
Ratna berpapasan dengan Mama Elisabeth dan langsung menghentikan langkahnya sejenak dan menoleh ke arah Mama Elisabeth.
"Ini semua gara-gara kamu, ingat ini hanya awal dari kehancuranmu, jangan harap hidupmu akan tenang selama kamu tinggal di sini dan satu hal lagi walaupun Kak Arman dan papa sayang sama kamu tapi kau tidak bakalan sayang sama kamu sampai kapan pun," sindir Ratna yang berbisik di telinga Bu Elisabeth sambil menunjuk ke arah dadanya.
Ratna pun berjalan ke arah kamarnya dan langsung membanting pintunya dengan sangat keras.
Buuukkkkk!!.
Bunyi pintu kamar yang dibanting dengan sangat kuatnya. Mama Elisabeth hanya tersenyum menanggapi perkataan dari anak sambungnya. Baginya itu hal yang sudah biasa beliau alami.
"Bantu aku ya Allah untuk meluluhkan dan melembutkan hatinya Ratna," batinnya Bu Elisha.
Ratna kemudian masuk ke dalam kamar mandi dan segera membersihkan dirinya dan bersiap untuk ke luar untuk mencari makanan. Ratna meraih kunci mobilnya yang tergantung di dinding dan tidak lupa mengambil tasnya dan segera berlari ke arah garasi Mobilnya. Ratna memilih mobil sport warna kuningnya yang selalu menjadi mobil kesayangannya.
"Hidupku terasa sial setelah perempuan itu hadir, Papa kenapa Papa menikahnya, Papa tidak sayang lagi kah sama Ratna?" Umpatnya Ratna.
Ratna menyusuri jalanan ibu kota tapi sampai detik ini juga belum menemukan titik terang keberadaan resto atau kafe yang buka.
__ADS_1
"Sial apa satu pun resto tidak ada yang buka jam segini, Apa mereka sudah kaya semua jadi tidak ada lagi yang buka restorannya di jam segini," geramnya Ratna.
Ratna melajukan terus mobilnya hingga ke ujung jalan depan dan Ratna tersenyum melihat ada Restoran siap saji yang terbuka. Ratna pun memarkirkan mobilnya di tempat khusus parkir mobil.
Ratna tersenyum bahagia karena sudah bisa mengisi perutnya yang sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Ratna pun duduk di pojokan Resto dan memanggil pelayan agar segera datang.
"Mas!" Teriak Ratna.
Mas yang dipanggil Ratna pun berjalan ke arahnya dengan senyuman yang cukup manis yang membuat Ratna terkesima dengan senyuman cowok itu yang seolah-olah rasa marahnya yang seharian ini dia rasakan terhempas jauh diterbangkan oleh angin dari mesin pendingin resto tersebut.
Hingga Ratna hanya terdiam dan mematung saja. Padahal pria tersebut sudah bertanya dan mengajak berbicara Ratna yang hanya nampak bengong dan tersenyum sendiri. Pria itu pun bingung dengan kelakuan Ratna yang hanya bisa diam seperti patung saja.
Tapi berulang kali perkataan tersebut dilontarkan oleh Pelayan tersebut tapi tidak digubris sama sekali oleh Ratna.
Pelayan wanita menghampiri mereka dan bertanya.
"Ada big bos dengan cewek ini?" tanyanya dengan suara yang sengaja dikecilkan.
__ADS_1
Firman hanya mengangkat pundaknya tanda tidak mengerti dengan apa yang terjadi dengan perempuan yang ada di depannya ini.
"Jangan-jangan ia kerasukan setan Bos," tebak perempuan itu lagi yang sering disapa oleh orang-orang dengan nama Sinta.
"Bisa jadi dua lagi kerasukan setan karena sedari tadi senyum-senyum gak jelas," timpal Firman.
"Gimana kalau kita sadarkan dia dengan cara seperti ini," usulnya Sinta sambil memukul pundak Ratna.
"Eeeehhh maaf," imbuhnya Ratna yang malu-malu karena apa yang dua lakukan sudah menjadi tontonan gratis untuk pengunjung Restoran seafood tersebut.
"Tidak apa-apa kok Mbak, kami maklum kok, lagian Mbak bukan cewek yang pertama yang terpesona dengan senyuman manis teman saya ini," ucap Sinta sambil tersenyum ke arah Ratna.
"Mbak mau pesan apa?." tanya Firman.
"Sa-ya pesan lobster, kepiting tumis dan Ikan bakar sambal terasi," ujarnya Ratna sedikit gagap.
"Baik Mbak ditunggu yah pesanannya," pungkas Firman.
__ADS_1
Sinta dan Firman berlalu dari hadapan Ratna yang masih bingung dengan apa yang terjadi kepadanya.
"Senyuman itu membuat jantungku berdetak lebih cepat apa yang sedang terjadi dengan jantungku, atau mungkin aku harus segera ke dokter," batin Ratna.