
Pak Anwar pun pamitan dan kembali ke pos jaga Security. Dan segera mengabarkan kepada nyonya besar tentang dia yang sudah menemukan seseorang yang pantas dan bisa diandalkan untuk membantu tuan muda Arman. Keesokan harinya, Karina pamit kepada ibunya untuk mendatangi villa yang dimaksud oleh pak Anwar.
"Kamu jaga diri baik-baik yah Nak, kamu harus patuh dengan perkataan yang punya rumah, ibu minta maaf karena selama ini Ibu hanya menyusahkan kamu saja," pinta ibunya Karina yang terbaring lemah di atas dipannya.
"Insya Allah yah Bu, doakan Karina semoga pekerjaan Karina lancar dan Kareena bisa segera membawa Ibu ke Dokter untuk memeriksa penyakit ibu," ucap Karina sambil menyuapi ibunya yang sedang sakit keras.
Ibu Karina sudah sebulan menderita penyakit, ibu Karina mengeluhkan sakit dibagian perutnya dan punggungnya, "Ibu selalu doakan yang terbaik untuk kamu dan anak-anak ibu yang lain, dan jangan lupa sholat lima waktumu Nak!" ucap ibunya Karina yang bangkit dari tidurnya.
"Makasih banyak Ibu," imbuhnya Karina yang ingin menangis dalam hatinya tanpa mengeluarkan suara dan air matanya m melihat kondisi ibunya yang semakin hari semakin kurus saja, hal ini dilakukan oleh Karina agar tidak membuat ibunya semakin sedih.
Itu lah salah satu alasan juga yang membuat Karina memutuskan untuk berhenti bekerja di Club malam selain dirinya sering mendapatkan perlakuan yang kurang pantas dari pelanggan bar tersebut. Keesokan harinya, Karina mendatangi Villa yang dimaksud oleh pak Anwar.
Setelah pak Anwar melihat kedatangan Karina, pak Anwar langsung menuntun Karina ke dalam rumah tersebut dan mengajak Karina untuk bertemu dengan nyonya Elisabeth selaku istri dari pemilik Villa yang nan megah dan mewah tersebut.
Karina berjalan ke arah dalam Villa tersebut bersama seorang Maid yang memakai pakaian seragam yang berwarna ungu soft. Karina dipersilahkan duduk terlebih dahulu sambil menunggu kedatangan Nyonya Elizabeth.
"Maaf mbak tunggu sebentar yah, saya akan panggilkan Nyonya besar Elisha," ucap maid tersebut.
Karina hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ke arah maid sedangkan maid tersebut berjalan ke arah tangga untuk naik ke lantai dua. Karina memperhatikan isi dari villa tersebut dan mengagumi desain interior rumah itu. Karena sewaktu dirinya mengantar Arman dulu dia tidak sempat masuk ke dalam hanya sampai di pos Security depan pagar saja.
Tok.. tok.. tok..
Suara pintu kayu jati itu diketuk oleh seseorang. Mama Elisabeth yang sedang membantu belajar doa dan tata cara sholat kepada Arman langsung berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah pintu.
"Maaf ganggu waktunya bu, orang yang dipanggil oleh ibu sudah datang dan sekarang dia ada di ruang tamu Bu!" ucap Maid tersebut.
"Makasih banyak, dan suruh beliau duduk dulu sambil menunggu saya," ucap Mama Elisabeth.
"Baik Bu," ucap singkat maid tersebut.
Karina masih duduk manis sambil menunggu kedatangan Mama Elisabeth. Wajahnya yang tanpa polesan make up dengan balutan hijab di kepalanya memperlihatkan sisi keanggunan dan kecantikannya.
Penampilan Karina setelah berhijab membuatnya semakin cantik saja. Mama Elisabeth berjalan menuruni undakan tangga satu persatu dan terkesan dengan penampilan sosok orang yang sedang duduk di kursi tamunya dengan hijab coklat yang menutupi kepalanya.
"Assalamu alaikum," ucap salam Mama Elisabeth saat sudah berada di belakang punggung Karina.
Karina berdiri dan membalikkan badannya dan langsung menjawab ucapan salam dari Mama Elisabeth dan langsung meraih tangan Mama Elisabeth untuk dia cium.
__ADS_1
"Waalaikum salam," jawabnya Karina.
Mama Elisabeth terkesima melihat sosok dari wajah orang yang akan menjadi guru privat putra sulungnya. Mama Elisabeth terkagum-kagum melihat Karina dengan penampilan barunya yang lebih tertutup dan islami yang semakin teduh dipandang mata.
"Apa kamu yang direkomendasikan oleh oak Anwar untuk membantu putra saya untuk membaca tulis Al-Qur'an?" tanya Mama Elisabeth saat dirinya sudah duduk di kursi.
"Iya Bu, pak Anwar minggu lalu mengatakan kepada saya kalau Ibu membutuhkan seseorang yang bisa membantu putra ibu," jawab Karina dengan mimik wajah yang serius tapi tetap lemah lembut dalam bertutur kata.
"semoga dia bisa membantu Arman untuk berubah lebih baik lagi dan saya yakin dia gadis yang baik, lagian dia yang tempo hari menolong Arman saat kecelakaan," batinnya Nyonya Elisabeth.
Karina menunduk karena malu-malu karena ditatap terus oleh Mama Elisabeth, "Kalau gitu kamu ikut ibu ke atas, kebetulan kamar anak ibu berada di lantai dua," Ujarnya Mama Elisabeth dan kemudian berjalan untuk menuntun Karina ke kamar Arman.
Kamu mau sembunyi dimana
Aku bisa mengendus baumu
Jangan pernah lari dariku
Karena kita telah berjanji
Pura-pura tak mau panas
Tak perlu menyiksa diri sendiri
Sembunyikan cinta yang ada
Aku tak perlu bahasa apapun
Untuk mengungkap aku cinta kamu
Aku tak pernah beristirahat
Untuk mencintai Kamu sesuai janjiku, promise
Seribu wajah menggoda aku
Yang ku ingat hanya wajah kamu
__ADS_1
janjiku tak pernah main-main
Sekali kamu tetap kamu
Where do you want to hide?
I can smell your smell
Never run from me
Because we promised
Let the sun lie at noon
Pretending not to be hot
No need to torture yourself
Hide existing love
I don't need any language
To reveal I love you
I never rest
To love you according to my promise, promise
A thousand faces tease me
All I remember is your face
I promise never play
Once you're still you
"Apa ibu Elisabeth masih punya putra yang masih kecil yah, karena tidak mungkin aku akan membantu anaknya yang sudah besar untuk mengaji, tapi aku sering lewat depan Villa ini tapi aku Kok tidak pernah melihat ada anak kecil," batin Karina yang keheranan.
__ADS_1