
Tawa bahagia yang sebelumnya menghiasi kediaman utama Wiguna Albert Kim Said sekarang berubah jadi tangis pilu yang menyayat hati. Mama Elisabeth menangis dalam diamnya. Sedangkan cucu-cucunya pun ikut menangis melihat kepergian kakek mereka di depan matanya.
Jenazah Pak Wiguna sudah dibawa ke dalam ruangan khusus. Berita duka atas kematian Pak Wiguna sudah tersebar ke seluruh seantero Negeri bahkan sampai ke luar negri.
Kesedihan dan luka mendalam sangat dirasakan oleh keluarga besar Wiguna dan masyarakat yang sudah mendengar kabar tersebut pun ikut menangis mendengar berita tersebut yang disiarkan langsung di televisi.
Rumah mewah dan megah itu awalnya dihiasi oleh hiasan khusus pengantin dengan penuh warna-warni sekarang berubah dalam sekejap menjadi rumah duka cita yang sudah dipenuhi oleh karangan bunga ucapan turut berbelasungkawa.
Rumah tersebut yang awalnya dihiasi dengan canda tawa dan nyanyian dari tamu undangan sekarang berubah menjadi Isak tangis dan ratapan dari anggota keluarga Wiguna.
Baju seragam yang mereka pakai di dalam pesta syukuran pernikahan Rangga dan Aulia pun sudah berganti dengan pakaian berkabung. Rumah yang besar dengan fasilitas yang lengkap pun sudah mulai dipadati oleh berbagai kalangan masyarakat.
Tetapi mereka tetap melaksanakan protokol kesehatan. Anak buah Arya pun memfasilitasi mereka dengan cara membagikan kepada pelayat dengan masker gratis dan diperiksa satu persatu yang datang apakah vaksinnya sudah lengkap atau pun belum. Jika belum lengkap mereka akan dilarang masuk dan peraturan tersebut berlaku untuk siapa pun.
Hari ini adalah hari akad nikah dari Rangga Azof dan Aulia Maharani sekaligus menjadi hari terakhir pak Wiguna di dunia ini. Mama Elisabeth tak kuasa melihat tubuh suaminya yang sudah lebih tiga puluh tahun menemaninya terbujur kaku di dihadapannya.
Hingga tubuhnya pun tumbang. Delia yang ada didekat mertuanya langsung memeluk tubuh mama mertuanya agar tidak terjatuh ke lantai. Dan Eliana yang ada di depannya pun ikut membantu Delia untuk membangunkan mamanya yang sudah pingsan.
"Mama bangun Ma, jangan begini ma kasihan Ayah" ucap Eliana.
"Ambil Minyak kayu putih" perintah Delia.
__ADS_1
Eliana pun tidak henti-hentinya menangis.
Canda tawa pak Wiguna masih terngiang di telinga mereka.
"Eliana kamu harus sabar," ucap Rina.
"Aku sudah tidak punya sosok Ayah yang selalu melindungi kami anak-anak dan cucunya," kepergian ayah yang tiba-tiba sangat membuatku terpukul Rina" ucap Elliana.
"Saya tahu itu, tapi kasihan juga sama Om jika kalian tidak ada yang mengikhlaskan kepergian om Wiguna itu sama saja kalian menyiksa Om," ucap Dessy.
"Ayah sangat kuat menanggung beban penyakitnya, kata dokter sudah setahun Ayah menderita asma dan jantung," ucap Emilia.
"Mungkin ini ada kaitannya dengan luka bekas tembakan ayah yang sempat membuat ayah sampai koma bertahun-tahun," ucap Delia.
"Mungkin paman tidak ingin memberikan beban fikiran kepada kalian" jawab Rina sambil mengelus lengan Eliana
Satu persatu pelayak datang bergantian ke rumah pak Wiguna. Mereka sangat terpukul dan kehilangan sosok seorang pimpinan perusahaan dan Ayah yang baik, bijaksana dan suka menolong orang lain yang sedang kesusahan.
Mereka sangat kehilangan sosok yang selalu mereka puji, Karena ketulusan dan kebaikan hatinya pak Wiguna yang tanpa banyak pikir akan membantu mengatasi masalah dari orang-orang yang datang meminta bantuan.
silahkan mampir juga ke novel aku yg lainnya ceritanya tidak kalah seru dengan my queen heart loh...
__ADS_1
dilema diantara dua pilihan
cinta dan dendam
pelakor pilihan
hanya sekedar pengasuh
cinta ceo pesakitan
ketika kesetianku dipertanyakan
menggenggam asa
cinta kedua ceo
kau hanya milikku
__ADS_1
makasih banyak bagi kakak readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...
tetap dukung my queen heart dengan cara like setiap babnya, rate bintang 5, favoritkan dan votenya serta komentarnya yah....