
"Begitulah manusia nak, tidak ada rasa syukur yang tertanam di dalam dirinya sehingga dia nekat melakukan apapun walaupun tidak dengan cara yang benar dan baik," jawab Arya.
"Nenek berharap kejadian ini bisa kalian ambil hikmahnya dibalik musibah yang menimpa keluarga kita, bertindaklah dengan pemikiran yang matang jangan memakai emosi dan ego sesaat sebelum kalian menyesali keputusan kalian," terang Mama Elisabeth.
Mereka terdiam dan manggut-manggut mendengar penuturan dari Mama Elisabeth. Mereka menggelengkan kepalanya dan sangat tidak setuju dengan perilaku yang merugikan orang lain. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.
Zidane awalnya akan berangkat ke Kampusnya, tapi dia teringat akan pesan Mamanya. Tadi pagi mamanya membuat kue khusus untuk Listi. Karena itu lah dia berada sekarang di dalam lift menuju apartemennya Listi. Senyuman selalu menghiasi wajahnya yang tampan yang tidak kalah jauh berbeda dengan Arya Papanya.
"Semoga saja Tante Listi menyukai kue buatan Mama," jawabnya dengan menenteng sebuah rantang makanan.
Ting…
Saat bunyi lift pertanda pintu lift terbuka dia akan melangkahkan kakinya ke arah luar.
Pranngggg….
Rantang makanan yang dibawahnya jatuh dan isinya berserakan di atas lantai.
Zidane terkejut melihat siapa yang ada di depannya bersamaan dengan jatuhnya rantang makanan yang dia bawa ke atas lantai. Dia tidak mengira jika mereka akan bertemu dalam keadaan seperti itu.
"Zidane," cicitnya lalu segera melepaskan pelukan eratnya dari kekasihnya sekaligus masih berstatus suami istri.
Listi maju kehadapan Zidane tetapi dia segera melangkahkan kakinya mundur dan tergesa-gesa menekan tombol lift untuk turun ke lantai bawah.
"Ini semua gara-gara Mas, aku kan sudah bilang jangan datang ke Apartemen nanti aku yang datang ke rumah," ucap Listi yang sangat marah karena rencana dan tujuannya sudah hampir berhasil.
"Kalau sudah seperti ini kita jalankan rencana kedua saja," timpal suaminya.
Zidane berjalan dengan penuh rasa amarahnya, "Ternyata apa yang dikatakan Abang Elang tempo hari benar adanya kalau Listi adalah seorang wanita yang licik bahkan dia adalah seekor ular betina yang sangat berbisa," umpatnya Zi.
Tangannya mengepal kuat dan matanya memerah seakan-akan bola matanya akan melompat keluar saking marahnya karena telah mengetahui kebenaran bahwa dirinya hanya dijadikan pion untuk menjalankan rencananya.
"Sial!! Kenapa waktu itu aku bodoh sekali tidak ingin mempercayai semua perkataan dari Abang Elang padahal buktinya sudah jelas ada." Geramnya Zidane.
Zidane menendang bagian ujung kaki pintu Lift. Dia ingin melampiaskan amarahnya tapi pada siapa. Setelah pintu terbuka, dia segera berlari ke arah luar dan tidak perduli lagi dengan rantang dan kuenya yang sangat enak itu
Dia berlari ke arah parkiran mobil dan segera masuk ke dalam mobilnya dan menumpahkan semua kemarahan dan kekesalannya serta rasa kecewanya pada dirinya sendiri.
"Aku akan membalas penipuanmu Tante ular," Zidane memukul berulang kali setir mobilnya.
Lalu melajukan mobilnya ke arah rumahnya, "Ternyata mereka bersekongkol dan sengaja menjebakku selama ini untuk menghancurkan perusahaan Papa, aku tidak akan biarkan itu terjadi apa pun akan aku lakukan." Makinya Zi.
__ADS_1
Zidane mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Pikirannya tertuju pada pengkhianatan Listi.
"Aku terlalu bego jadinya mudah dibodohi dengan tampan lugunya perempuan ular betina itu."
Sehingga dia tidak menyadari ada orang yang menyebrang jalan.
"Aaahhhhhh!!!!" Teriak seseorang yang hampir ditabrak oleh mobil Zidane.
Ciiittttt!!!
Suara ban mobilnya yang bergesekan dengan aspal menimbulkan suara yang cukup bising.
"Hey!!! Turun dari mobilmu," teriak seorang gadis yang terus menggedor jendela mobilnya.
Zidane sama sekali tidak bergeming dan tidak ingin menggubris ketukan dari gadis itu.
"Kamu tuli yah? Ayok turun dari mobilmu!!" teriaknya dengan suara yang lebih lantang sambil mengetuk terus kaca mobilnya.
Zidane yang pikirannya masih tertuju pada Listi bukannya karena menyesal telah mengetahui kenyataan yang ada, tetapi dia sangat menyesali karena terlambat mengetahui hal tersebut.
"Woo keluar loh dari mobilmu!! Dasar pria jelek, gendut dan perutnya buncit jangan sembunyi dan lari dari tanggung jawabmu," terangnya dengan mulai tersulut emosinya menghadapi supir yang hampir saja menabraknya.
Zidane segera tersadar dari lamunannya dan berjalan ke arah luar. Dia turun dari mobilnya dengan wajah yang masih dalam keadaan marah. Perempuan itu tercengang melihat penampilan dari Zidane. Tadi sudah berpikiran jika Zidane sudah tua, berkepala botak dan mengkilap, perut buncit.
Gadis itu tampak terdiam tanpa kata, mulutnya menganga dan matanya melotot melihat wajahnya Zidane seperti oppa-oppa Korea Selatan saja.
"Lihat gara-gara kamu, pakaianku jadi kotor dan semua berkas yang aku bawa harus terkena percikan air kotor," terangnya.
Gadis itu menunjukkan ke arah pakaiannya yang sudah terkena percikan air kotor dari genangan air yang ada di jalan. Serta berkasnya sudah ada yang sebagian basah.
"Terus?" Tanyanya Zidane.
"Ya terus kamu harus tanggung jawab kalau begini," tuturnya.
"Hahahaha tanggung jawab, emangnya aku hamilin kamu sehingga harus tanggung jawab segala," ucapnya dengan tatapan merendahkan.
Gadis itu semakin marah saja karena Zidane sudah membalas perkataannya dengan candaan segala.
"Emangnya harus buntingin orang dulu baru tanggung jawab, tidak kan? lihat pakaianku semua ini kamu yang menyebabkannya terjadi seperti ini," balasnya.
"Ya elah hanya kotor gitu saja sudah minta ganti rugi dan tanggung jawab segala, atau kamu mau aku…" ucap Zidane dengan melangkah maju hingga membuat gadis itu segera mundur beberapa langkah hingga punggungnya terbentur kap mobil.
__ADS_1
Zidane memajukan langkahnya hingga jarak mereka semakin dekat saja. Gadis itu sudah tidak bisa berkutik lagi. Dia sudah mulai ketakutan, gemetaran, dan berkeringat dingin.
Jarak mereka semakin dekat hingga hanya menyisakan beberapa centimeter saja. Sekali saja goyang hidung mereka hampir saja bersentuhan. Hpnya berdering dan bergetar di dalam sakunya.
"Tunggu, aku akan segera ke kantor," jawabnya lalu mematikan sambungan teleponnya.
Dia tidak menghiraukan gadis yang sedari tadi dia temani adu mulut. Dia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Ya Allah, semoga aku tak bertemu lagi dengan pria itu," ucapnya dengan menghentakkan kakinya ke atas aspal.
Dia segera kembali ke rumahnya untuk berganti pakaian. Hari ini adalah pertama kalinya bekerja di Perusahaan yang menerima lamarannya.
****************
Silahkan mampir juga ke novel aku yg lainnya ceritanya tidak kalah seru dengan My Queen Heart loh...
dilema diantara dua pilihan
cinta dan dendam
pelakor pilihan
hanya sekedar pengasuh
cinta ceo pesakitan
ketika kesetianku dipertanyakan
menggenggam asa
cinta kedua ceo
kau hanya milikku
Makasih banyak bagi kakak readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...
__ADS_1
Tetap dukung my queen heart dengan cara like setiap babnya, rate bintang 5, favoritkan dan votenya serta komentarnya yah...
Maaf jika banyak terdapat kesalahan dalam pengetikannya atau typonya...