
List refleks memeluk tubuh Zidane dengan sangat erat. Perlakuan dari Listie membuat ada sesuatu hal aneh yang tiba-tiba muncul dari dalam lubuk hatinya yang paling terdalam.
"Ada apa ini? aku tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya," batinnya Zidane yang keheranan dengan apa yang terjadi padanya.
Zidane tidak membalas pelukannya Listie, karena ini pertama kalinya dia rasakan dipeluk dengan lawan jenisnya. Saking bahagianya, Listi sedari tadi memeluknya dan tidak ingin melepaskan pelukannya. Zidane yang diperlakukan seperti itu hanya terdiam dan tidak tahu harus berbuat apa.
"Kalau gitu, aku pulang dulu dan mengambil bukti yang bisa membantuku untuk bercerai dengannya," ucapnya Listi sambil berdiri dari duduknya.
"Ingat rekam apa pun yang menurut Kamu bisa membantumu untuk lepas dari jeratannya dan Kamu harus selalu berhati-hati dan waspada agar tidak ketahuan dari Rio Febrianto suamimu," terangnya.
"Makasih banyak," ucapnya lalu mengecup sekilas bibirnya Zidane.
Lesti segera meraih tasnya lalu berlari kecil menuju jalan raya untuk bersiap pulang ke rumah suaminya. Dia sudah tidak memikirkan konsekuensi dari acara kabur-kaburannya. Malahan sekarang dia sangat bahagia karena sudah mendapatkan orang yang tepat untuk membantunya dan mengatasi masalahnya.
Zidane memegang pipinya yang panas kemerahan. Jantungnya berdegup kencang dan tidak teratur. Dia refleks memegang bagian dadanya. Lalu tersenyum penuh arti.
"Apa ini yang dinamakan cinta pada pertemuan pertama? entahlah yang penting aku bahagia melihat senyuman Tante Listi," tuturnya.
Zidane pun memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Dengan wajah selalu berseri-seri dia mengemudikan mobilnya ke arah jalan menuju kediaman Utama kedua orang tuanya. Sedangkan di tempat lain, tepatnya di dalam mobil di mana Elang dan Zoe berada.
Elang menatap ke arah Zoe yang sedari tadi hanya terdiam dan seperti seseorang yang banyak beban pikirannya. Hal seperti ini baru pertama kali dia lihat, dia juga tidak tahu apa yang membuat Zoe bersikap seperti itu. Jika diajak berbicara hanya kebanyakan diam saja.
"Zoe boleh tidak kalau Kamu panggil saya tidak usah pake kata bapak di depannya," pinta Elang yang menatap tajam ke arah Zoeya calon istrinya itu.
Elang melirik ke arah Zoe sedangkan tangannya masih setia menyetir mobilnya.
"Jadi aku harus panggil apa? lagian bapak wajar saja Saya panggil bapak karena bapak adalah Dosenku di Kampus,ke dua bapak lebih tua dari saya bahkan kita selisih 11 tahun loh, bapak itu sudah tua," ujarnya dan langsung menutup mulutnya karena sudah keceplosan mengatakan pria di sampingnya sudah tua.
Elang sama sekali tidak marah, bahkan dia lebih senang dan bahagia melihat reaksi ceria dari Zoe yang sedari tadi dia harapkan. Elang mengelus ujung rambutnya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang yang tulus.
Zoe Saldana yang diperlakukan seperti itu tersenyum bahagia,hatinya menghangat dan kesedihan dan rasa kecewa yang sedari tadi dia rasakan lenyap sudah terbang di bawa angin hingga ke tempat yang sangat jauh.
"Abang ingin pamit sama Kamu, mungkin besok pagi saya sudah kembali ke Inggris karena ada pekerjaan yang penting yang mengharuskan saya harus hadir."
Zoe tersenyum ke arah Elang. Dia sudah melupakan kesedihannya tadi pagi.
"Abang akan kembali ke Indonesia atau tidak lagi?" tanyanya.
"Insya Allah, sebelum hari raya idul adha Abang pasti akan datang lagi," tuturnya Elang.
"Zoe akan menunggu Abang hingga datang kembali dan Zoe janji akan menjawab lamaran Abang," jawabnya lalu membuka pintu mobilnya Elang.
Zoe sudah bersiap untuk keluar dari mobil, langkah kakinya terhenti saat tangannya Elang menariknya. Elang tanpa aba-aba memasangkan gelang yang sangat indah di pergelangan tangan kiri Zoe. Gelang itu adalah peninggalan dari Maminya sebelum meninggal dunia.
"Makasih banyak," pungkasnya lagi.
"Abang harap kedatanganku nanti adalah saat Kamu akan menjawab yes," ujarnya sebelum mengemudikan mobilnya ke arah luar halaman rumahnya Arya Wiguna.
__ADS_1
Tubuh Zoe sehat total lebih cepat dari perkiraan dokter. Sehingga dia tidak ingin diantar masuk oleh Elang. Zoe membuka pintu rumahnya dan dia terkejut melihat siapa yang buka pintu rumahnya.
Kamu mau sembunyi dimana
Aku bisa mengendus baumu
Jangan pernah lari dariku
Karena kita telah berjanji
Biar matahari bohong pada siang
Pura-pura tak mau panas
Tak perlu menyiksa diri sendiri
Sembunyikan cinta yang ada
Aku tak perlu bahasa apapun
Untuk mengungkap aku cinta kamu
Aku tak pernah beristirahat
Untuk mencintai Kamu sesuai janjiku, promise
Yang ku ingat hanya wajah kamu
janjiku tak pernah main-main
Sekali kamu tetap kamu
Where do you want to hide?
I can smell your smell
Never run from me
Because we promised
Let the sun lie at noon
Pretending not to be hot
No need to torture yourself
Hide existing love
__ADS_1
I don't need any language
To reveal I love you
I never rest
To love you according to my promise, promise
A thousand faces tease me
All I remember is your face
I promise never play
Once you're still you.
...****************...
Silahkan mampir juga ke novel aku yg lainnya ceritanya tidak kalah seru dengan My Queen Heart loh...
dilema diantara dua pilihan
cinta dan dendam
pelakor pilihan
hanya sekedar pengasuh
cinta ceo pesakitan
ketika kesetianku dipertanyakan
menggenggam asa
cinta kedua ceo
kau hanya milikku
Makasih banyak bagi kakak readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...
Tetap dukung my queen heart dengan cara like setiap babnya, rate bintang 5, favoritkan dan votenya serta komentarnya yah...
Maaf jika banyak terdapat kesalahan dalam pengetikannya atau typonya...
__ADS_1