Queen My Heart

Queen My Heart
Bab. 281


__ADS_3

"Sekarang kamu masih berani menjadi sok kuat atau kamu sudah menyerah dan suka rela untuk melayani kami semua," gertak pria A yang jongkok dihadapan Ratna sambil menarik rambut Ratna.


Ratna malahan meludahi pria tersebut tepat di wajahnya. Pria tersebut langsung menghapus jejak ludah Ratna dengan kilatan mata yang sudah memerah dan urat syaraf nya sudah menonjol saking marahnya.


Pria tersebut semakin mengencangkan tarikan dari rambutnya Ratna. Dan mengayunkan tangannya yang ada pisaunya ke arah punggung Ratna tapi tanpa mereka sadari ada seseorang yang langsung datang membantu Ratna dan menendang kuat Tubuh pria tersebut hingga terbanting ke arah belakang.


"Aaaaahh!!" Jerit si pria tersebut.


Arman segera bergegas meninggalkan ruangan perawatan Ratna bersama dengan Karina. Rencananya malam ini Arman ingin melamar Karina langsung di hadapan Karina dan setelah dia diterima baru lah Arman mendatangi kedua orang tuanya Karina untuk meminta restu.


Armand Maulana Malik sudah merencanakan semuanya dengan baik dan sempurna tinggal menunggu harinya saja. Arman bahkan sudah menyiapkan semua seserahan yang nantinya akan dibawa untuk melamar pujaan hatinya.


Arman sudah memantapkan hatinya untuk meminang Karina. Arman takut jika nantinya ada pria lain yang akan lebih duluan datang ke rumahnya Karina untuk melamarnya.


"Karina temani aku yah buka bersama yah!" Pintanya Arman yang pandangan matanya masih terarah ke depan sedangkan tangannya masih sibuk di kemudi mobil.

__ADS_1


"Maaf Mas, Aku tidak bisa soalnya Aku ingin mengantar Ibuku periksa ke rumah sakit kebetulan ini hari adalah jadwal pemeriksaannya," tolaknya Karina yang bimbang antara menolak permintaan Arman atau memenuhi ajakan Arman.


"Gimana kalau kita buka bersama saja di rumah kamu, setelah pulang dari antar ibu kamu periksa, emangnya jadwal periksanya jam berapa?" tanya Arman yang menatap sekilas ke arah Karina dengan usulan yang baru.


"Tapi mas aku malu rumahku terlalu kecil dan Mas mau duduk di mana? kursi saja kagak punya," ucap sendu Karina yang menunduk malu mengingat kondisi rumahnya.


Karina rencananya setelah gajinya dibayarkan semua oleh Mama Elisabeth, Karina ingin merenovasi rumahnya, tapi Ayah sambungnya mengambil semua uang tersebut tanpa menyisakan sepeserpun untuk uang belanja maupun uang untuk biaya pengobatan ibunya.


Karina diam-diam meneteskan air matanya karena kecewa tidak bisa melawan ayah tirinya. Walaupun ia sempat melawan tapi, tidak ada gunanya.


"Kalau gitu kita jemput Ibu kamu baru kita bareng ke rumah sakit dan ajak seluruh adikmu untuk ikut kita gimana menurut kamu?" usul Arman.


"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu semua dan serahkan semuanya kepadaku, Saya yang akan mengurus semuanya kamu tenang saja," imbuhnya Arman lagi.


Mobil Arman berhenti di depan lorong jalan setapak untuk sampai ke rumah Karina harus melewati satu-satunya akses jalan untuk ke rumah Karina. Arman hanya geleng-geleng kepala melihat perkampungan yang sangat kumuh itu

__ADS_1


Walaupun ini yang kedua kalinya Arman mendatangi lokasi tersebut. Karina membuka pintu rumahnya dan terkejut melihat kondisi ibunya yang sudah terkapar di lantai rumahnya yang masih beralas tanah.


Karina segera berlari ke arah ibunya. Ada banyak bercak darah di sekujur tubuh ibunya terutama di bagian tangannya. Sedangkan ke dua adiknya pun terluka.


"ibu bangun Bu, ini Karina sudah datang, rengeknya Karina yang sudah menangis histeris melihat kondisi ibunya yang sudah bersimbah darah dan langsung memangku ibunya.


"Adik kamu nak, tolong adik kamu," ucap lemah ibunya Karina yang terbata.


"Apa yang terjadi dengan adikku Ibu dan di mana mereka?" tanya Karina.


"Adikmu ingin dijual oleh bapak ke luar negeri, komplotan bapak tadi datang ke rumah dan memaksa adik-adik kamu untuk ikut dengan mereka dan Ibu mencoba untuk melawan mereka tapi Ibu tidak berdaya," jelasnya Ibu Lestari yang sudah menangis tersedu-sedu mengingat kedua anaknya dibawah paksa pergi.


Karina pun bingung karena tidak tahu nomor pin kartu milik Arman. Karina memeriksa isi dompet Arman dan mengeluarkan semua uang yang ada di dalam dompet tersebut dan ternyata ada sekitar 5 juta isi dari dompet tersebut


"Ayok kita segera bawa Ibu ke rumah sakit terlebih dahulu," pintanya Arman yang langsung menggendong tubuh renta ibunya Karina.

__ADS_1


"Ibu harus kuat kita akan ke rumah sakit," ucap Karina yang sudah membantu ibunya untuk mencegah pendarahan yang semakin parah dan semakin banyak darah yang mengalir.


"Maafkan Ibu Karina yang selama ini belum bisa membahagiakan kamu nak, Ibu hanya bisa menyusahkanmu saja," ratapnya Bu lestari ibunya Karina yang kondisinya semakin lemah saja.


__ADS_2