
Elang sama sekali tidak bergeming dalam pingsannya. Zoe semakin khawatir dan cemas melihat kondisi Elang yang tidak sadarkan diri. Zoe mendekatkan wajahnya ke atas dadanya Elang, berulang kali dia lakukan hal yang sama. Raut cemas dan ketakutan sangat jelas terlihat di wajahnya.
"Ya Allah ini tidak mungkin, kenapa jantungnya berhenti berdetak, apa aku sebaiknya mencoba untuk memberikan nafas buatan saja?" Zoe nampak kebingungan dalam segala pertimbangannya.
Dia kemudian segera mendekatkan mulutnya ke atas bibirnya Elang. Dia memberikan nafas buatan hingga berulang kali. Tapi apa yang dilakukannya tidak membuahkan hasil apa pun.
"Tidak!!!!!" teriaknya Zoeya yang sangat kencang hingga menggema ke seluruh penjuru pantai malam itu.
Setelah berhasil mengantongi ijin dari Mamanya, Zoe segera berjalan ke arah garasi tempat mobilnya berada. Zoe hari ini bahagia karena bisa memiliki waktu luang untuk hangout bersama dengan beberapa temannya.
Kebetulan mereka pernah satu sekolah di Inggris. Zoe mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, dan mencari jalan alternatif yang tidak terdapat kemacetan.
Maklumlah daerah ibu Kota cukup padat merayap jalannya. Setiap harinya selalu saja terjadi kemacetan di mana-mana. Kebahagiaan jelas terpancar dari wajah cantiknya.
Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan temannya tersebut. Tanpa disadarinya, ada sebuah mobil yang mengikutinya sedari tadi, sejak mobilnya mulai meninggalkan kediaman orang tuanya.
Sedikit pun dia tidak tahu jika ada yang membuntuti mobilnya hingga sekarang. Mesin mobilnya sudah mati, Zoeya sudah keluar dari mobilnya. Dia tidak lupa bercermin di kaca jendela mobilnya dan memperhatikan dengan seksama penampilannya. Apa yang dilakukan olehnya tak luput dari pandangan seseorang.
"Kamu tetap cantik walaupun tidak berdandan," batinnya.
Mata setajam elang yang siap memangsa mangsanya itu, sedari tadi memperhatikannya. Zoya masuk ke dalam Kafe, dia berjalan perlahan menuju ruangan yang sudah dipesan oleh temannya.
"Hey!!" Teriak seseorang kearahnya.
Talia, Linda dan Septi adalah ke tiga sahabatnya saat sekolah di Inggris. Mereka tidak satu kelas,tapi setiap akhir pekan mereka akan berkumpul bersama. Apa lagi mereka adalah sama-sama dari Indonesia. Zoe mempercepat langkahnya menuju meja tempat temannya berada.
"Maaf yah sedikit terlambat, maklumlah jalan macet," tuturnya Zoe yang meminta maaf karena sudah terlambat datang.
__ADS_1
Mereka secara bergantian cipika cipiki lalu berpelukan satu sama lainnya.
"It's okay, just relax anyways we've only been here for a few minutes," jawab Talia.
"Kota Jakarta tidak mungkin bisa bebas dari kemacetan, setiap hari bikin mumet saja," timpal Septi.
"Selow gaes, bawa happy sajalah, dan hari ini aku yakin kalian tidak akan rugi datang ke sini," ucap Linda yang tersenyum penuh arti ke hadapan temannya.
Ke tiganya memandang Linda dengan wajah yang keheranan. Mereka saling melempar pandangan satu sama lain. Belum hilang kebingungan mereka, muncul empat orang pria yang lumayan tampan lah.
Itu terlihat dari wajah dan penampilan mereka. Linda yang melihat kekasihnya sudah datang, segera berdiri untuk menyambut kedatangan mereka. Linda sumringah melihat kekasih dan sahabatnya sudah datang.
"Maafkan datang terlambat, maklum mereka sangat sibuk jadi harus bersabar menunggunya," jelas Roi Pacarnya Linda.
"Tidak apa-apa kok sayang, Kami memakluminya kok, biasa pria sukses seperti kalian pasti sulit untuk membagi waktunya," timpal Linda.
Zoe hanya duduk manis di kursinya tanpa ada niat untuk ikut berbincang dengan mereka. Salah satu dari sahabatnya Roi tak henti-hentinya menatap ke arah Zoe, dengan senyumannya yang selalu tertuju pada Zoe.
"Kenalkan ini semua teman-temannya Roi, dan mereka adalah sahabat aku waktu sekolah di London," terangnya.
Mereka saling berkenalan satu sama lainnya. Giliran Andrew Andika sahabatnya Roi yang sedari tadi menatap Zoeya dengan tidak bosan-bosannya. Mereka berjabat tangan, berkenalan untuk lebih akrab lagi. Zoe hanya sesekali tersenyum menanggapi perbincangan mereka.
"Andrew," ucapnya lalu mengulurkan tangannya ke arah Zoe.
"Zoe," jawabnya singkat.
Talia yang memperhatikan gerak geriknya Andrew mengerti dengan arti pandangan dan tatapannya ke arah Zoe.
__ADS_1
Silahkan mampir juga ke novel aku yg lainnya ceritanya tidak kalah seru dengan My Queen Heart loh...
dilema diantara dua pilihan
cinta dan dendam
pelakor pilihan
hanya sekedar pengasuh
cinta ceo pesakitan
ketika kesetianku dipertanyakan
menggenggam asa
cinta kedua ceo
kau hanya milikku
Makasih banyak bagi kakak readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...
Tetap dukung my queen heart dengan cara like setiap babnya, rate bintang 5, favoritkan dan votenya serta komentarnya yah...
__ADS_1
Maaf jika banyak terdapat kesalahan dalam pengetikannya atau typonya...