir Achel dari sini..Achel tidak punya tempat tinggal lagi..hiks..tolong Vivi"
"Tidak..pergi dari sini..rumah ini sudah aku jual..ini rumah nenekku..jadi aku berhak atas rumah ini sekarang pergi dan jangan kembali lagi "
Rachel akhirnya pasrah..dia pergi dengan membawa bajunya di ransel yang sudah Vivi masukkan tadi..Rachel tidak tau harus kemana dia pergi..dia tidak punya tempat tinggal..uang hanya cukup untuk bertahan hidup 3 hari karena selama dia sakit dia tidak bekerja juga banyak pengeluaran untuk klinik dan menebus obat.
Rachel berjalan menyusuri jalan..dia beberapa kali mengusap air matanya yang luruh begitu saja..andai dia tidak bodoh..andai dia sedikit pintar pasti dia bisa bekerja di tempat yang sedikit layak dan memiliki gaji yang lumayan bisa menopang hidupnya.
"Mommy Achel harus kemana..Achel tidak tau..Achel bingung mom"
Dia duduk di tepi danau tempatnya biasa menuangkan kesedihannya..dia menangis sesenggukan di tepi danau itu..tak ada orang yang melihatnya..dia bahkan berteriak mengungkapkan perasaan nya.
"KENAPA KALIAN TEGA SAMA ACHEL.. KENAPA..ARGHHHHH"
Rachel begitu terpukul dengan kejadian hari ini..entahlah sekarang dia harus kemana..dia tak punya teman,dan tujuan..biarkan saja dia lontang Lantung di jalanan..dia sudah pasrah akan nasibnya kelak.
__ADS_1
Di saat Rachel berjalan tak tentu arah.. tiba-tiba Rachel menyerang jalan tanpa menengok kanan dan kiri..sebuah mobil tak sengaja hampir menabraknya..sang pemilik mobil keluar dan menghampiri Rachel yang tengah menunduk sambil terisak.
"Rachel........"