Queen My Heart

Queen My Heart
Bab. 249


__ADS_3

"Sampai kapan pun aku tidak akan menerima kehadiranmu kau di rumah ini, dan bagiku kamu bukanlah Istri dari Papaku!!" teriak Arman yang sudah terbaring di kursi tamu.


Bu Elisah memerintahkan kepada para Security untuk membantu membawa Arman ke dalam kamarnya. Ia tetap membantu Arman untuk melepas sepatu Arman dan membuka pakaiannya yang sudah kotor penuh dengan noda muntahannya.


Pagi harinya, Arman terbangun dari tidurnya dan heran dengan pakaiannya yang sudah terganti dengan pakaian tidur. Arman berjalan ke arah kamar mandi karena akan berangkat kerja, dan setelah berpakaian Arman berjalan ke arah dapur dan sudah duduk di kursi tapi sampai beberapa menit kemudian makanan tidak datang.


"Pak Ade…!" teriak Arman yang sudah tidak sabaran menunggu kedatangan pak Ade kepala koki rumahnya.


Pak Ade berlari tergopoh-gopoh setelah mendengar namanya dipanggil, "Ada apa tuan Muda?" tanya Pak Ade yang menunduk dan takut jika melakukan kesalahan.


"Ada apa haaaa katamu!! lihat jam di dinding sekarang sudah jam 11 tapi, tidak ada satu pun makanan yang tersedia di meja, apa kamu ingin membunuhku ha!!" hardik Arman yang sudah sangat emosi karena sudah lapar.


Pak Ade takut berbicara dan jika salah ujungnya kerjaannya yang jadi taruhannya dan bisa dipecat.


"Maaf Tuan Muda semua orang lagi puasa jadi kami tidak memasak makanan setiap pagi," ucapnya lagi.


"Aaaaaapa kamu bilang apa itu puasa dan sejak kapan orang di rumah sini puasa!!" tanyanya Arman dengan kesal suara yang menggelegar dan memenuhi seluruh ruangan.


Mama Elisabeth yang mendengar teriakkan dari Arman langsung berjalan ke arah sumber kegaduhan. Dan menatap ke arah pak Ade untuk tenang dan sabar menghadapi Arman.


"Apa yang terjadi di sini?" tanya Mama Elisabeth yang pura-pura tidak tahu asal dan penyebab Arman marah-marah.


"Untuk apa kamu kesini kehadiranmu tidak diharapkan di sini," cibir Ahmad Arman.


"Ada apa pak Ade tolong jelaskan kenapa tuan Muda marah dan berteriak seperti orang yang kebakaran jenggot saja?" tanya Mama Elisabeth sambil duduk di hadapan Arman.


Arman yang melihat Bu Elisha duduk di depannya langsung menolehkan kepalanya ke arah samping, "Aku yakin pasti ini semua gara-gara ulahmu semenjak kedatanganmu di rumah ini semua peraturan berubah dan harus sesuai dengan aturanmu," gerutu Arman yang menggebu-gebu.Karena sudah banyak huruf hijaiyah yang Arman kuasai padahal setaunya Arman baru mulai belajar hari ini dari mamanya. Karina kadang malu jika harus berdekatan dengan Arman Karena kondisi Arman yang masih susah dan tidak leluasa untuk bergerak bebas.


Seperti sekarang Karina membantu Arman untuk memperbaiki posisi duduknya Arman sehingga mereka harus berdekatan. Hal ini dimanfaatkan oleh Arman dan di dalam hatinya sangat bersorak gembira.


"Kalau gini aku harus terus berpura-pura tidak cepat mengerti dan berpura-pura mengeluh sakit agar dia bisa berada di dekatku, entah kenapa wangi alami dari tubuhnya membuatku candu dan terus ingin selalu berdekatan dengannya," gumam Arman.


"Terus kamu marah, kamu mau protes atau kamu mau apa?" tampiknya Nyonya Elisah yang santai menghadapi sikap Arman.

__ADS_1


"Aku ingin makan tapi sedikit pun tidak ada makanan di meja apa kamu ingin membuat aku mati kelaparan," kesalnya Arman.


"Oooh hanya karena gara-gara itu saja kamu sudah berteriak dan menghardik pak Ade, aku kira ada apa, karena semua sudah hadir di sini aku ingin menyampaikan sesuatu hal pada kalian mulai hari ini tidak ada yang memasak makanan jika jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi sampai jam 4 Sore, nanti jam setengah lima baru ada aktivitas memasak di dapur dan dan jika ada yang ingin masak harus sesuai persetujuanku Jika ada yang melanggar maka kalian boleh angkat kaki dari sini," jelas Bu Elisha panjang lebar.


Arman langsung berdiri dari duduknya dan mengambil gelas kaca lalu melemparnya ke sembarang arah. Mama Elisabeth langsung menutup telinganya. Sedangkan Maid dan yang lainnya hanya terdiam dan takut. Mereka hanya terdiam dan menjadi saksi perdebatan mereka.


"Jangan berharap kamu sudah menang dan sampai kapan pun kamu itu bagiku hanya orang yang menumpang di rumah ini, camkan itu baik-baik!" Ancam Ahmad Arman sambil menunjuk wajah Mama Elisabeth.


Arman berlalu dari hadapan mereka dan berjalan ke arah pintu. Arman mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan membunyikan klakson mobilnya dengan keras.


Kamu mau sembunyi dimana


Aku bisa mengendus baumu


Jangan pernah lari dariku


Karena kita telah berjanji


Biar matahari bohong pada siang


Tak perlu menyiksa diri sendiri


Sembunyikan cinta yang ada


Aku tak perlu bahasa apapun


Untuk mengungkap aku cinta kamu


Aku tak pernah beristirahat


Untuk mencintai Kamu sesuai janjiku, promise


Seribu wajah menggoda aku

__ADS_1


Yang ku ingat hanya wajah kamu


janjiku tak pernah main-main


Sekali kamu tetap kamu


Where do you want to hide?


I can smell your smell


Never run from me


Because we promised


Let the sun lie at noon


Pretending not to be hot


No need to torture yourself


Hide existing love


I don't need any language


To reveal I love you


I never rest


To love you according to my promise, promise


A thousand faces tease me


All I remember is your face

__ADS_1


I promise never play


Once you're still you


__ADS_2