
"putraku!" Cicitnya Mama Elisah setelah keadaannya sudah kembali normal.
Nyonya Elisha bermimpi bertemu dengan seorang pria yang memiliki dua buah tanda lahir di punggungnya.
"Ya Allah jikalau memang putraku masih hidup maka dekatkanlah dia denganku dan jika dia sudah meninggal maka berilah aku petunjuk bahwa dia masih hidup," lirihnya Bu Elisha yang berharap Bu Elisha yang sangat ingin bersua dengan putra pertamanya yang hilang saat diculik oleh selingkuhan mantan suaminya.
Pro dan kontra pasti akan muncul dalam mengambil keputusan. Seperti halnya dengan keputusan bu Elisah yang memutuskan untuk menerima persyaratan Pak Hendry untuk menikah dengannya.
Kedua anak perempuannya marah bahkan menghakimi dirinya tapi Mama Elisah tetap sabar menghadapi sikap kedua putrinya. Karena dibalik seseorang yang menolak keputusannya masih banyak yang menerimanya dan menghargai keputusannya itu. Sore harinya, Bu Elisabeth berjalan ke arah dapur karena ia ingin memasak makanan persiapan buka puasa.
Mama Elisabeth memperhatikan setiap sudut villa tersebut yang sudah banyak berubah tidak seperti awal dirinya datang. Nyonya Elisath berhenti di bawah lukisan seorang perempuan yang sedang hamil besar yang duduk di kursi taman. Ia kembali teringat kepada kedua anak kembarnya.
__ADS_1
"Nak kamu di mana, kembalilah kepada Mama," gumamnya sambil mengelus lukisan tersebut dan air matanya mengalir membasahi pipinya.
Walaupun sering judi dan mabuk tapi Bapak sambungnya tidak pernah memukul dirinya, adiknya dan juga ibunya. Arman berjalan ke arah Karina dan langsung memilih beberapa kue jajanan yang dijual oleh Karina. Karina menjual macam-macam kue takjil mulai dari kue yang dikukus hingga gorengan.
Pak Hendry yang ingin berjalan ke arah Ruangan pribadinya langkahnya terhenti sesaat dan memperhatikan gerak gerik dari istrinya. Pak Hendri ikut sedih dengan kehilangan putra pertamanya.
Flashback on..
Pak Hendri melakukan perjalanan bisnisnya ke luar kota, dan kliennya mengajaknya ke Bar untuk merayakan keberhasilan kerja sama mereka. Dan di sana pula lah awalnya bertemu dengan perempuan yang menjadi penghancur rumah tangganya.
Intensitas pertemuan mereka semakin hari semakin sering saja. Bahkan Pak Hendry sudah perlahan-lahan melupakan tanggung jawabnya kepada Elizabeth yang sedang hamil besar. Sikap pak Hendry berubah drastis dari yang perhatian dan sayang kepada istrinya sekarang mengantar sang istri pun ke dokter kandungan sudah tidak pernah.
__ADS_1
Suatu hari Bu Elisah merasakan nyeri dibagian perutnya, dan meminta tolong kepada Hendry tapi apa yang diperoleh oleh Elizabeth waktu itu hanya hardikan dan kata-kata kasar bahkan segala macam umpatan dia dapatkan.
"Assalamu alaikum Pa," ucap Bu Elisa.
"Iya ada apa kamu menelponku, aku sedang sibuk," ketusnya Pak Hendry yang hanya sibuk memuaskan selingkuhannya.
"Pa boleh aku minta tolong gak diantar ke rumah sakit untuk cek up, perutku sakit?" Keluhnya Elisya yang sangat berharap kepada suaminya.
"Aku tidak bisa, tadi kan aku sudah bilang aku itu sibuk, banyak kerjaan aku yang numpuk!" bentaknya Pak Hendry dengan suara yang agak besar dan sedikit kasar.
Elizah menjauhkan sedikit hpnya dari telinganya. Karena suaranya pak Hendri cukup tinggi, melengking dan kasar.
__ADS_1
"Tapi Pa perut aku sakit banget, aku mohon antar aku yah?" rengeknya Bu Elisha kepada suaminya.
"Harus berapa kali aku bilang padamu kalau aku itu sibuk dan tidak punya waktu untuk kamu lagian ada supir pribadi yang bisa mengantar kamu pergi ke rumah sakit, kamu itu terlalu ngeyel sudah dibilangin kalau aku sibuk dan tidak punya waktu apa kamu tuli haaaa!!" hardik Pak Hendry.