
Pandangan Arman tertuju pada Karina penampilan Karina yang membuatnya pangling dan tanpa sengaja bergumam.
"Sangat cantik," cicitnya Arman yang masih bisa didengar baik dan jelas oleh Mamanya.
Mama Elisabeth hanya tersenyum menanggapi perkataan Arman.
"Gadis yang baik, sepertinya dia cocok dengan Arman yang bisa membantu Arman untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi," Bu Elisha membatin.
Sudah lima hari Arman di rawat di rumah sakit dan selama itu pula Mama Elisabeth tidak pulang ke Villa dan sudah hampir hampir dua minggu Bu Elisah tidak bertemu dengan anaknya dari suaminya terdahulu yaitu pak Wiguna Albert Kim Said.
Ada kerinduan yang membuncah di dada Nyonya Elisath kepada ke dua putrinya sedangkan Arya dan Delia setiap hari mereka berkomunikasi walaupun hanya lewat telpon saja. Mereka sudah melepas rindu. Arya sebenarnya masih kecewa dengan sikap dan kelakuan Papa sambungnya mengingat kejadian dulu.
Karena pak Hendry dan anaknya lah yang menyebabkan kematian Oma Estella dan hingga Pak Wiguna tertembak dan berujung koma. Tapi Arya tidak ingin membuat mamanya tertekan dan terbebani sehingga Arya dan Delia berusaha untuk terus mencoba untuk berdamai dengan masa lalunya.
Karena memendam rasa kecewanya, benci dan dendam tidak kaan membuat seseorang bisa hidup dengan tenang dan bahagia. Arman masih mendiamkan Mama Elisabeth dan sama sekali tidak ingin berbicara dengan ibu kandungnya sendiri. Tapi Mama Elisabeth mengerti dan memberikan waktu bagi Arman untuk membiasakan dirinya hidup bersama Bu Elisah.
__ADS_1
Seperti itulah kehidupan, jika ada anggota baru yang datang ke dalam keluarga inti pasti ada rasa canggung, malu maupun segan dengan orang baru tersebut. Setelah dokter melakukan pemeriksaan kepada Arman dan diputuskan kalau hari ini Arman sudah bisa pulang.
"Dokter gimana dengan hasil pemeriksaan putraku, apa sudah membaik atau gimana?" Tanya Mama Elisa.
"Alhamdulillah putra ibu sudah membaik dan hari ini juga sudah bisa pulang tapi obatnya harus rutin diminum, kontrol ke sini jika ada keluhan dan ini resep obat untuk ibu tebus," jelas dokter tersebut sambil menyerahkan secarik kertas resep obat.
"Makasih banyak dokter," ucapnya Bu Elisah setelah mendengar kabar tersebut.
Nyonya Elisya kemudian menghubungi nomor handphone suaminya untuk mengabarkan kabar tersebut. Mama Elisabeth mengemas seluruh barang bawaanya selama di rumah sakit.
"Biarkan saya saja Bu yang mendorong Tuan Muda," pinta supir pribadinya.
"Makasih banyak tapi tidak usah, selama ibu bisa kenapa harus minta tolong kepada orang lain," tolak Mama Elisabeth secara halus dengan nada bicara yang lembut
Mereka sudah berada di dalam mobil yang akan mengantar mereka pulang ke villa. Arman tidak mengerti dengan jalan pikiran Mama Elisabeth walaupun diperlakukan kasar, tidak sopan bahkan sering kali dibentak dengan perkataan yang cukup kasar.
__ADS_1
Tapi tidak menyurutkan perhatian yang dicurahkan oleh mama Elisabeth. untuk buah hatinya. Arman sudah berbaring di ranjang king size-nya Tapi belum bisa untuk berdiri bahkan untuk duduk saja harus ada yang membantunya.
Arman bagaikan bayi besar yang tidak bisa bebas bergerak hanya berbaring dan sesekali duduk. Mama Elisabeth dengan sabarnya merawat dan menjaga bayi besarnya. Bahkan Arman sendiri malu kepada dirinya sendiri jika harus bergantung terus kepada ibu Elisha.
Sehingga ia meminta untuk mendatangkan perawat pria yang khusus untuk membantunya jika ingin pup. Sore harinya Arman terduduk di ranjangnya dan melihat ke arah jendela kamarnya.
Tiba-tiba terbersit rasa sedih dan penyesalan atas apa yang telah dia lakukan selama ini. Arman menyadari dirinya sudah terlalu tersesat dan jauh dari yang namanya kebaikan.
"Apa Allah masih bisa memaafkan Aku yang terlalu banyak dosa dan kesalahanku, aku manusia yang terlalu hina," batinnya Ahmad Armand.
Bu Elisha yang datang dengan nampan yang berisi bubur serta sayur sup dan ikan bakar beserta keluarganya dabu-dabunya kesukaan Arman yang sempat melihat Arman yang termenung sambil memperhatikan ke arah luar jendela kamarnya.
"Waktunya makan siang Nak, Mama suapi kamu yah tapi pakai langsung tangan Mama gak apa-apa kan?" ucap Mama Elisabeth yang ingin membantu Arman makan.
Arman hanya menganggukkan kepalanya dan ingin mencoba makan dari tangan Mamanya. Selama dalam hidupnya Arman tidak pernah makan dengan tangan seorang ibu, selama Arman masih bayi dia disuapi oleh baby sitternya.
__ADS_1
Bu Elisabeth pun mulai menyuapi Arman menggunakan tangannya langsung tanpa bantuan alat makan seperti sendok atau garpu. Arman merasakan nikmatnya sangat berbeda jika makan dari tangan seseorang mama yang tulus menyayangi kita dengan tangan orang lain.