
Perawat yang lagi jaga segera membantu Karina dan pemuda itu untuk menaikkan tubuh Arman ke atas bangkar rumah sakit lalu mendorongnya. Karina dan beberapa pemuda itu ikut mendorong Arman hingga ke depan pintu ruangan operasi.
"Cukup di sini saja, kalian menunggu di luar," cegah suster yang mencegah Karina dan pemuda tersebut untuk masuk ke dalam ruangan dengan cara menghalau mereka dengan kedua tangannya.
Mereka pun menuruti perkataan perawat tadi. Dokter pun segera masuk ke dalam ruang operasi. Hingga beberapa jam operasinya belum juga selesai. Karina mondar mandir di depan pintu ruang operasi seperti setrikaan saja.
"Karina kami pamit pulang dulu yah, kalau ada apa-apa kabari kami, sudah jam 2 lewat soalnya kita mau sahur jadi pulang dulu," ujarnya Si B.
"Makasih bro atas bantuannya, tanpa kalian aku tidak akan bisa membawa tuan Arman ke rumah sakit," timpalnya Karina syukur Karina kepada pemuda tersebut.
"Sama-sama bro, kami pamit pulang, assalamu alaikum," ucap mereka kompak.
"Ini dompet sama hpnya tuan yang kecelakaan itu," ucap Si A sambil menyorongkan benda itu ke tangan Karina.
"Waalaikumsalam, hati-hati yah," tutur Karina dengan seulas senyumannya.
Karina sudah memeluk badannya yang sudah menggigil karena kedinginan, seluruh pakaian yang dipakai Karina sudah basah kuyup.
"Nanti juga kering, tapi gimana caranya aku menghubungi nomor keluarga tuan. Arman yah? Aku kan tidak tahu dengan kode kunci hpnya tuan Arman," lirihnya Karina.
__ADS_1
Karina kadang berdiri kadang duduk di bangku khusus penunggu pasien. Karina Ingin mencari makanan untuk sahur tapi karena Karina tidak membawa uang terpaksa Karina hanya minum air putih saja.
Karina berjalan ke arah resto rumah sakit dan meminta tolong agar diberikan air putih untuk sekedar mengganjal perutnya dan sebagai makanan sahurnya.
"Mbak bisa minta tolong, bagi segelas air putihnya yah Mbak, sedikit saja asalkan ada," ucap Karina yang berharap mendapatkan air putih untuk dikonsumsi sebagai sahurnya.
Penjaga resto itu memperhatikan Karina dari ujung rambut sampai ujung kaki,"Cantik tapi sayangnya miskin dan meminta, hanya air mineral saja dia tidak mampu beli apa lagi pakaian yang bagus," batinnya sambil geleng-geleng kepala.
"Maaf disini tidak ada yang gratis Mbak, jadi tolong cari di tempat lain saja," ketusnya Mbak itu dan mengusir Karina dengan halus.
Karina langsung berjalan ke arah pintu keluar. Sudah jam 3 lewat, tapi karina belum sahur juga. Karina memeriksa kantong celananya karena teringat siang tadi ada pembeli yang memberikan dirinya uang lebih dari harga normal kue yang dia jual.Dan dengan berulang kali memeriksa semua kantong celananya dan untungnya ada selembar uang yang sudah basah yaitu uang dua ribu rupiah.
Karina berjalan ke arah belakang rumah sakit dan mencari penjual makanan ataupun minuman yang harganya sesuai dengan uang yang dia pegang. Karina sekarang sudah berdiri di depan warung kecil. Kemudian membeli air mineral dalam kemasan gelas plastik dan sisanya sebungkus Roti.
"Pak air gelas sama rotinya yah" ucap Karina sambil menyodorkan uang tersebut ke arah bapak penjaga warung.
Bapak tersebut memegang uang yang diberikan oleh Karina dan langsung menatap Karina. Karina tanpa sengaja melihat arah pandangan bapak tersebut.
"Maaf yah pak uangnya basah, soalnya tadi aku mengantar teman yang sakit ke rumah sakit hanya naik motor jadi pakaianku basah" jelas Karina.
__ADS_1
"Kamu bisa sakit Nak kalau kamu terus-menerus pakai pakaian itu" ucap bapak tersebut sambil berlalu masuk ke dalam warungnya.
Karina duduk dan menikmati santapan sahurnya. Karina tetap bersyukur walau pun hanya makan sahur seadanya saja. Pak pemilik Warung tersebut berjalan ke arah Karina dengan menenteng satu lembar sarung.
"Ini sarung bisa kamu pakai, agar badanmu tidak terlalu dingin," imbuhnya Bapak tersebut.
"Bapak tidak perlu repot-repot kok, aku masih bisa tahan pak" ucap Karina yang menolak secara halus karena tidak ingin merepotkan orang lain.
"Tidak apa-apa nak, kalau kamu tidak mau mengambilnya anggap saja kamu pinjam jadi Kalau kamu ada waktu baru kamu balikin ke sini," tutur Bapak itu yang memaksa Karina untuk mengambilnya.
"Karena bapak memaksa aku akan ambil sarung ini," imbuhnya Karina sambil tersenyum manis ke arah bapak tersebut.
"Andai saja kau punya anak laki-laki pasti aku kan jodohkan dia dengan putraku sayangnya anak cewek pun tidak ada dengan senyuman terpaksa," batinnya bapak itu yang tersenyum simpul.
"Makasih banyak Kalau begitu pak, aku permisi dulu karena teman saya sedang dioperasi, Assalamu Alaikum," ucap Karina yang berpamitan kepada bapak tersebut.
Karina memegang sarung tersebut dan kembali berjalan ke arah ruangan operasi. Dan ternyata Arman masih belum selesai dioperasi. Karina pun memakai sarungnya karena kedinginan dan duduk di kursi tunggu. Karina terlelap di bangku tersebut.
Hingga beberapa saat kemudian, operasi tersebut telah selesai dan berjalan lancar. Perawat keluar untuk mencari keberadaan orang yang mengantar pasien tersebut. Perawat tersenyum melihat Karina yang tertidur pulas di atas Kursi panjang tersebut.
__ADS_1