Queen My Heart

Queen My Heart
Bab. 138


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Pak Security tersebut berjalan tergesa-gesa ke arah mereka bertiga.


"Maaf Pak katanya bapak semua dipersilahkan untuk masuk menemui Tuan," terangnya.


"Makasih banyak Pak," ujarnya lalu berjalan mendahului Dimas dan Emre.


Mereka membuka pintu itu tanpa harus menunggu seseorang untuk membuka pintu tersebut. Adiguna segera memakai pakaiannya setelah mendengar berita kedatangan orang-orang nomor satu di Perusahaan tempat dia bekerja.


Sedangkan istrinya yang tidak tahu menahu tetap berada di dalam dapur untuk melanjutkan masakannya. Adiguna berjalan tergesa-gesa ke arah Tamunya yang sudah duduk di kursi panjang.


"Maafkan saya Tuan sehingga membuat Tuan-tuan harus menunggu lama," ujarnya lalu mendudukkan dirinya di atas kursi.


Semua tatapan tertuju pada Adiguna sehingga membuatnya memegang tengkuk lehernya yang tiba-tiba meremang dan merinding ketakutan.


"Apa mereka sudah mengetahui segala kecurangan ku, tapi kenapa bisa mereka tahu padahal aku bermain sangat rapi dan tidak mungkin orang biasa mengetahui hal tersebut." Batinnya Adiguna Sutowo yang mulai nampak ketakutan.


Adiguna menatap dalam satu persatu tamunya. Dia kembali berpura-pura dan menjalankan aktingnya agar tidak ketahuan.


"Aku harus berakting agar mereka tidak curiga sedikit pun dan mengetahui bukti keterlibatan aku di Perusahaan Sinopec Group." Adiguna membatin.


Arya tanpa ba-bi-bu melempar sebuah map berisi beberapa berkas bukti yang sangat akurat tentang kejahatannya Adiguna. Dia sama sekali tidak menaruh curiga sedikit pun, jika berkas di dalam map yang dilempar ke hadapannya adalah semua bukti keterlibatannya tertulis dengan sangat jelas sekali.


Adiguna belum menyentuh sedikit pun berkas tersebut. Dia masih sibuk menduga tentang isi dari berkas tersebut. Hanya bisa menatap dan enggan untuk mengambil map itu.


"Apa yang terjadi padamu Adiguna, kenapa Kamu belum membuka map tersebut? Kalau Kamu tidak suka dengan semua yang ada di dalam sana tidak apa-apa," terang Emre.


Adiguna gelagapan dan tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia terpojok dan tidak bisa mengelak lagi dari tuduhan dan bukti yang semuanya mengarah kepadanya.

__ADS_1


"Ini semua bukti keterlibatan seorang dalam menggelapkan uang Perusahaan serta banyak lagi yang lainnya," ujar Emre dengan menatap tajam ke arah Adiguna.


"Mak-sudnya saya tidak me-ngerti a-rah pembicaraan dari Tuan Emre.


"Tidak perlu berlagak pura-pura dan bodoh di depan Kami, kalau Kamu ingin mengetahui apa yang tertulis di dalam map itu silakan dibaca," terang Arya dengan tatapan jengahnya.


Mereka sudah sangat muak melihat tingkah lakunya Adiguna yang berpura-pura tolol dalam sesaat. Adiguna yang sudah gemetaran berusaha untuk membuang jauh rasa takut dan kecemasannya yang berlebihan itu.


Dia pun segera membuka map tersebut dan ke dua matanya membelalak hingga seakan-akan mau copot dari dalam lubang matanya. Mulutnya menganga terbuka lebar hingga semua gigi rongga mulutnya nampak begitu jelas. Arya kemudian berdiri di hadapan Adiguna sembari memasukkan ke dua tangannya ke dalam kantong celananya.


"Bagaimana Adiguna, apa masih kurang jelas yang Kamu baca? Kalau belum jelas, aku akan kembali menjelaskan hingga Kamu paham dengan sangat baik," jelasnya lalu berkeliling mengamati semua kondisi di dalam ruangan tersebut.


Arya berjalan dengan memperhatikan apa-apa saja yang ada di dalam rumah Adiguna. Semua perabot jika diukur dengan menggunakan pembandingan gajinya itu sangat mahal dan butuh beberapa bulan gaji untuk membeli semuanya.


"Kalau Kamu belum mau jujur dan mengakui semua kesalahan dan kecuranganmu, maka sebaiknya aku menghubungi nomor kantor polisi saja," ujarnya lalu meraih hpnya yang ada di dalam saku celananya.


"Bagaimana caranya agar aku bisa menghubungi bos? Agar mereka membantuku untuk meloloskan diri dari mereka." Lirihnya Adiguna yang berusaha berpikir keras memutar otaknya.


Adiguna sembunyi-sembunyi meraih hpnya, tetapi tindakannya dilihat oleh Dimas sehingga Dimas segera mencegah apa yang hendak dilakukan oleh Adiguna.


"Stop!!! Jika tidak Kamu akan kami segera menangkap mu lalu membawamu ke kantor polisi." Teriakan yang berupa ancaman yang mereka layangkan.


Adiguna tidak mengindahkan peringatan dan larangan dari Dimas. Dia tetap melangkah hingga berlari ke arah luar rumahnya dan masuk ke dalam mobilnya.


Saking cepatnya berlari, Adiguna tidak terkejar oleh mereka. Hingga mobilnya berhasil lolos dari hadapan mereka. Mereka bertiga mengikuti langkahnya Adiguna tapi, sia-sia saja usaha yang mereka lakukan. Mereka tidak menyangka jika, Adiguna akan bertindak seperti itu.


...----------------...

__ADS_1


Silahkan mampir juga ke novel aku yg lainnya ceritanya tidak kalah seru dengan My Queen Heart loh...



dilema diantara dua pilihan


cinta dan dendam


pelakor pilihan


hanya sekedar pengasuh


cinta ceo pesakitan


ketika kesetianku dipertanyakan


menggenggam asa


cinta kedua ceo


kau hanya milikku



Makasih banyak bagi kakak readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...


Tetap dukung my queen heart dengan cara like setiap babnya, rate bintang 5, favoritkan dan votenya serta komentarnya yah...

__ADS_1


Maaf jika banyak terdapat kesalahan dalam pengetikannya atau typonya...


__ADS_2