
Arman dat Ratna sudah sepakat dengan rencana Arman yang menutupi kenyataan kalau dirinya sudah sembuh sebelum Karina menyatakan perasaannya terhadap Arman. Arman pun meminta izin kepada mamanya untuk membantunya merahasiakan hubungannya dengan Ratna yang saudara di depan Karina.
Arman pun meminta kepada seluruh maid dan Security untuk tidak ada yang membuka rahasia mereka di depan Karina. Pandangan mata Ratna dan Nyonya Elisah saking berserobot.
"Alhamdulillah akhirnya buka juga, Allah mendengar doa pengantin baru kita!" teriak Ahmed yang masih bekerja untuk membagikan sisa sembako kepada masyarakat yang membutuhkan.
"Alhamdulillah akhirnya Aku bisa melakukan hal itu, tunggu aku Karina kita lihat apa kamu sanggup untuk melayani aku atau tidak," batinnya Armani.
Karena berhubung masyarakat yang ada di sana semakin larut semakin berkurang jumlahnya saja hingga tak ada satu pun yang masih memadati area Villa milik Pak Hendra.
"Alhamdulillah akhirnya semuanya sudah selesai dan berjalan lancar saja tanpa ada hambatan atau kendala yang berarti dalam pelaksanaan acara akad nikah double antara Arman dengan Karina dan antara Firman dengan Ratna," gumamnya Ayu Sita.
Warga masyarakat yang hadir di tempat tersebut sangat bahagia karena mendapatkan hadiah berupa sembako serta bantuan tunai langsung yang diberikan oleh keluarga besar Wiguna Albert Kim Said dan keluarga besar Agnes Kanya Adinda.
Mereka pun masuk ke dalam Villa untuk berbuka bersama dengan keluarga yang lainnya. Mereka sudah duduk di masing-masing tempat yang sudah disusun sesuai dengan rencana awal mama Elisah.
Mereka sangat bahagia dan bersyukur karena acara yang mereka laksanakan sudah berjalan dengan baik dan lancar tanpa ada hambatan yang sangat berarti.
Pak Hendra pun mengucapkan syukur dan makasih atas kedatangannya anggota keluarga besar Winata Afrizal Kusuma Prayoga untuk melancarkan acara akad nikah dan acara syukuran pernikahan mereka.
"Alhamdulillah Papa sangat bahagia karena pernikahan kalian bisa selancar dan sesukses ini, dan ini berkat bantuan dan campur tangan kalian pasti acaranya tidak seramai ini," ucap syukur Pak Hendry yang sangat bersyukur bisa menikahkan kedua anak kembarnya secara bersamaan pula seperti apa yang mereka harapkan.
"Bapak tidak perlu mengucap makasih kepada kami karena kalian adalah anggota keluarga kami dan sudah menjadi tanggung jawab kami untuk membantu anggota keluarga yang membutuhkan bantuan apa pun itu," jelas Arsene.
"Iya Paman, kami senang membantu paman dan kami juga turut berbahagia atas pernikahan antara Arman dan Agnes," ujarnya Ahmed.
"Betul sekali apa yang dikatakan oleh Arsene dan Ahmed kita ini semua bersaudara jadi sudah menjadi tanggung jawab kami untuk membantu
semampu kami," imbuhnya Arfandi yang ikut berbicara.
"Di keluarga kami seperti itu Paman berat sama dipikul ringan sama dijinjing, tetapi itu pun sesuai dengan kemampuan kami juga," ucapnya Arinda Farhana Winata Sing.
__ADS_1
"Mama sangat bahagia melihat kalian seperti sekarang ini dan Mama berharap apa pun yang akan terjadi nanti Mama mohon tetaplah bersatu dan jangan mudah terprovokasi oleh apa juga," ucap Bu Elisyah yang berharap agar mereka tetap selalu kompak dan saling menerima segala kekurangan apa pun itu.
"Kalau gitu kita makan yuk lapar nih Tante Elisaeh," tuturnya Angelina.
Angela yang sudah tidak sabar ingin menikmati makanan yang tersedia di atas meja makan yang cukup besar dan panjang. Mereka tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan dari Angela yang kalau berhubungan dengan makanan pasti akan lupa dengan segala hal.
Anaknya pun tidak dihiraukan jika sudah dihadapkan pada makanan yang pastinya lezat dan menggugah selera makan bagi siapapun juga.
Malam yang begitu panjang dan membuat beberapa pasangan sudah Memasuki kamar mereka masing-masing terutama kepada anak cucu dan cicitnya Mama Elisah yang sudah berada di dalam kamar mereka masing-masing.
Sedangkan Armani yang sudah ngomel-ngomel karena Arimbi belum muncul juga ke dalam kamarnya sedangkan di dalam kamar Ardian Liem dan Aliena.
"Ya Allah… istriku benar-benar mengundang sesuatu yang harus bangkit," Gumam Ardian.
Ardian hanya geleng-geleng kepala melihat istrinya Aliena Ratna Antika Monata. Ia yang sudah tertidur pulas tapi dengan gayanya yang memancing sesuatu yang ada di dalam dirinya Firman Untuk segera dituntaskan dan dikeluarkan.
Ratna dan Bu Elisabeth merasakan ada desiran aneh yang terjadi di dalam hati mereka. Ada perasaan aneh yang tidak bisa mereka gambarkan dari pandangan mereka.
Arman sudah terbangun dari tidurnya seperti halnya dengan yang lain tapi hal itu tidak berlaku untuk Ratna yang masih bergelut dengan selimut tebalnya. Matanya masih asyik terpejam dan tidak ada niat untuk bangun dari tidurnya.
Bu Elisah mendatangi kamar Ratna Antika Monata untuk membangunkannya agar ikut bergabung makan sahur bersama dengan yang lainnya. Pak Hendry, Arman dan Karina pun sudah duduk di kursi masing-masing, hanya minus Ratna yang belum hadir.
Tok... Tok.. Tok...
Berulang kali Nyonya Elisabeth mengetuk pintu kamar Ratna tapi tidak ada jawaban apa pun. Tapi, ia belum menyerah juga. Pintu kayu jati yang bercat putih itu menjadi saksi pantang menyerahnya Bu Elisabeth untuk membangunkan Ratna. Hingga tangan Bu Elisabeth memerah tapi Ratna tetap tidak bangun juga.
"Mungkin Ratna tidak terbiasa bangun jam segini jadi tidak bangun dan mungkin dalam hidupnya tidak pernah puasa, tapi aku akan membantu Ratna agar terbiasa puasa," batinnya Bu Elisyah.
Mama Elisabeth berjalan ke arah dapur dengan senyuman yang terus mengembang dan tidak ingin menampilkan wajah kecewanya karena tidak berhasil membangunkan Ratna untuk makan sahur.
"Kok Ratna nya gak ikut sama mama, apa Ratna gak bangun?" tanya Arman yang sudah tahu kalau Ratna tidak bakalan bangun.
__ADS_1
"Mungkin adikmu capek jadi gak bangun," imbuhnya Bu Elisha yang tersenyum ke arah putranya.
"Tapi kalau tidak dimulai dari sekarang kapan lagi, Ratna itu sudah besar bukan anak sekolah dasar lagi yang masih harus dimengerti" ucap Pak Hendry yang sedikit marah dengan sikap kekanak-kanakan Ratna.
"Kita tidak boleh memaksakan kehendak kita dan kita harus mengajari Ratna dengan perlahan-lahan dan dengan lembut jangan pakai kekerasan," ujarnya sambil memegang tangan suaminya yang sudah ingin berdiri tapi dicegah oleh Mama Elisabeth.
"Mama Ratna itu bukan anak kecil yang harus dilembuti mulu, kapan Ratna bisa berubah untuk jadi perempuan yang baik jika kita biarkan Ratna seperti itu Ma," ungkapnya Arman yang sedikit esmosi.
"Mama ingin melihat kalian baik tapi bukan berarti Mama harus memaksakan kehendak Mama dengan cara kekerasan, Mama akan mengajarkan Ratna perlahan, dan insya Allah Ratna bisa berubah," ucap Mama Elisabeth.
Karina hanya menyantap makanannya tanpa ada niat untuk ikut dalam pembahasan mereka karena itu bukanlah haknya untuk ikut berbicara karena dia hanya lah orang luar.
"Ayok kita makan nanti masuk waktu imsak lagi," ujarnya Bu Elisyah.
Mereka pun menikmati makanan yang ada di atas meja makan. Selama Mama Elisabeth yang mengolah dapur di Villa itu, Pak Hendry dan Arman sudah tidak pernah makan di luar kecuali dalam keadaan yang mendesak.
Seperti ada kliennya yang meminta mereka untuk makan bersama. Siang harinya sekitar pukul 1 siang Ratna baru bangun dari tidurnya. Ratna berjalan ke arah dapur karena perutnya sudah keroncongan minta diisi.
"Pak Ade!" teriak Ratna yang sudah duduk di kursi meja makan tapi tidak menemukan makanan apa pun.
Pak Ade yang dipanggil dengan suara yang cukup besar dan lantang itu langsung berjalan tergopoh-gopoh ke arah meja, "Maaf Nona muda memanggil bapak?" tanya Pak Ade. Apa karena ada hubungannya dengan perkataan dari Ardiansyah dan Aryanta yang mengatakan kepada Ariel Hermansyah kalau malam pertama itu sangat meyakitkan dan jarang ada perempuan yang selamat dari malam pertamanya.
Ardiansyah Bagaskara dan Arta Martadinata hanya mengerjai Arman saja dan mereka ingin melihat reaksi dari Ariel. Mungkin karena itu lah Aril saking sayangnya kepada Aurel sehingga termakan tipu muslihat dari Artha dan juga Ardian.
"Iya betul sekali emangnya di rumah ini ada berapa orang yang bernama Pak Ade," timpalnya Ratna yang mulai jengah dengan jawaban Pak Ade.
"Saya kira Bapak salah dengar," guraunya Ade dengan tawa cengengesannya.
"Diam!! bapak tidak usah tersenyum atau pun tertawa aku panggil bapak ke sini bukan untuk tertawa," gertaknya Ratna yang membentak Pak Ade dengan meninggikan suaranya.
Pak Ade hanya mengelus dadanya saja dan sudah tahu tabiat dan karakter Ratna seperti apa, "Siapkan makanan untukku, Saya ingin makan siang!" Ketusnya Ratna yang semakin jengkel dengan sikap Pak Ade.
__ADS_1