PURA-PURA BUTA

PURA-PURA BUTA
Cap 49 #S2_Ava Yang Malang


__ADS_3

Keesokan harinya..........


Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang..Gia sudah berada di markas untuk menyelesaikan pekerjaan nya..dia masih punya satu tawanan tersisa..sudah waktunya untuk mengakhiri semuanya.


"Persiapkan segalanya aku akan mengakhiri nya hari ini"


"Baik nona"


Di saat Gia sedang mempersiapkan segala nya tiba-tiba datanglah Gio dengan raut wajah kesalnya menghampiri Gia.. Gio menjitak keras pada kepala Gia..adiknya ini benar-benar tidak bisa di pahami.


Jetakkkk......


"Arkhhhh..Kakak apaan sih..sakit tau"


"Kau yang apa-apaan..sudah berapa kali kakak bilang jangan pernah melakukan eksekusi sendirian..kau itu nakal sekali sih.. bagaimana kalau Daddy tau hah..bisa di hajar habis-habisan kakak kau tau"


"Ishhhh asal nggak ada yang ember pasti Daddy nggak akan tau"


"Seenak jidat kau ngomong begitu..ingat ini yang terakhir untukmu..kakak nggak mau kau mempunyai sisi lain.. kau itu sudah seperti psycopat Gia..kakak hanya tidak mau kau mempunyai kecenderungan dengan bau darah..kakak susah payah untuk melawan itu tapi selalu gagal..kakak tidak mau kau juga mengalaminya Gia..apa kau paham..?"


"Iya maaf..ini yang terakhir"


Gia juga merasa aneh akhir-akhir ini..dia selalu merindukan eksekusi..kadang dia bermimpi meminum darah korbannya..kadang juga tiba-tiba terlintas di pikiran nya untuk membunuh seseorang.


Gia semakin tidak terkendali jika terus dibiarkan melakukan eksekusi.. Gio sebagai kakak tidak mau Gia mengalami hal yang sama dengannya..dia saja sudah susah payah untuk menekan hasrat haus darahnya..dia tak mau Gia juga mengalaminya.


"Baiklah lakukan dengan cepat..kakak akan mendampingi mu"


"Iya ka..huhhh Gia janji ini yang terakhir"

__ADS_1


"Hm..Kaka percaya" tapi dalam hatinya Gio was-was.


Gia mulai mengambil lempengan besi yang sudahi panaskan terlebih dulu..anak buah Gio sudha mempersiapkan segala nya Gia hanya tinggal melakukan tugasnya yaitu mengakhiri hidup Ava.


"Aku punya satu pertanyaan untukmu nona Ava..jika kau berkenan maka jawab saja tapi jika tidak terserah kau saja..mengapa kau begitu membenciku selain alasan keluargamu..?"


Ava terdiam.. dia sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk sekedar menjawab..dia tidak punya alasan lagi untuk diam..toh diam atau tidak sama-sama akan mati.


"Aku benci kau merebut Lionel dariku.. bertahun-tahun lamanya aku mengangumi nya dalam diam tapi karena kehadiran mu Lionel semakin jauh untuk kugapai..kau membuat rencana ku berantakan sialan..aku membenci mu..tidak cukupkah Keluarga mu menghancurkan keluarga ku hah..?" ungkap Ava menggebu-gebu boada Gia.


Gia tersenyum..dia jadi tau alasan pastinya Ava membenci dirinya..ternyata cinta dalam diam juga sepihak..sangat di sayangkan.


"Hahahaha...hahahahha kasihan sekali nasibmu Ava..hahahhaa..aduhh.. perutku sampai sakit..ekhem..kau salah jika kau membenciku..harusnya kau salahkan dirimu sendiri yang tidak bisa mengungkapkan perasaan mu pada nya..jika kau mempunyai keberanian sedikit saja bisa jadi El akan mencintaimu sebelum dia mengenalku..kau terlalu bodoh..di mana kau di saat wajah El rusak..dimana kau di saat El di ambang kematian..dimana kau Ava..dimana..


Kau hanya tau El sudah sempurna..kau tak tau betapa dia tersiksa dengan kondisinya..kau hanya mau enaknya saja tanpa peduli bagaimana dia berjuang agar bisa kembali seperti semula..dia harus menerima olok-olok dari orang-orang karena wajahnya yang tak sempurna..dia bahkan malu untuk sekedar berjumpa dengan temannya..sampai dia di culik dan hampir di bunuh..untungnya saat itu dia bersamaku..para penculik bodoh itu menganggap aku sebagai keluarga nya..hahaha sungguh awal pertemuan yang tak terduga".


Gio masih memperhatikan perubahan ekspresi Gia dari waktu ke waktu..adiknya persis seperti dirinya di awal-awal dulu.. Gio masih mendengarkan kata-kata Gia..dia akan menemui pria yang sudah merebut hati Gia.


"Karena aku sudah bertemu dengan El beberapa kali dulu..kau pasti tak menyangka kan..tapi itulah kenyataannya..aku tak mau menceritakan kisah pertemuan ku dengan El dulu karena akan membuatmu semakin di landa kebencian terhadap ku"


Ava terdiam..semua yang Gia katakan benar adanya..di saat El terpuruk dia bahkan tak melihat nya..dia memilih pergi mencari sampingan cintanya..di saat wajah El sudah kembali seperti semula dia mulai mendekati El lagi.. pantaskah dia sebut itu cinta atau hanya sekedar obsesi semata.


"Sudahlah jangan banyak berpikir..waktumu sudah habis nona Ava"


Gia mengambil lempengan besi panas itu dan menyuruh anak buah Gio untuk memegangi tangan Ava.. Gia mulai menempelkan lempengan besi panas itu pada wajah cantik Ava..seketika tercium aroma daging bakar yang membuat Tiger dan Wolfy mengaum.


"Arghhhhh panas.... sakitttttttt..lepaskan akuuuuuuu..arghhhhh"


Gia tak memperdulikan teriakan Ava..Gia tersenyum melihat kesakitan Ava..dia puas melihat wajah Ava yang rusak..dia mencabut kembali lempengan besi panas itu dari wajah Ava.

__ADS_1


Wajah Ava terlihat menghitam dengan pipi yang berlubang sebelah dan memperlihatkan daging yang sepertinya sudah matang dan masih mengepul mengeluarkan asap dan aroma daging bakar yang menggugah selera Tiger dan Wolfy.


Gia mengembalikan lempengan besi itu kembali ke tempatnya..dia kemudian mengambil air keras dari botol khusus yang sudah biasa di gunakan Gio.


"Sudah saatnya kau menyusul rekanmu nona Ava..tenanglah di neraka dan jangan pikirkan El lagi karena aku sebagai tunangannya tidak rela milikku di sukai orang lain".


Setelah mengatakan itu Gia menuangkan air keras itu kedalam mulut Ava..seketika mulut Ava meleleh dan Ava sudah tak bernyawa lagi.. Gia tersenyum puas melihat akhir dari Ava yang menyedihkan.


"Kau sudah puas..?" tanya Gio ketika melihat aksi adiknya yang terbilang mirip dengannya waktu di awal-awal gejala.


"Belum..tapi ya sudahlah biarkan mereka membereskan sisa nya.. aku lelah"


"Mandilah setelah itu kita pulang..kau masih punya satu hutang penjelasan padaku"


"Hah..apa maksud mu ka..?"


"Sudah sana mandi dulu"


"Ishhh iya iya"


Gia mandi di ruangan Gio.. Gio duduk di ruangan yang sama dengan Gia.. Gio tengah memikirkan solusi terbaik agar adik perempuannya itu tidak memiliki kecenderungan yang sama dengannya.


"Sepertinya aku harus berbicara pada tunangannya.. Gia.. Gia..kau membuat kakak stres"


Gio merebahkan tubuhnya di kursi kebesarannya..dia memejamkan matanya untuk sekedar merilekskan pikiran nya..apakah dia harus mengatakan pada Daddy nya mengenai ini..oh shittt dia bisa gila lama-lama.


"Apa yang kau pikirkan ka..!"


"Tidak ada..kau sudah selesai..ayo pulang.."

__ADS_1


"Iya"


Gio membiarkan dulu sampai kondisi Gia bisa di katakan sedikit membaik..dia masih memantau perkembangan Gia..dia harus memastikan Gia tak mempunyai masalah yang sama dengannya sewaktu di awal dulu.


__ADS_2