Queen My Heart

Queen My Heart
Bab. 278


__ADS_3

Ratna melihat ada satu keluarga yang sedang berkumpul bersama di sebuah taman sambil menikmati indahnya pemandangan taman tersebut. Ratna menghapus jejak air matanya.


Ratna lalu mengemudikan mobilnya ke arah lain dikarenakan senja telah datang, matahari telah terbenam di ufuk barat dengan kilauan cahayanya yang membuat mereka yang senang dengan cahayanya menikmati indahnya warna matahari yang sedang terbenam.


Ratna duduk di atas kap mesin mobilnya. Ratna melihat banyaknya orang yang sedang sibuk berlalu lalang dengan membawa berbagai macam kantong kresek yang berisi beberapa takjil untuk persiapan buka puasa mereka bersama dengan keluarga atau pun dengan orang terkasih.


Ratna merasakan kesepian yang mendalam padahal dirinya berada di tengah keramaian. Suasana semakin ramai dikala ada beberapa mobil yang sengaja parkir di sekitar area taman yang menjajakan dagangannya bahkan tidak jauh dari sana ada juga yang berbagi takjil dan sembako gratis.


Hingga malam hari Ratna masih betah di taman tersebut. Karena perutnya yang keroncong membuatnya mencari makanan, Ratna merogoh tasnya dan memeriksa isi dompetnya yang hanya terisi beberapa lembar uang biru saja.


"Mulai sekarang aku harus berhemat karena papa dan Kakak Arman sudah tidak perduli lagi dengan hidupku," Lirihnya Ratna.


Ratna terpaksa membeli makanan yang dijual di sekitar taman saja. Ratna agak enggan untuk ikut memilih dan mengantri di salah satu warung lesehan yang ada di yaman tersebut tapi mau tidak mau dia harus ikut membeli dan makan.


Ratna sudah duduk di warung lesehan yang menjajakan makanan yang cukup menggiurkan dan menggoyang lidah. Yaitu warung ayam goreng dan ber-bagai jenis ikan bakar dan aneka gorengan.


Warung lesehan tersebut tersedia hanya jika malam telah datang, maka sang pemilik Warung berbondong bondong untuk membuka dan memasang perlengkapan Warung mereka yang hanya untuk semalam saja.

__ADS_1


Ratna sudah duduk manis di dalam salah satu warung dan sudah memesan ikan goreng beserta sambal lalapannya. Tidak berapa lama Mas yang punya warung membawa beberapa piring di atas nampang yang berisi ikan goreng beserta teman-temannya dan tak lupa air putih di dalam sebuah mangkok kecil.


Ratna langsung berselera hanya mencium dari aromanya saja sudah membuat perutnya semakin berdisko. Ratna pun mulai ingin menyantap makanannya tapi heran karena tidak melihat adanya kelengkapan makan seperti sendok atau pun garpu.


Ratna pun memperhatikan sekeliling warung yang semua pelanggan tidak ada satu pun dari mereka yang makan memakai sendok. Ia pun mulai makan dengan menggunakan tangan kanannya dan agak kagok karena selama dia tinggal di Villa Ratna sudah tidak pernah memakai tangan lagi. Dia pun membiasakan dirinya karena perutnya yang terus berontak untuk diisi sedari tadi.


Ratna kerepotan memakan makanannya menggunakan langsung tangannya. Sedangkan ada seseorang di pojokan warung terus memperhatikan tingkah laku Ratna yang lucu di matanya dan membuatnya semakin tertawa. Orang tersebut sedari tadi mengikuti langkah Ratna sejak dari panti asuhan hingga ke dalam warung.


"Rasanya enak, dengan harga yang terjangkau dan semua kalangan bisa menikmatinya," cicitnya Ratna Antika Monata.


Ratna segera menyelesaikan makannya dan berjalan ke arah Mas yang punya warung. Ratna memberikan selembar uang kertas berwarna biru dan Mas tersebut memberikan kelebihan uang dari Ratna.


"Malahan Mas senang loh, kalau Mbak bantu promosi warung Mas," ucap Mas tersebut yang bahagia.


"Kalau gitu Ratna pamit dulu yah Mas, kapan-kapan Ratna akan ke sini lagi tapi Ratna mau pakai gratis hehehe," candanya Ratna yang tertawa dengan perkataannya sendiri cengengesan.


"Pokoknya wokeh lah Mbak," balas Mas tersebut.

__ADS_1


Itu lah sisi lain Ratna Antika Monata yang memiliki dua sisi dalam dirinya yang kadang muncul di saat situasi dan kondisi yang sesuai dengan keadaan. Kadang akan marah jika hal tersebut memancing emosinya dan akan ramah jika lawan bicaranya ramah dan sopan.


Sedangkan Armani yang sudah ngomel-ngomel karena Arimbi belum muncul juga ke dalam kamarnya sedangkan di dalam kamar Ardian Liem dan Aliena.


"Ya Allah… istriku benar-benar mengundang sesuatu yang harus bangkit," Gumam Ardian.


Ardian hanya geleng-geleng kepala melihat istrinya Aliena Ratna Antika Monata. Ia yang sudah tertidur pulas tapi dengan gayanya yang memancing sesuatu yang ada di dalam dirinya Firman Untuk segera dituntaskan dan dikeluarkan.


Ayunda setelah acara buka bersama dengan keluarga besarnya, berjalan ke arah taman belakang Villa tersebut dan pandangan matanya terarah ke sosok seseorang yang sedang berdiri untuk mengantri mengambil sembako dan beberapa bantuan lainnya.


Ayunda sangat penasaran dengan sosok pria tersebut dan terus mengikuti ke mana arah langkah kaki orang tersebut. Sedangkan Arkana sedang bermain dengan para sepupunya.


Ayunda pun semakin mendekati ke arah pria tersebut ia baru ingin menyentuh pundak orang tersebut tapi tiba-tiba ada yang memanggilnya. Sehingga dia tidak jadi menyentuh orang tersebut yang menurut pandangan matanya sangat familiar dengan sosok orang tersebut.


Ayunda seakan-akan sangat mengenal pria tersebut. Tapi keinginan tahuannya terganggu karena ibu Elisha memanggilnya karena Arjuna menangis.


"Ayunda! anakmu menangis!" teriak Mama Elisah yang memanggil namanya Ayunda.

__ADS_1


"Iya Bu tunggu sebentar yah!" ucapnya Ayunda yang masih penasaran dengan siapa orang tersebut.


Didikan Linda mantan istrinya pak Hendry banyak memakan korban. Anak terlahir bagaikan kertas putih yang kosong, karakter anak akan terbentuk tergantung dari lingkungan dan didikan dari orang di sekitarnya.


__ADS_2