
Setelah pak Ade memeriksa semua barang bekas Arman, Mama Elisabeth sama sekali tidak menemukan barang yang bisa dia ambil sebagai bukti Kalau itu barang peninggalan anak kembarnya. Pak Ade menutup kembali penutup Kotak kayu jati itu dan ada suara benda jatuh dari penutup kotak tersebut.
Mama Elisabeth yang mendengarnya langsung mencari sumber suara itu. Pak Ade pun ikut membantu mencarinya. Mereka mencari ke mana-mana benda itu dan ternyata benda itu menggelinding hingga ke bawah kolong meja.
"Pak Ade bisa minta tolong ambilkan kotak itu?" ucap Nyonya Elisabeth sambil menunjuk ke arah bawah meja.
"Baik Nyonya," ucap Pak Ade Hasan.
Pak Ade pun segera membungkukkan badannya lalu berusaha untuk mengambil benda tersebut. Dengan susah payah Pak Ade berhasil mengambil benda tersebut. Benda itu adalah sebuah kotak buludru yang warnanya sudah pudar.
"ini nyonya benda yang ada di kolong meja," jelas pak Ade yang melap hingga bersih kotak tersebut hingga nampak bersih.
Mama Elisabeth penasaran dan langsung membuka Kotak tersebut. Mama Elisabeth terkejut dengan benda yang berada di dalam tangannya. Mama Elisabeth langsung meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Daniel ini gelang kamu nak, gelang yang aku berikan kepada putraku dulu Pak Ade sebelum aku pergi dari Villa ini," tutur Bu Elisah yang terharu.
Pak Ade hanya memperhatikan istri dari tuannya, "Apa benar gelang ini ada bersama Arman sewaktu Arman di bawah masuk ke rumah ini bersama dengan Linda?" tanyanya Bu Elisabeth.
"Benar Nyonya gelang ini dipakai oleh tuan Muda Arman waktu itu saat pertama kali datang ke sini dan seingat saya, tuan Muda memakai baju yang berwarna biru dengan motif winni the Pooh di bagian dadanya dan ini baju itu" jelas pak Ade yang kemudian mengambil baju bayi Arman lagi.
"Arman adalah Daniel putraku pak Ade, Aku tidak salah lagi, Arman adalah anak kembarku" ucap Mama Elisabeth yang kembali menangis dan terduduk di lantai saking bahagianya setelah mengetahui kalau Arman adalah anaknya hanya dari gelang dan pakaian baby itu.
"Alhamdulillah kalau emang Arman adalah putra Nyonya bersama tuan besar Hendry yang telah lama hilang," ucap Pak Ade yang ikut terharu dengan kenyataan yang ada.
Arman yang awalnya berniat ingin mengambil air minum di lemari pendingin tapi belum sempat dirinya membuka kulkas tersebut, samar-samar telinganya mendengar ada seseorang yang berbincang-bincang dari arah gudang.
"Siapa yang ada di dalam gudang?" Gumamnya Ahmad Arman.
__ADS_1
Arman minum air terlebih dahulu sebelum ke ruangan itu karena terlalu haus.
Arman melangkahkan kakinya perlahan tapi pasti dan tidak sengaja mendengar percakapan Mama Elisabeth dan Pak Ade.
Arman tidak percaya dengan semua itu, lalu berjalan mengjauh dari ruangan gudang tersebut yang kebetulan posisinya tidak jauh dari dapur. Dia kemudian masuk ke dalam kamarnya dan mengganti cepat pakaiannya, ia mengambil secara acak dan asal pakaiannya di dalam lemari.
"Pasti Mery keliru, aku pasti bukan anak kandungnya, itu tidak mungkin kan, aku yakin mereka ingin menipuku makanya mereka sengaja bersekongkol untuk berpura-pura!" geramnya Arman sambil memakai pakaiannya.
Arman lalu mengambil dompet dan kunci mobilnya dan segera berjalan mengendap-endap agar tidak ada yang melihatnya kalau dia ingin keluar di tengah malam yang masih geremis membasahi bumi.
Dimas, Mark, Adrian dan Emre sudah berada di dalam mobil. Adrian mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mereka tidak ingin terlambat datang ke rumah utama
Ahmad tidak peduli dengan keadaannya yang kurang sehat. Arman tetap pergi mencari udara segar di luar sana. Hujan turun semakin deras saja yang membuat pandangan matanya kabur dan kepalanya sedikit pusing.
__ADS_1
Hingga di perempatan jalan depan tiba-tiba muncul kendaraan yang lajunya sangat kencang. Arman tidak mampu mengendalikan dengan baik mobilnya. Hingga kecelakaan pun tak terelakkan.
Mobil Arman menabrak tiang listrik hingga mobilnya mengalami kerusakan parah. Seseorang yang sedang berjalan membawa kantong kresek berlari ke arah mobil Arman.