Queen My Heart

Queen My Heart
Bab. 59. Awal Yang Baik


__ADS_3

Kebahagiaan jelas terpancar dari wajah-wajah Orang yang memenuhi ruangan tempat pelaksanaan acara akad nikah antara Andreas dan Pricilla.


New bersyukur karena Pricilla mendapatkan ijin dan restu dari pihak keluarga Papi dan maminya langsung. Hanya Papinya saja yang tidak datang menghadiri acara sakral dan penting keduanya.


Pernikahan yang bahagia adalah tentang tiga hal:


Mengenang kebersamaan, Memaafkan kesalahan pasangan dan berjanji untuk tidak akan pernah menyerah Satu sama lain


Pagi harinya, seperti biasanya Delia selalu bangun lebih awal dari penghuni Rumahnya. Bahkan Delia lebih cepat bangunnya dari pada asisten rumah tangganya di rumahnya. Dia selalu bangun pagi untuk menyiapkan segala sesuatunya untuk anak dan suaminya di pagi hari.


"Aku harus menyuguhkan makanan yang lezat untuk mereka supaya mereka bisa menikmati rasa nikmat dari masakan khas Nusantara, mereka secara kan bule orang luar negeri," gumam Delia.


Seperti menyiapkan makanan untuk sarapan mereka. Pagi ini rumahnya cukup ramai dengan suasana pengantin baru. Mereka yang berada di rumah itu, sudah berkumpul untuk makan pagi.


Mereka bercengkrama seperti biasanya sebelum memulai acara makannya. Suasana kekeluargaan sangat terasa kental di antara mereka.


Makanan pun sudah tersaji di hadapan mereka. Hari ini Delia memasak makanan khas Nusantara, atas permintaan dari Nyonya Lusiana ibunda Pricilla.


Arya melihat istrinya sudah sibuk di dapur, ia tidak ingin mengganggu kegiatan dari Istrinya. Ibu Luciana menyukai cita rasa masakan yang dimasak oleh Delia sangatlah otentik dan rasa rempah dan bumbunya terasa sekali.


Makanan yang dimasak oleh Delia mempunyai cita rasa sendiri. Ada rendang daging, telur balado, orak arik tempe, semuanya cita rasa asli Nusantara.


"Assalamu alaikum, Aunty Delia," ucap Cilla yang baru saja masuk ke dalam dapur di rumah itu.


Delia yang baru saja duduk menolehkan kepalanya ke arah Cilla sambil tersenyum manis menyambut kedatangan istri keponakannya.


"Ada apa sayang?" tanya Delia.


"Aunty yang punya Kamar bagian sana yang dekat dengan dapur itu kamar atau ruangan kosong?" tanya Cilla yang ingin mengetahui hal tersebut.


Delia dan yang lainnya mengarahkan pandangannya ke arah kamar yang ditunjuk oleh Margaretha Agatha Pricilla.


"Emangnya ada apa sayang?" tanya balik Delia.

__ADS_1


"Gini Aunty, semalam Abang Andreas kan ceritanya kehausan terus dia ke lantai bawah mo ke dapur ambil minum, tapi sebelum sampai di dapur Abang mendengar ada suara seseorang yang menangis," tuturnya.


Di saat Cilla berbicara seperti seseorang yang berdiri sejak tadi langsung pucat pasi dan gemetaran di posisi berdirinya. Tidak lain dia adalah sang pemilik Kamar tersebut. Salah satu maid yang bekerja di Istana ini.


Delia langsung mengarahkan pandangannya ke arah Adinda sang pemilik sekaligus penghuni kamar tersebut. Sedangkan yang ditatap langsung menundukkan kepalanya karena tidak ingin ketahuan jika dia lah yang menangis.


"Kamar itu kan yang Cilla maksud?" tanya balik Delia.


Delia yang menunjuk kamar itu ingin memastikan jawabannya benar atau salah.


"Iya benar sekali Aunty," jawabnya sambil mengangguk tandanya membenarkan bahwa itu benar adanya.


"Itu kamar salah satu maid yang bekerja di Sini sayang dan pemilik Kamar itu orangnya yang sedang berdiri di samping Kamu," balasnya.


Semua orang serentak menghadap ke arah Dinda. Sedangkan yang ditatap semakin grogi dan tidak tahu harus berbuat apa, tapi selalu berusaha untuk menutupi kebenaran yang ada.


"Ya Allah semoga Nyonya dan yang lainnya tidak mengetahui kalau itu aku yang menangis dan mereka tidak akan mengetahui masalah yang membuatku bersedih."


"Adinda, apa benar sumber suara tangisan itu berasal dari kamar kamu?" tanya Delia.


Keringat dingin membasahi pipinya bahkan seluruh pakaiannya pun ikut basah. Apa yang terjadi padanya ketahuan dan dilihat dengan jelas oleh siapa pun yang ada di dalam dapur itu.


"Adinda, Kamu baik-baik saja kan?" tanya Delia yang melihat art kesayangannya itu tidak seperti biasanya, ada yang aneh menurutnya.


Yang ditanya kembali terdiam seribu bahasa, tidak tahu harus menjawab apa. Jujur atau kah menutupi kebenaran yang ada, tapi harus sampai kapan. Adinda pun berperang dengan pemikirannya sendiri. Kebingungan dan dilema melanda hati dan pikiran Perasaannya.


"Adinda apa Kamu baik-baik saja? sepertinya kondisimu kurang baik Kamu istirahat saja dulu, tidak usah bekerja hari ini hingga kondisimu membaik," terang Delia.


"Makasih banyak Nyonya, aku baik-baik saja kok hanya saja," ucapan Adinda menggantung.


"Hanya saja apa Adinda?" tanya Delia dengan raut wajah yang penuh dengan tanda tanya.


Tiba-tiba tanpa ada angin apa pun, Adinda sesegukan dan sesekali terisak dalam tangisnya. Andreas kembali teringat semalam dengan suara tangisan yang dia dengar persis dengan yang dia dengar sekarang.

__ADS_1


"Suara tangisan ini yang semalam Aku dengar, iya benar sekali seperti ini," tutur Andreas yang sangat yakin.


"Maksudnya Andreas?" tanya Arya Wiguna Albert Kim Said yang bingung dengan maksud dari perkataan keponakannya itu.


"Semalam Andreas jujur merinding dan mengira jika yang menangis itu adalah Kunti," jawabnya.


Jawaban itu langsung mendapatkan pukulan ringan dan pelan dari istrinya.


Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya:



Dilema Diantara Dua Pilihan


Cinta dan Dendam


Pelakor Pilihan


Hanya Sekedar Pengasuh


Cinta ceo Pesakitan


Ketika Kesetianku Dipertanyakan


Menggenggam Asa


Cinta Kedua CEO


Kau Hanya Milikku



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...

__ADS_1


Mohon maaf jika ada penulisan yang salah atau terdapat typo...


__ADS_2