
Kehidupan in bukan untuk menemukan cinta, tapi untuk membangun cinta. Cinta yang indah tidak mungkin hanya ditemukan. Cinta yang indah menuntut pengorbanan yang tidak sederhana.
Hanya dibutuhkan beberapa detik untuk jatuh cinta, tapi seumur hidup untuk membuktikannya.
Setelah Pricilla sudah duduk di jok mobil penumpang. Andreas mengelilingi badan mobil lalu masuk kebagian supir. Beberapa saat kemudian, mobil mereka sudah meninggalkan halaman Rumah Sakit. Pricilla menyandarkan kepalanya kebelakang.
"Kalau kamu ngantuk tidur saja, perjalanan Kita juga cukup jauh dari sini," ucapnya dengan membelai lembut rambut istrinya.
Andreas tersenyum melihat istrinya yang begitu patuh seperti seorang anak kecil saja. Mobil mereka sudah memasuki pekarangan rumah utama keluarga Arya. Andreas segera mematikan mesin mobilnya lalu membangunkan istrinya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
"Cilla bangun dong sayang, sudah sampe nih," harapnya dengan sesekali menggoyang tubuh Cilla agar segera bangun.
"Huuummm, udah sampai yah Abang?" tanya Pricilla lalu mengerjapkan matanya berulang kali dengan lenguhan suaranya yang sedikit serak karena baru bangun.
Andreas hanya menganggukkan kepalanya dengan senyuman yang terpancar selalu dari wajahnya. Pintu tinggi besar nan menjulang tinggi itu dengan dua daun pintunya terbuka lebar dan masuklah ke dua pasangan pengantin baru tersebut.
Langkah kakinya terhenti setelah melihat seseorang duduk di dalam ruang keluarga. Raut wajahnya berubah dari tersenyum sekarang jadi serius sekaligus tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Andreas sayang," tuturnya Cilla.
Andreas berdiri mematung di tempatnya sedangkan Pricilla tidak mengetahui siapa wanita yang masih cantik di usianya yang sudah cukup umur. Pricilla pun melirik ke arah suaminya berada. Raut wajah Andreas tampak tegang, serius sedikit ada rasa kecewa Juga di sana.
"Untuk apa Mami dan Papi ke sini?" sarkas Andreas yang kesal dengan kedatangan kedua orang tuanya.
Delia heran dengan perkataan yang berhasil terlontar dari bibirnya Andreas. Cilla pun tahu jika mereka adalah ke dua mertuanya. Pricilla refleks ingin maju ke hadapan mertuanya yang langsung ingin menciumi punggung tangannya, tapi langkahnya terhenti di saat suara intrupsi dari suaminya menghentikan kegiatannya.
"Margaretha Agatha Pricilla stop!!, kalau kamu melanjutkan langkah kakimu, Abang akan sangat marah padamu!!" teriaknya Andreas dengan penuh amarah.
Adrian dan Emilia terkejut dengan suara dari putra tunggalnya itu. Mereka tidak menyangka jika putranya akan bersuara cukup tinggi di hadapan mereka. Menurut mereka, selama ini tidak pernah bersifat seperti itu.
__ADS_1
"Andreas sayang Ini Mami," ratap Emilia yang berjalan mendekati anak sulungnya berusaha untuk mendekati putra sulungnya itu.
Emilia ingin memegang tangan putranya, tapi langsung dihempaskan oleh Andreas dengan sedikit keras. Pricilla serba salah, dia tidak ingin jadi menantu yang tidak menghormati ke dua mertuanya, tapi di lain sisi dia juga tidak ingin menentang keputusan dan perintah dari suaminya, apa lagi ingin menjadi istri yang durhaka. Pricilla jadi serba salah dan dilema dengan sikapnya sendiri. Dimana ada larangan keras dari suaminya dan disisi lain ada kedua mertuanya.
"Maafkan aku ya Allah… aku tidak tahu harus berbuat apa, aku bingung dengan pilihan terbaik yang harus aku pilih." Batinnya Cilla.
Sesekali Cilla melihat ke arah Suaminya dan sepintas ke arah Mami mertuanya.
"Abang!! dia Mami kamu loh, mereka jauh-jauh datang dari UK London ke Jakarta," terang Cilla dengan sangat hati-hati, dia tidak ingin menyinggung perasaan suaminya yang nantinya akan berakhir dengan kemarahan.
Pricilla memegang tangan suaminya agar dia segera berubah. Apa yang dilakukan oleh Cilla agar suaminya menerima dan menyambut kedatangan mereka.
"Abang bagaimana pun mereka adalah ke dua orang tua Abang, tidak sepantasnya Abang bersikap kasar dan keras terhadap mereka," jelas Cilla dengan penuh kelembutan.
Andreas hanya menatap sepintas ke arah istrinya lalu kembali menatap tajam ke arah Papinya. Bukan dia marah kepada orang tuanya, tapi sifat dan tingkah laku mereka yang memutuskan untuk menjodohkannya dengan perempuan yang tidak dia suka dan cintai.
"Maafkan Andreas mi, aku sangat merindukan Mami, tapi di sisi lain aku terlanjur kecewa dengan kenyataan jika kalian diam-diam memutuskan untuk menikahkanku dengan Laila gadis yang egois itu."
Kehangatan dalam keluarga tidak diukur dari ukuran luas rumahnya, tapi luasnya kebahagiaan yang menempati.
Kesenangan bermula dari kebersamaan bersama orang-orang terdekat, terutama keluarga.
Kebersamaan dengan keluarga momen penting dalam menggapai rumah tangga bahagia.
The warmth in the family is not measured by the size of the house, but the breadth of happiness that occupies it.
Fun begins with being together with the closest people, especially family.
Togetherness with family is an important moment in achieving a happy household.
__ADS_1
...----------------...
Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya:
Dilema Diantara Dua Pilihan
Cinta dan Dendam
Pelakor Pilihan
Hanya Sekedar Pengasuh
Cinta ceo Pesakitan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
Menggenggam Asa
Cinta Kedua CEO
Kau Hanya Milikku
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...
Maaf jika ada kesalahan dalam pengetikannya atau Typonya...
__ADS_1