Queen My Heart

Queen My Heart
Bab. 214


__ADS_3

Dinda yang melihat kedatangan Hana segera berlari membantu Hana untuk berjalan. Sedangkan Dion dan Delima sedang ke luar negeri tepatnya ke Arab Saudi untuk menunaikan ibadah umroh.


Sehingga mereka belum mengetahui kondisi terakhir dari Hana dan Ricky. Tidak ada yang ingin percaya dengan kejadian itu tapi, mereka sudah bertawakal apa yang selanjutnya akan terjadi kepada Ricki.


Dinda memeluk adik sepupunya itu, "Kamu harus kuat," ucap Dinda yang membantu Hana berjalan.


Tanpa terkecuali semua yang hadir di sana tidak ingin memperlihatkan wajah khawatir maupun sedih di hadapan Hana. Hal itu mereka lakukan agar Hana tidak semakin sedih. Walaupun mereka sangat terpukul dengan kenyataan yang ada. Tapi kesabaran adalah obatnya.


"Kamu harus kuat Hana, yakinlah Allah selalu bersama kita dan akan menyelamatkan Ricki," tuturnya Rima yang matanya sudah berkaca-kaca menahan kesedihannya.


Suaminya Rima pun datang dengan setengah berlari ke arah mereka, "Kecelakaan ini sepertinya ada yang merencanakan ini semua tetapi, pihak polisi untuk sementara mengatakan ini murni kecelakaan tanpa ada unsur rekaya manusia," ungkap Emir.


"Sebenarnya kronologis dari kejadian ini bagaimana?" tanyanya Adit yang masih tidak percaya.


"Tolong berikan laporan hasil pemeriksaan Nona Hana kepada saya," perintah Dokter Indi yang tidak ingin menerima bantahan.


Setelah beberapa saat, Dokter Rindu mengijinkan mereka untuk masuk tapi masih ada beberapa pegawai yang melarang mereka. Sehingga dokter Indi mengambil keputusan untuk mengamankan pegawai yang melanggar tersebut untuk dibawa ke kantor polisi.


Tapi dokter yang sering menyuntikkan obat ke tubuh Hana segera menghubungi bosnya dan menginformasikan bahwa mereka sudah curiga.

__ADS_1


Emir pun mulai menjelaskan duduk perkaranya, "Awalnya ada sebuah mobil truk yang melaju dengan kecepatan sangat tinggi dari arah depan dan muatan mobil tersebut adalah tabung gas elpiji," Emir menjeda perkataannya itu.


Air matanya Emir tidak kuasa membanjiri wajahnya, Katanya sang supir tersebut tidak mampu untuk mengendalikan laju mobilnya sehingga langsung menabrak beberapa pengendara sepeda motor maupun mobil yang kebetulan berhenti di sekitar lampu merah," raut wajahnya sendu.


Rima memeluk erat tubuh suaminya yang sudah terguncang,"tidak beberapa lama mobil truk tersebut meledak dan mobil yang ada di sekitarnya ikut meledak bahkan banyak bangunan yang ada di sekitar lokasi kejadian ikut menjadi korban dalam tragedi maut tersebut," tutur Emir panjang lebar.


Rizal menambahkan, "Aku juga dapat kabar dari kronologi kejadian tersebut tidak jauh beda dengan penuturan Emir dan banyak cctv yang merekam kejadian tersebut" timpal Rizal.


Hana yang awalnya berdiri di depan ruangan operasi tidak sengaja mendengar percakapan antara Adit, Emir dan beberapa keluarga lainnya. Dibuat shock mendengar kenyataan tersebut.


Hana berjalan ke arah mereka, "Itu tidak mungkin!! pasti kakak salah pasti suamiku tidak ada di sana saat kejadian, aku yakin yang ada di dalam bukanlah Ricky suamiku," ucap Hana yang histeris dan berteriak.


"Aaahhhhh sakit!!" teriak Hana langsung mengeluh sakit dibagian perutnya.


"Hana! Sepertinya kamu akan melahirkan!" Ujarnya Rima.


"Kak sakit sekali!" ucap Hana.


Hana sambil memegang erat tangannya Dinda saking kuatnya hingga Dinda merasakan perih di lengannya. Peluh keringatnya membasahi sekujur tubuhnya Hana.

__ADS_1


"Ayo ambil bangkar!!" teriak Dinda ke arah anak buah suaminya.


Dinda menahan perihnya akibat cakaran kuku tajam Hana. Ia masih sanggup menahan perihnya cakaran tersebut.


"Mas Adit bersama Emir di sini saja dan kabari kami jika ada berita perkembangan operasinya Ricky!" Pintanya Dinda.


Dinda berjalan cepat untuk mengejar Hana yang sudah dibawa ke ruang bersalin yang cukup jauh dari tempat operasi Hana. Dinda dan Rima segera membawa ke arah ruangan bersalin. Sedangkan Adit menelpon Aerin untuk segera membantu persalinan Hana yang terbilang cukup sulit juga.


"Hana! amu harus kuat demi anakmu!" ucap Rima yang ikut berlari di samping bangkar Hana yang didorong oleh beberapa perawat yang sedang bertugas.


Rafli terus menghubungi nomor hp Aerina tapi masih belum diangkat, "gimana hasilnya apa Aulia sudah mengangkat teleponnya?" tanya Adit yang tidak sabaran.


"Tidak, mungkin Aerin masih mengoperasi pasiennya yang katanya hari ini banyak," jelas Rafli menjelaskan tentang kerjaan Istrinya.


Mama Elina dan yang lainnya pun sudah hadir di sana, "Apa kamu sudah menelpon Aditya dan yang lainnya?" tanya Adit.


"Kalau Agus Alhamdulillah dia angkat telponnya, tapi Adli belum karena di Amerika sekarang sudah tengah malam jadi kemungkinan besar Adli dan Esmeralda sudah beristirahat," jawab Emir Hambali yang nampak kecewa.


Di luar sedang khawatir, takut dan sedih sedangkan di dalam ruangan bersalin, suasana tampak tegang karena kondisi Hana yang drop dan jantungnya lemah.

__ADS_1


Aerin dan tim dokter tidak tahu harus berbuat apa karena bingung harus memilih untuk menyelamatkan nyawa Hana atau kah bayinya. Hana dan Tim dokter bertempur di meja operasi hingga tiga jam lamanya. Dengan susah payahnya dan penuh perjuangan.


__ADS_2