
"Aku tidak punya Ibu lagi Tuan, Aku sudah menjadi anak yatim piatu," ratap Karina Larasati Ahmad.
Arman hanya bisa memeluk tubuh Karina untuk memberikan kekuatan moril agar tidak semakin terpuruk dalam kesedihannya.
Arman segera menghubungi anak buahnya untuk mengurus segala keperluan untuk pemakaman ibu Lestari dan segera mencari keberadaan adik-adiknya Karina.
Ibu Elisabeth dan pak Hendry pun sudah datang ke rumah sakit dan meminta untuk jenazah mamanya Karina di bawah ke Paviliun yang ada di belakang Villa untuk segera diurus segala macam keperluan pemakamannya.
Karina sangat berterima kasih karena sudah ditolong dan dibantu untuk mengurus semuanya. Karena seandainya tanpa bantuan dari mereka Karina tidak akan mampu memberikan penghormatan terakhir yang baik untuk ibunya.
Jenazah sudah dikafani bahkan sudah siap untuk dibawah ke tempat pemakaman umum yang terdekat dari Villa tersebut. Banyak tetangga yang mengetahui berita tersebut berbondong-bondong mendatangi Paviliun tersebut. Mereka ikut berbela sungkawa atas meninggalnya Ibu Lestari yang mereka kenal adalah sosok yang baik hati, ramah dan sederhana.
Bahkan mereka juga menjadi saksi hidup saat kejadian tersebut terjadi. Tapi mereka takut untuk berkomentar karena orang yang berada dibalik semua kejadian tersebut adalah orang paling terkaya di kampung mereka.
"Yang sabar yah Nak, kami turut berduka cita atas kepergian ibumu," ucap tetangga Karina.
"Iya kamu harus sabar dan harus kuat menghadapi cobaan ini," timpal si Ibu Ani.
"Makasih banyak yah Bu, kalian sudah menyempatkan waktu kalian untuk datang ke sini," ucap syukur Karina.
__ADS_1
Setelah berhasil saat kemudian, Mereka pun berangkat ke TPU setempat dan mengantar ibu Lestari ketempat peristirahatan terakhirnya.
"Selamat jalan Ibu, Karina minta maaf belum bisa membahagiakan ibu," batinnya Karina sambil menaburkan berbagai macam bunga di atas pusara ibunya.
Anak buah Arman segera membisikkan kata-kata. Sedangkan Arman menampilkan wajah yang sangat cantik marah setelah mendengar perkataan dari anak buahnya.
"Segera tangkap mereka dan jangan bawa langsung ke penjara tapi bawa mereka ke ruang bawah tanah!" ucap Arman.
Karina masih betah duduk di atas tanah pusara ibunya. Sedangkan Arman masih setia membawa payung tepat di atas kepala Karina karena panas matahari siang itu sangat lah terik.
"Tuan gimana dengan pencarian adikku apa mereka sudah ditemukan?" tanya Karina sambil membersihkan pakaiannya yang terkena tanah.
"Makasih banyak tuan, Karina tidak tahu harus membalas apa semua pertolongan Tuan Muda," ucap sendu Karina setelah mendudukkan tubuhnya di atas kursi mobil.
"Kamu tidak perlu khawatirkan hal tersebut, saya hanya meminta satu hal dari kamu," tampik Arman yang menatap wajah Karina sambil menghapus jejak air matanya Karina menggunakan jari manisnya.
"Maksudnya tuan apa, saya tidak mengerti," ujar Karina.
Arman langsung berlutut di hadapan kaki Karina lalu mengambil sebuah kotak dari dalam saku celananya.
__ADS_1
"Mau kah kamu menjadi istriku sekaligus menjadi ibu dari anak-anakku kelak?"
Tanya Arman yang sedari awal memang sudah berencana ingin melamar Karina tapi dikarenakan keadaan yang tiba-tiba berubah menjadi duka nestapa.
Memang saat sekarang bukanlah waktu yang tepat, tapi Arman berharap dengan lamarannya ini bisa membuat kesedihan Karina berkurang sedikit. Dia pun memutuskan untuk menerima pinangan dari Arman.
Karina hanya memiliki Arman sekarang yang bisa membantunya untuk melewati segala macam ujian dan cobaan dalam kehidupannya. Ia pun menganggukkan kepalanya tanda siap dan setuju untuk menikah dengan Arman.
"Makasih banyak sayang, Aku sangat bahagia," tutur Arman yang sangat bahagia setelah mengetahui kalau Karina siap untuk menikah dengannya.
Arman memasangkan cincin yang bertahtakan berlian berwarna pink ke dalam jari manisnya. Arman menekan tombol power agar sekat antara kursi kemudi mobilnya dengan kursi penumpang terpasang.
Sehingga apa yang mereka lakukan tidak menjadi tontonan gratis dari Pak supir. Arman memajukan wajahnya, tapi langsung dicegah oleh Karina sambil menggelengkan kepalanya tanda tidak boleh mereka lakukan.
"Ingat mas kita masih puasa loh!" Gerutu Karina malu-malu dengan wajahnya yang sudah nampak memerah seperti kepiting rebus saja dan sedari tadi selalu menunduk.
"Berarti kalau sudah buka puasa sudah bisa dong Karina," candanya Arman lagi yang tidak putus asa.
"Maaf Mas sebelum janur kuning melambai dan sebelum ada kata sah diantara kita, hal tersebut tidak boleh kita lakukan," tolaknya Karina yang tidak ingin hubungannya ternodai dengan perbuatan yang tidak seharusnya mereka lakukan.
__ADS_1