Queen My Heart

Queen My Heart
Bab. 73. Semuanya Bisa Dibicarakan


__ADS_3

Kadang lebih baik diam, daripada menjelaskan apa yang kita rasakan, karena menyakitkan ketika mereka bisa mendengar tapi tak bisa mengerti.


"Marahnya aku diam, kecewanya aku diam, dan ketika aku lelah menghadapinya, aku harap itulah saatnya untuk kamu diam," batinnya Andrews.


Sometimes it's better to be silent, than to explain what we feel, because it hurts when they can hear but can't understand.


"My anger is silent, my disappointment is silent, and when I'm tired of dealing with it, I hope it's time for you to shut up."


Andreas dan Pricilla masuk ke dalam kamarnya. Mereka tidak menyangka jika kedua orang tuanya akan datang ke Indonesia. Andreas tidak memungkiri bahkan tidak bisa menampik, jika di dalam relung hatinya sangat merindukan kehadiran sosok kedua orang tuanya.


Tetapi, rasa kecewa yang sangat dia rasakan seolah-olah menutupi rasa yang ada. Andreas berdiri di balkon kamarnya sambil menikmati indahnya sunset di kala sore itu.


Cilla sedari tadi, memeluk tubuh suaminya dengan sangat posesif. Pricilla berada di belakang suaminya dengan menempelkan wajahnya di punggung lebar dan bidang itu.


"Abang, apa tidak ingin berbicara baik-baik dengan mereka?" ucap Pricilla dengan sangat hati-hati,dia tidak ingin perkataannya memperkeruh suasana.


"Hmmm," balas Andreas.


Tanpa menolehkan sedikit pun Wajahnya ke arah Cilla berada hanya itu yang tanggapan dari suaminya yang sedang galau tingkat dewa.


"Abang, kasihan Mami dan Papi kalau Abang diemin gitu," tutur Cilla dengan penuh lemah lembut agar suaminya berubah pikiran lagi yang berusaha membujuk suaminya untuk membuka pintu maaf untuk mereka.


"Apa Abang ingin suatu saat nanti anak-anak kita juga memperlakukan kita seperti sekarang mengingat ini? kalau Cilla gak mau yah Abang, pasti Cilla akan sangat sedih Abang kalau kelak di usia tuanya Cilla ada yang perlakukan kayak gitu," jelasnya.


Andreas menyunggingkan senyumnya saat mendengar Istrinya berbicara seperti itu, seperti anak kecil saja.


"Abang, tidak orang yang sempurna, sama halnya dengan ke dua orang tua, mereka pun memiliki banyak kekurangan dan kelebihannya, tidak selayaknya dan sepatutnya Abang memperlakukan kasar mereka, sebaiknya kita berbicara baik-baik dengan mereka Abang," tuturnya Cilla.

__ADS_1


Andreas membalik tubuhnya menghadap ke arah Cilla dengan senyuman khasnya yang terbit dari wajahku secerah Sunset sore itu. Andreas bahagia karena dia tidak menyangka jika sifat Istrinya yang sekarang dengan awal-awal mereka bertemu sangatlah jauh berbeda.


Sifat dan kedewasaan yang dimiliki Cilla yang sekarang lebih baik, bijaksana, dewasa dan penyayang tentunya jika kembali melihat beberapa bulan yang lalu. Cilla yang egois,keras kepala, ceplas-ceplos dan bertindak semaunya.


Mereka saling berhadapan dan memandang satu sama lainnya. Andreas menyunggingkan senyuman tipisnya, sedangkan Cilla menatap suaminya dengan tidak berkedip. Ia lalu memajukan wajahnya dan menyerongkan sedikit kepalanya lalu membisikkan kata-kata yang membuat Cilla tersenyum tanpa ada bantahan sedikit pun.


"Baby, aku ingin itu, boleh yah sekali saja!" tanya Andreas yang seperti anak kecil yang merengek meminta mainan.


Cilla tersenyum dan merasa geli karena suaranya seperti seseorang yang menggelitik di telinganya. Andreas tidak sabar menunggu tanggapan dan jawaban dari istrinya tersayang.


Cilla pun menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan permintaan Andreas yang menginginkan mengambil jatah di sore hari menjelang magrib itu. Andreas pun semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh istrinya hingga dada bidangnya berbenturan dengan puncak mount Everest milik Cilla yang begitu padat, kenyal dan menantang.


Andreas tanpa aba-aba langsung ******* bibir seksi yang sangat memikat itu. Cilla mengalungkan kedua tangannya ke pinggang suaminya. Sedangkan Andreas memegang tengkuk leher jenjang Pricilla. Ciuman mereka semakin lama semakin menuntut dan menginginkan hal yang lebih dari sekedar bertukar Saliva saja.


Semakin lama semakin menuntut dan membuat mereka terbuai dalam irama kissing yang begitu mendamba dan mengungkapkan perasaannya masing-masing. Hingga nafas mereka semakin memburu dan ngos-ngosan. Pasokan udara yang semakin menipis membuat mereka harus mengakhiri ciumannya.


Andreas merebahkan tubuh istrinya dengan sangat hati-hati mengingat Istrinya yang sedang berbadan dua. Cilla masih mengalungkan tangannya ke leher suaminya dan kembali berinisiatif untuk menciumi bibir seksi milik suaminya.


Mereka kembali beradu lidah dan saling mengecap satu sama lain. Mereka seakan-akan tidak ada kepuasan dari apa yang mereka lakukan sore hari itu. Perlahan-lahan satu persatu pakaian yang menutupi seluruh tubuh indah mereka sudah terbang dan jatuh ke atas lantai keramik.


Pakaian itu teronggok begitu saja hingga membuat kamar tidur itu sedikit berantakan dengan apa yang dilakukan oleh pasutri ini. Dia memainkan kedua aset terpenting milik istrinya itu. Dengan silih berganti hingga mereka sama-sama menikmatinya dengan penuh kebahagiaan di rona wajah mereka yang sangat tampak nyata terpancarnya.


"Heemmmph, baby aku su-ka," cicitnya Cilla dengan terbata menahan gejolak di dadanya yang sudah membuncah hingga ke ubun-ubunnya.


Bagian intinya sudah berdenyut menginginkan sesuatu yang lebih dari hanya sekedar belaian saja. Dengan irama dan ritme yang sedikit pelan dan lambat hingga Andreas tidak kuasa menahannya lagi.


...----------------...

__ADS_1


Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya:



Dilema Diantara Dua Pilihan


Cinta dan Dendam


Pelakor Pilihan


Hanya Sekedar Pengasuh


Cinta ceo Pesakitan


Ketika Kesetianku Dipertanyakan


Menggenggam Asa


Cinta Kedua CEO


Kau Hanya Milikku



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...


Tetap dukung My Queen Heart dengan cara Like setiap Babnya, Rate Bintang 5, Favoritkan dan Votenya serta komentarnya yah...

__ADS_1


Maaf jika ada kesalahan dalam pengetikannya atau Typonya...


__ADS_2