
Arman selalu menatap wajah mama Elisabeth selama dia tersadar dari komanya beberapa jam. Arman membandingkan wajah perempuan yang menolongnya di dalam mimpinya itu mirip dengan Mama Elisabeth. Arman tanpa sadar meneteskan air matanya.
Arman sangat sedih dan tidak tahu tiba-tiba perasaan rindu, sedih dan takut kehilangan bercampur jadi satu. Arman tanpa sadar langsung memegang tangan Mama Elisabeth. Sedangkan Mama Elisabeth yang menyadari hal tersebut langsung membalas pegangan tangan Arman.
"Apa yang kamu rasakan nak, apa Kamu ingin minum?" tanya Bu Elisha.
Nyonya Elisyah yang tidak ingin memberitahukan kepada Arman kalau dia adalah ibu kandungnya. Mama Elisabeth ingin biarlah Arman sendiri yang menyadarinya dan mengakui Mama Elisabeth sebagai mamanya.
Karena dengan kondisi mental Arman yang tidak stabil kadang normal kadang penyakitnya kambuh sehingga Mama Elisabeth memutuskan untuk bersabar menghadapi sikap Arman dan menutupi kebenaran itu untuk sementara waktu.
"Apa Kamu ingin minum Nak?" tanya Mama Elisabeth yang mengulang pertanyannya karena Arman hanya terdiam dan menatapnya terus.
Arman pun menganggukkan kepalanya. Mama Elisabeth segera mengambil gelas dan menuangkan air putih ke dalam gelas tersebut dan memasukkan sedotan Air kedalamnya karena Arman belum bisa bangun atau duduk dari posisinya yang sekarang.
"Ini minumlah perlahan-lahan dan pelan saja," ucap Mama Elisabeth sambil menyodorkan gelas tersebut ke arah Arman dan sedikit menaikkan posisi ranjang untuk memudahkan Arman minum.
Arman hanya diam dan terus menatap wajah Mama Elisabeth hingga Karina terbangun dari tidurnya dan terjatuh ke Lantai yang membuat perhatian ke duanya teralihkan oleh suara benda yang jatuh dan cukup besar. Mama Elisabeth langsung berjalan ke arah Karina dan membantunya untuk berdiri.
"Kamu tidak apa-apa Nak?." tanya mama Elisabeth yang membantu Karina berdiri.
"Tidak apa-apa kok Bu, makasih tidak usah repot-repot kau bisa berdiri sendiri," tolak Karina secara halus karena merasa tidak enak hati dibantu oleh Mama Elisabeth.
"Tapi kamu baik-baik saja kan atau ada yang sakit?" tanya Mama Elisabeth lagi.
"Alhamdulillah aku baik-baik saja kok Bu," ucap Karina yang tersenyum malu-malu karena ketahuan jatuh dari kursi saat tertidur.
"Kamu masuklah ke kamar mandi dan ganti pakaian kamu, gak baik loh memakai baju yang basah terus-terusan, kamu bisa kena penyakit kulit," ujarnya Mama Elisabeth lalu menyodorkan paper bag yang berisi pakaian dan perlengkapan mandi.
"Makasih banyak Bu," timpalnya Karina lalu ngacir ke dalam kamar mandi karena sangat malu ditatap terus oleh Arman.
"Kasihan dia sedari semalam dia memakai pakaian yang basah dan katanya dia yang membonceng kamu ke rumah sakit memakai motor tetangganya padahal hujan semalam sangat deras," gumamnya Mama Elisabeth yang bangga dengan sikap cewek yang rela berkorban untuk Arman.
Arman hanya diam membisu dan tidak ingin berkomentar, tapi dalam hatinya sangat berterima kasih karena telah ditolong oleh Karina lagi untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Pintu Kamar mandi terbuka dan keluarlah Karina dengan pakaian yang baru dan nampak sangat cocok ditubuh tingginya. Karina berjalan malu-malu dan ini yang pertama kali dalam hidupnya memakai pakaian yang bagus dan mahal.
Kamu mau sembunyi dimana
Aku bisa mengendus baumu
Jangan pernah lari dariku
Karena kita telah berjanji
Biar matahari bohong pada siang
Pura-pura tak mau panas
Tak perlu menyiksa diri sendiri
Sembunyikan cinta yang ada
Aku tak perlu bahasa apapun
Aku tak pernah beristirahat
Untuk mencintai Kamu sesuai janjiku, promise
Seribu wajah menggoda aku
Yang ku ingat hanya wajah kamu
janjiku tak pernah main-main
Sekali kamu tetap kamu
Where do you want to hide?
__ADS_1
I can smell your smell
Never run from me
Because we promised
Let the sun lie at noon
Pretending not to be hot
No need to torture yourself
Hide existing love
I don't need any language
To reveal I love you
I never rest
To love you according to my promise, promise
A thousand faces tease me
All I remember is your face
I promise never play
Once you're still you
Pandangan Arman tertuju pada Karina penampilan Karina yang membuatnya pangling dan tanpa sengaja bergumam.
"Sangat cantik," cicitnya Arman yang masih bisa didengar baik dan jelas oleh Mamanya.
__ADS_1
Mama Elisabeth hanya tersenyum menanggapi perkataan Arman.
"Gadis yang baik, sepertinya dia cocok dengan Arman yang bisa membantu Arman untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi," Bu Elisha membatin.