Queen My Heart

Queen My Heart
Bab. 239


__ADS_3

"Jika kamu tidak kembali dan hidup bersamaku lagi maka jangan salahkan kau jika satu persatu anggota keluarga Wijaya yang kamu sayangi itu akan berakhir di tanganku!!" teriak Pak Hendry dengan penuh amarah.


Mama Elisabeth menghentikan langkahnya dan tidak tahu harus berbuat apa lagi. Ia marah, takut, cemas, kecewa dalam waktu yang bersamaan.


Kenyataan yang baru saja terungkap dan didengar oleh Mama Elisah membuat dirinya hancur dan sekaligus kecewa. Setelah menikah selama 3 tahun barulah dirinya dikaruniai seorang bayi kembar di usianya yang baru menginjak 21 tahun waktu itu dan setelah 25 tahun penantian dan pencariannya terhadap buah hatinya itu.


Kesenangan bermula dari kebersamaan bersama orang-orang terdekat, terutama keluarga.


Fun starts from being together with the closest people, especially family*.


Jika jahat dibalas kejahatan, maka itu adalah dendam.


Jika kebaikan dibalas kebaikan maka itu adalah perkara biasa.


Jika kebaikan dibalas kejahatan maka itu adalah zhalim.

__ADS_1


Tapi, jika kejahatan dibalas kebaikan itu adalah mulia dan terpuji


Ternyata fakta baru yang sangat mengejutkan dan sulit untuk diterima oleh akal dan pikiran Bu Elisah adalah putri pertamanya harus meninggal di tangan selingkuhan mantan suaminya dan anak keduanya yang laki-laki harus hilang entah kemana.


Hanya tanda lahir dua buah di punggungnya dan pakaian bayinya berwarna biru tua dengan motif winnie the Pooh yang dipakainya yang menjadi tanda kalau itu anak mereka yang menghilang. Tapi untuk menemukan keberadaannya sangat sulit dan mustahil karena kejadian itu dari 35 tahun yang lalu.


Mama Elisah tidak ingin mempercayai hal tersebut tapi itu lah kenyataan yang harus dia terima bahwa putri pertamanya sudah meninggal dan putra ke duanya pun ikut menghilang. Hanya tanda lahir yang ada di punggungnya yang memudahkan untuk mencari dan mengetahuinya.


Tetapi apa mungkin mereka akan memeriksa semua orang yang mereka jumpai dan bertanya atau pun memeriksa hak tersebut dan itu tidak mungkin. Masyarakat pribumi bukan hanya 1k orang tapi banyak.


"Aku minta maaf Elisah, karena aku yang terlalu mempercayai perempuan lucknut itu sehingga aku terpedaya oleh tipu muslihatnya yang hanya menginginkan hartaku saja," ucap sesal pak Hendry.


"Aku mohon kembalilah padaku Elizah, baru kita bersama mencari putra kita itu," pinta pak Hendry.


"Maaf aku tidak bisa, dan tolong urungkan niat kamu itu karena aku tidak mungkin kembali lagi bersama denganmu sampai kapan pun," ucap Mama Elisah.

__ADS_1


Nyonya Elisha kemudian berdiri dari posisi duduknya lalu berjalan ke arah pintu keluar dan setelah mengatakan hal itu.


"Jika kamu tidak ingin kembali bersamaku lagi maka jangan salahkan saya, jika satu persatu anak dan cucu-cucumu yang jadi korban dari penolakanmu," teriak pak Hendry yang sudah tidak punya cara lain lagi untuk membujuk dan merayu agar Mama Elisabeth kembali lagi ke pelukannya.


Bu Elisah terdiam dan langsung teringat wajah bahagia anak dan cucunya. Mama Elisabeth tidak ingin lagi melihat kesedihan dan keputusasaan dari anak-anaknya. Tapi untuk kembali hidup bersama dengan Hendry juga bukan jalan yang baik karena Mama Elisabeth tidak ingin kembali mengulang sejarah masa kelam bersamanya dulu.


Melangkah maju ada anak dan cucunya yang jadi taruhannya sedangkan mundur ketakutan akan bayang-bayang perbuatan Pak Hendry terhadapnya menghantuinya. Maju kena mundur kena seperti judul filmnya Warkop DKI saja. Bu Elisha dalam kebimbangan dan bingung yang sedang melandanya.


Hidup Mama Elisabeth seperti pepatah yang mengatakan hidup segan matipun enggan. Tapi Mama Elisah tidak mungkin mengorbankan kebahagiaan anaknya hanya karena keegoisannya.


"Apa kamu lupa dengan banyaknya masalah yang kalian hadapi, apa kamu tidak menyadari kalau yang melakukan semua itu adalah saya tapi, jika kamu tidak kembali dan menikah denganku lagi maka cucu-cucumu yang ada di Amerika yang pertama sekali akan menjadi korban ku dari keegoisan dan keras kepala kamu," sarkasnya Pak Hendri lagi.


Mama Elisah masih berdiri di posisinya semula dan tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.


"Ya Allah apa yang harus aku lakukan, aku tidak mungkin tega mengorbankan mereka aku tidak sanggup kehilangan mereka dan kalau aku menikah dengannya aku pasti tidak akan bertemu dengan keluargaku yang lain" Monolog Mama Elisabeth.

__ADS_1


"Tolong pikirkan baik-baik sebelum kamu mengambil kesimpulan dan jika kamu bersedia menikah denganku maka aku akan datang ke rumah kamu untuk melamar kamu di hadapan keluarga besar suamimu," pak Hendry kembali berucap.


"Baiklah tapi tolong beri lah aku waktu untuk berfikir dan jangan sentuh keluargaku sedikit pun lagi jika kamu atau pun semua maka buahmu berani menyentuh kulit mereka atau pun pekerjaan mereka maka seumur hidup pun aku tidak akan sudi bahkan aku akan mati di depan matamu," ancam Mama Elisah saat dirinya sebelum melangkah pergi dari Villa tersebut.


__ADS_2