
Mereka saling berkenalan satu sama lainnya. Giliran Andrew Andika sahabatnya Roi yang sedari tadi menatap Zoeya dengan tidak bosan-bosannya. Mereka berjabat tangan, berkenalan untuk lebih akrab lagi. Zoe hanya sesekali tersenyum menanggapi perbincangan mereka.
"Andrew," ucapnya lalu mengulurkan tangannya ke arah Zoe.
"Zoe," jawabnya singkat.
Talia yang memperhatikan gerak geriknya Andrew mengerti dengan arti pandangan dan tatapannya ke arah Zoe.
Zoe mendekatkan wajahnya ke atas dadanya Elang, berulang kali dia lakukan hal yang sama. Raut cemas dan ketakutan sangat jelas terlihat di wajahnya.
"Ya Allah ini tidak mungkin, kenapa jantungnya berhenti berdetak, apa aku sebaiknya mencoba untuk memberikan nafas buatan saja?" Lirihnya Zoe.
Kemudian dia segera mendekatkan mulutnya ke atas bibirnya Elang. Dia memberikan nafas buatan hingga berulang kali. Tapi, apa yang dilakukannya tidak membuahkan hasil apa pun.
"Tidak!!!!!"
Teriaknya yang sangat kencang hingga menggema ke seluruh penjuru pantai.
Suaranya terbawa angin malam itu. Tubuhnya yang sudah menggigil kedinginan akibat diterpa angin tidak dihiraukan lagi. Yang ada di dalam pikirannya adalah Elang harus selamat dan baik-baik saja. Banyak sudah pemikiran yang bermunculan di dalam benaknya tentang keselamatan Elang.
"Aku mohon sadarlah Pak, aku minta maaf kalau aku banyak salah," sesalnya Zoe dengan menggoyang lengannya Elang.
Dia terus menekan dadanya Elang seperti orang-orang biasa lakukan sebagai prosedur penyelamatan bagi korban tenggelam. Zoe kembali memberikan nafas buatan agar Elang segera sadarkan diri.
"Kenapa Pak Elang belum sadar juga, apa sebaiknya aku segera bawa dia ke Rumah Sakit, tapi yang terdekat dari sini cuma RS nya Ayah," lirihnya Zoe.
Zoe berlari bergegas ke Kafe yang jarak dari pantai cukup membuat orang ngos-ngosan karena kelelahan berlari. Dinginnya angin malam hingga tubuhnya yang sudah semakin bergetar sama sekali tidak dipedulikan oleh Zoe. Langkahnya semakin panjang hingga sampailah dia di depan Kafe dan bergegas mengemudikan mobilnya ke arah pantai.
Dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Kebetulan karena sudah jam 12 malam, sehingga arus kendaraan di jalan raya sudah sepi jadi, ia bebas mengemudikan mobilnya. Dia memarkirkan mobilnya tepat di samping Elang berbaring.
Ia lakukan hal tersebut agar lebih mudah dan leluasa untuk menggendong tubuh Elang ke dalam mobil yang sangat tinggi itu.
"Bapak harus selamat, aku akan lakukan apapun agar Bapak selamat," cicitnya Zoya.
Dia membaringkan tubuhnya Elang ke jok kursi bagian belakang.
"Sabar yah Pak, bapak pasti selamat, aku akan melakukan apapun agar bapak bisa selamat," ujarnya Zoe.
Zoeya mengemudikan mobilnya, awalnya mengalami kesulitan karena ban mobil bagian kirinya tenggelam ke dalam lubang pasir. Sehingga harus mengerahkan seluruh kekuatannya dalam mengemudikan mobilnya.
"Bertahanlah Pak, aku akan membawa bapak ke RS, aku sangat takut pak jika bapak meninggalkan Zoe," terangnya disertai dengan deraian air matanya.
Ngeeeeeenggg.... Ngeenngg.
Bunyi ban mobil yang terjerembab masuk ke dalam pasir. Bukan Zoeya Saldana Arya Wiguna kalau dia tidak bisa mengatasi masalah seperti itu. Mobilnya kembali melaju di atas aspal malam itu dengan kecepatan tinggi hingga hanya butuh beberapa menit saja sudah sampai di depan Lobby RS DA.
__ADS_1
"Maafkan Zoe pak, Zoe tidak bermaksud untuk mencelakai Bapak, pak please bangunlah," ucapnya sesekali menoleh ke belakang tempat Elang berbaring.
Zoe segera mematikan mesin mobilnya. Lalu berlari ke arah dalam rumah sakit.
"Sus tolong!!!!" teriaknya dengan kekuatan penuh berteriak agar perawat segera membantunya.
Lututnya sulit digerakan tapi,dia tetap berusaha untuk menyelamatkan nyawa Elang. Beberapa perawat berdatangan ke arahnya, dengan mendorong bangkar.
"Tolong selamatkan dia Sus, dari tadi tenggelam di laut," ujarnya.
Perawat sudah berhasil menaikkan tubuhnya Elang lalu mereka segera mendorong bangkar itu. Zoe ikut dengan mereka walaupun kepalanya tiba-tiba pusing berkunang-kunang pandangannya kabur, lututnya sulit untuk digerakkan.
Sehingga hanya dalam hitungan detik saja, tubuhnya sudah tumbang hampir terjatuh ke atas lantai. Untung saja ada tangan panjang yang berhasil menyelamatkannya dari tubuhnya yang menyentuh lantai yang dingin. Beberapa perawat yang bersama mereka terkejut dan shock melihat kejadian tersebut. Pengantar pasien sekarang jadi pasiennya.
Zoe dan Elang berganti posisi. Semua pasang mata perawat itu terbelalak, membulat sempurna hingga mulut mereka menganga hingga segerombolan nyamuk bisa lolos masuk ke dalam mulutnya mereka.
"Ya Allah tubuhmu sangat panas sayang, ini semua gara-gara aku yang sudah bermain pura-pura tenggelam dan tidak sadarkan diri," tuturnya Elang.
Elang tidak perduli dengan tatapan terkejut mereka. Elang melarikan Zoe ke dalam Ruangan ICU.
"Dokter tolong!!!" Pekik Elang.
Dokter segera berlarian ke arah Elang yang menggendong tubuhnya Zoe.
"Dokter cepat tolong istriku," teriaknya lagi yang sudah cemas berlebihan yang menderanya.
"Dokter kenapa kalian hanya saling berpandangan saja haaa!! kalau terjadi sesuatu pada istriku,aku akan hancurkan rumah sakit ini."
Matanya memerah, urat nadinya menonjol jakung di lehernya naik turun, tangannya mengepal menahan amarahnya yang sudah membuncah dan meluap.
"Baik Pak, Kami akan segera melakukan yang terbaik untuk istri bapak," jawabnya.
Salah satu dokter tersebut menghubungi dokter Aulia tapi, nomor hpnya dokter Aulia tidak aktif sehingga mereka memutuskan untuk tidak menghubungi nomor hp lainnya. Mereka hanya takut jika Pemilik Perusahaan Arya Wiguna marah pada mereka.
"Bapak silahkan tunggu di luar saja, kalau bapak berdiri di sini bapak menghalangi jalan dan perkejaan Kami," jelasnya.
Pakaiannya Zoe segera diganti sebelum ditangani oleh dokter. Untungnya saat itu, semua Dokter yang berjaga malam ini adalah perempuan, sehingga mereka bebas membuka dan mengganti pakaian Zoe, agar tidak bertambah kedinginan.
"Bagaimana kondisinya pasien?" tanya salah satu dokter.
"Tubuhnya hanya kelelahan saja dan kedinginan sehingga panas tubuhnya sangat tinggi," jawabnya.
Mereka manggut-manggut dan sedikit bisa bernafas lega karena kondisi Zoe sudah berubah setelah disuntikkan obat, jadi tubuhnya sudah bisa dipasangi cairan infus.
"Bawa ke pasien ke kamar terbaik di RS kita, jangan biarkan orang itu mengamuk dan akibatnya fatal untuk kita semua yang berjaga malam ini," perintah dokter.
__ADS_1
Pintu ICU terbuka, Elang sedari tadi mondar mandir di depan pintu icu. Elang segera berjalan ke arah Dokter. Dan menyerbu berbagai macam pertanyaan tentang gadis pujaan hidupnya.
"Dokter bagaimana dengan Istriku, apa dia baik-baik saja, gak parah kan sakitnya istriku?"
Dokter tersenyum sebelum menjawab pertanyaan dari Elang.
"Syukur alhamdulillah, kalau seperti itu."
"Kami sudah memindahkan Istri bapak ke ruangan VVIP, silahkan jika bapak ingin melihat istrinya," ujar Dokter yang menangani kesehatan Zoe.
Elang berjalan ke arah kamar rawat inap Zoe dan segera menghubungi asisten pribadinya. Dia meminta beberapa potong pakaian untuknya dan untuk Zoe.
"Ini semua terjadi gara-gara kebodohanku."
Langkahnya semakin lebar dan ingin segera sampai ke tempat Zoe berada. Zoe terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit, tubuhnya sudah tidak sehangat tadi, demamnya pun sudah turun. Wajahnya masih pucat pasi.
Elang menciumi keningnya Zoe dengan tetesan air matanya mengalir membasahi pipinya. Ini adalah air mata ke dua kalinya dia teteskan . Yang pertama saat Maminya meninggal dunia dan hari ini dia menangis menyesali perbuatannya.
Silahkan mampir juga ke novel aku yg lainnya ceritanya tidak kalah seru dengan My Queen Heart loh...
dilema diantara dua pilihan
cinta dan dendam
pelakor pilihan
hanya sekedar pengasuh
cinta ceo pesakitan
ketika kesetianku dipertanyakan
menggenggam asa
cinta kedua ceo
kau hanya milikku
Makasih banyak bagi kakak readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...
Tetap dukung my queen heart dengan cara like setiap babnya, rate bintang 5, favoritkan dan votenya serta komentarnya yah...
__ADS_1
Maaf jika banyak terdapat kesalahan dalam pengetikannya atau typonya...