
Hanya mampu memandang dari kejauhan anak-anaknya dan tidak diperbolehkan untuk mendekat dan melewati pintu pagar villa itu yang cukup tinggi. Hal ini dilakukan oleh Mama Elisabeth yang terakhir kalinya karena sudah pasrah terhadap nasibnya sendiri.
Dan di saat dirinya terpuruk ada yang mengulurkan tangannya ke hadapannya dan selalu ada di saat dia butuh bantuan apa pun itu, ya dialah Wiguna Albert Kim Said yang sejak dulu telah diam-diam mencinta dirinya tapi dia tidak pernah mengungkapkan perasaannya kepada Elizabeth. Hingga suatu hari dirinya memutuskan untuk menerima lamaran dari pak Wiguna.
Tangis kesedihan yang dirasakan oleh Mama Elisabeth ketika kembali mengenang masa lalunya. Air matanya sudah membanjiri wajahnya dan menangis tersedu-sedu. Pak Hendry yang menyaksikan langsung ikut bersedih dan sangat menyesali keputusannya dulu.
"Maaf atas semua kesalahanku padamu dulu, Maaf atas duka yang aku torehkan dalam kehidupanmu dulu, Aku berjanji akan memperbaiki semuanya dan mengisi waktu yang telah terbuang," ucap Pak Hendry yang menghapus air matanya.
Lalu berjalan ke arah dimana Istrinya yang masih berdiri menatap lukisan itu. Lalu memeluk tubuh mama Elisabeth dari belakang. Mama Elisabeth terkejut dengan perlakuan yang diterimanya dari Pak Hendry. Dan refleks berpindah dari posisinya berdiri.
"Maaf tolong lepaskan tidak baik dilihat orang apa lagi kita belum buka puasa," cegahnya mama Elisabeth yang sebenarnya agak risih disentuh langsung oleh pak Hendry yang notabene adalah suaminya sendiri.
Pak Hendry langsung mengangkat tangannya ke atas dan berpindah posisi, "Maaf aku tidak berniat untuk membuatmu terkejut ataupun ingin membatalkan puasamu sayang," sesalnya Pak Hendry.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, maaf saya permisi dulu mau ke dapur untuk masak persiapan buka nanti," ucap kilahnya Elisabeth yang langsung pamit untuk ke dapur.
"Kenapa kamu harus repot-repot padahal di rumah kita ini banyak koki yang bisa melakukan itu semua, lagian tangan dan jarimu bisa kasar dan kotor," sanggahnya pak Hendry yang memegang tangannya Elizabeth.
Mama Elisabeth langsung menarik tangannya karena dia tidak ingin membuat dirinya terjatuh ke dalam luka lamanya lagi yang mengakibatkan sejarah terulang untuk ke Dua kalinya.
"Tidak apa-apa kok, aku sudah terbiasa dan anak-anakku lebih senang makan makanan dari hasil tanganku sendiri dari pada koki," kilahnya Mama Elisabeth yang melupakan kalau dua sudah tinggal bersama pak Hendry dan anak sambungnya.
Mama Elisabeth ingin mulai hari ini Suaminya makan masakannya sendiri karena dulu Hendry selalu makan dari hasil masakan koki yang ada. Beberapa jam kemudian makanan pun sudah jadi. Mama Elisabeth kembali ke dalam kamarnya karena ingin mandi sambil menunggu waktu berbuka. Bedug pun berbunyi dan toa mesjid pun sudah mengumandangkan adzan Magrib.
Mama Elisabeth segera memanggil pak Hendri untuk berbuka bersama. Mereka sudah duduk di kursi masing-masing, hanya mereka berdua saja padahal meja makan cukup besar dan panjang yang bisa menampung beberapa kepala rumah tangga. Mereka pun Makan dengan lahapnya.
"Masakan kamu ternyata enak bahkan mengalahkan masakan koki di sini," puji pak Hendry yang tersenyum bangga dengan istri lama rasa baru.
__ADS_1
"Alhamdulillah kalau mas suka dengan masakan Aku, Ahmad gak ikut kita makan yah mas?" tanya Mama Elisabeth.
"Sepertinya Ahmad belum pulang dari kantor," jawab Pak Hendry yang tahu keberadaan Arman yang marah dan menolak pernikahan mereka.
Pintu rumah terbuka lebar dan masuklah seseorang dengan langkah yang lebar dan panjang, rahangnya tampak mengeras dan tidak ada senyuman yang terukir di wajahnya.
Hanya kilatan kebencian dan amarah yang ada. Mama Elisabeth yang melihatnya langsung berdiri dan mendatangi Arman seperti kebiasaan yang dia lakukan terhadap semua anaknya dan anggota keluarga besar Wiguna Albert Kim Said.
"Sini tasmu mama yang bawa masuk," pinta Mama Elisabeth yang mengulurkan tangannya untuk mengambil tas Arman.
Ahmad malah menghempas tangan mama Elisabeth kebelakang dan bahkan membentaknya, "Tidak usah sok perhatian sama saya, kita tidak ada hubungan apa pun dan jangan coba-coba untuk menyentuh semua barang-barang pribadiku apa pun alasannya dan satu hal lagi bagiku semua ibu itu sama semuanya jahat!" bentaknya Ahmad yang menghardik mama Elisabeth pas depan wajahnya lalu berlari menaiki undakan tangga.
Tapi Arman kembali berteriak ke arah Mama Elisabeth sebelum dirinya berada di lantai Dua dan sedikit mundurkan langkah nya.
__ADS_1