Queen My Heart

Queen My Heart
Bab. 290


__ADS_3

"Zidane juga kangen sama Nenek, gimana kabarnya grmadma apa baik-baik saja?" tanya Zidane.


"Alhamdulillah Nenek baik-baik saja, kalau Zi gimana kabarnya Apa Zi, hari ini puasa?" tanya lagi Mama Elisah yang membawa tubuh cucunya untuk duduk di kursi ruang tengah rumahnya.


"Alhamdulillah Zi juga baik dan sehat, saya juga puasa Grandma nanti habis shalat zhuhur aku baru buka puasa," jawab polos Zi.


"Nenek bahagia dengarnya sayang, Mama dan Ayah Zi di mana mereka ikut sama Zi atau Zi hanya sendiri di rumah utama?" tanyanya Bu Elisabeth yang memandang seluruh penjuru rumahannya tapi tidak menemukan sosok putra keduanya.


"Ayah sama Mama ada di kantornya Zi di sini hanya ditemani sama Mbak baby sitter nya grandma," jelas Zi.


Raut wajah Bu Elisah kembali murung. Padahal dirinya sangat ingin bertemu dengan anak dan menantunya, "Kalau gitu temani Nenek hari ini Nenek mau jalan-jalan keliling rumah," imbuhnya Bu Elisa yang memegang tangan imut cucunya.


"Nenek balik ke rumah Pak Hendra kapan?" tanya polos Zidane yang sudah bergandengan tangan dengan neneknya.


"Insya Allah Nenek akan menginap disini malam nanti besok pagi baru Nenek balik lagi ke vila," jawab Bu Elisyah.


"Ohh gitu yah Nek," ucap Zi.


Hingga sore hari mereka menghabiskan waktunya bersama, Ibu Elisabeth sekarang menidurkan baby Zi dengan membacakan sebuah dongeng, Baby setiap kali mau tidur pasti dibacakan terlebih dahulu oleh Dinda.


Ayahnya ataupun baby sitternya sendiri, ibu Elisha membacakan dongeng tentang Aladdin hingga mata Zi perlahan terpejam dan sudah mendengkur halus.

__ADS_1


"Tingkahmu saat tidur sangat mirip dengan ayahmu, dia tidak akan bisa tidur jika tidak ada yang membacakan buku cerita anak kepadanya," batinnya Bu Elisha.


Bu Elisha menyelimuti tubuh cucunya dan mengecilkan suhu pendingin ruangannya. Lalu berjalan ke arah luar untuk menuju dapur karena jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah lima sore atau jam 16:35 WIB.


"Selamat datang kembali Nyonya Besar," sapanya serentak semua pelayan yang baru menyadari kedatangan Nyonya Elysa.


"Maafkan kami nyonya besar yang tidak tahu kalau Nyonya datang ke rumah,"sesalnya kepala koki Bu Widya rumahnya yang menundukkan kepalanya.


"Alhamdulillah. Hidupku memang tidak sempurna, tetapi aku selalu bersyukur atas apa yang aku miliki karena semua itu juga pemberian dari Tuhan."


"Keindahan hidup akan kamu rasakan ketika kamu mau mensyukuri segala hal yang sudah kamu miliki.


"Maaf ganggu nak, orang yang akan membantu kamu untuk mengaji sudah datang," imbuhnya Mama Elisabeth yang tersenyum penuh arti ke arah Arman.


Bersyukur terhadap rezeki yang diberikan Allah hendaklah selalu berucap dengan alhamdulillah."


"Tidak apa-apa Kok, santai saja lagian aku juga yang salah tidak mengabari kalian terlebih dahulu sebelum ke sini juga," tutur Bu Salma yang senang karena kepulangannya kali ini disambut hangat dan baik oleh semua orang yang bekerja di kediaman Utama.


"Apa yang Nyonya butuhkan sehingga datang ke dapur? kalau ada yang Nyonya butuhkan tinggal memerintah kepada kami Nyonya saja gak perlu sungkan dan segan kepada kami," tanya kepala koki tersebut.


"Kamu seperti lupa saja kebiasaanku yang setiap hari masak makanan khusus untuk anak-anak dan suamiku," timpalnya Mama Elisah sambil memasangkan apron ke tubuhnya.

__ADS_1


Pak Anton tersenyum tipis seraya berucap,"Ijinkan kami membantu Nyonya," pintanya Pak Antoni kembali kepala koki tersebut.


"Makasih banyak, silahkan kalau kalian ingin membantuku,"sahut Mama Elisha Selma Ridha Wijayanto.


"Nyonya mau masak apa biarkan saya siapkan bahan-bahannya terlebih dahulu" ucap kepala koki yang menawarkan bantuan.


Ratna hanya bisa berdoa saja semoga malam pertamanya lancar jaya dan tanpa hambatan seperti jalannya di tol. Mereka sudah berkumpul di ruangan yang sudah ditentukan oleh Pak Hendry Wijaya selaku pemilik rumah itu.


Apa karena ada hubungannya dengan perkataan dari Ardiansyah dan Aryanta yang mengatakan kepada Ariel Hermansyah kalau malam pertama itu sangat meyakitkan dan jarang ada perempuan yang selamat dari malam pertamanya.


Ardiansyah Bagaskara dan Arta Martadinata hanya mengerjai Arman saja dan mereka ingin melihat reaksi dari Ariel. Mungkin karena itu lah Aril saking sayangnya kepada Aurel sehingga termakan tipu muslihat dari Artha dan juga Ardian.


Sedangkan di kamar lainnya Agnes yang ingin mengganti pakaiannya karena sudah mandi dan membuka pintu lemarinya dan bola matanya terbelalak saking tidak percayanya dengan apa yang dilihatnya.


Semua pakaiannya yang sebelumnya sering dia pakai semuanya tidak ada di dalam lemari pakaiannya. Yang ada hanyalah pakaian yang kekurangan bahan.


"Apa yang terjadi dengan lemariku, semua pakaianku di taruh dimana dan ini juga pakaian apaan nih yang sangat tipis apa semua benang dan kain di pasaran sudah habis, sepertinya yang buat pakaian ini kekurangan modal," batinnya Agnes.


Agnes mengangkat dan menggantung pakaian tersebut ke atas kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.


"Pasti ada yang sengaja menukar pakaianku dengan pakaian ini dan buku apa nih? apa buku tentang cara yang baik dalam menghadapi suami di malam pertama," gumam Agnes.

__ADS_1


Keluarga besar Karina yang dari pulau Sumatera dan Bali sangat bersyukur dan bahagia bahkan mereka tidak hentinya memuji kemegahan Villa milik mertua Karina.


"Kalian kampungan banget sih, mentang-mentang kalian baru pertama kali menginjakkan kaki di Villa yang besar seperti ini, menurut saya reaksi kalian terlalu berlebihan dan sangat norak," sarkas sepupu Karina yang dari bapaknya yang bernama Linda.


__ADS_2