Queen My Heart

Queen My Heart
Bab. 240


__ADS_3

"Ya Allah apa yang harus aku lakukan, aku tidak mungkin tega mengorbankan mereka aku tidak sanggup kehilangan mereka dan kalau aku menikah dengannya aku pasti tidak akan bertemu dengan keluargaku yang lain" Monolog Mama Elisabeth.


"Tolong pikirkan baik-baik sebelum kamu mengambil kesimpulan dan jika kamu bersedia menikah denganku maka aku akan datang ke rumah kamu untuk melamar kamu di hadapan keluarga besar suamimu," pak Hendry kembali berucap.


"Baiklah tapi tolong beri lah aku waktu untuk berfikir dan jangan sentuh keluargaku sedikit pun lagi jika kamu atau pun semua maka buahmu berani menyentuh kulit mereka atau pun pekerjaan mereka maka seumur hidup pun aku tidak akan sudi bahkan aku akan mati di depan matamu," ancam Mama Elisah saat dirinya sebelum melangkah pergi dari Villa tersebut.


Melangkah maju ada anak dan cucunya yang jadi taruhannya sedangkan mundur ketakutan akan bayang-bayang perbuatan Pak Hendry terhadapnya menghantuinya. Maju kena mundur kena seperti judul filmnya Warkop DKI saja. Bu Elisha dalam kebimbangan dan bingung yang sedang melandanya.


Hidup Mama Elisabeth seperti pepatah yang mengatakan hidup segan matipun enggan. Tapi Mama Elisah tidak mungkin mengorbankan kebahagiaan anaknya hanya karena keegoisannya.


"Apa kamu lupa dengan banyaknya masalah yang kalian hadapi, apa kamu tidak menyadari kalau yang melakukan semua itu adalah saya tapi, jika kamu tidak kembali dan menikah denganku lagi maka cucu-cucumu yang ada di Amerika yang pertama sekali akan menjadi korban ku dari keegoisan dan keras kepala


Kebahagiaan tidak selamanya dilihat dari segi banyaknya materi dan harta yang Kamu miliki, tapi bagaimana Kamu bisa membuat dan melihat senyuman yang tercipta dari orang-orang yang Kamu sayangi.


Kamu tidak akan menemukan kebahagiaan jika terus menuntut kesempurnaan. Syukuri apa yang kamu miliki, maka di sana akan kau temukan kebahagiaan.


Pak Hendri pun menyetujui permintaan dan persyaratan dari Bu Elisah wanita pujaan hatinya. Arman pun memelankan laju mobilnya. Kemudian memperhatikan apa yang dilakukan oleh Karina. Arman tanpa sadar tersenyum ke arah Karina dan amarahnya langsung reda hanya melihat wajah lugu Karina.

__ADS_1


Karina sedang melayani pembelinya. Karina jika tidak masuk bekerja Dia dan ibunya membuat kue jajanan dan membawanya berkeliling kampung dan beberapa kompleks perumahan yang


"Malik!!" teriak Pak Hendry kepada anak buah kepercayaannya yang selama ini dia percaya dan tidak pernah membuat pak Hendry kecewa.


"Iya Bos," ucapnya ketika sudah berdiri dan menundukkan kepalanya di hadapan Pak Hendry.


"Awasi gerak gerik Elisa dan jangan biarkan ada yang mengganggu seluruh anggota keluarga Wijaya jika hal itu terjadi nyawamu dan keluargamu menjadi taruhannya dan kamu Romi tolong persiapkan lamaran beserta seserahan pernikahan saya nanti jangan ada yang kurang atau pun salah okey," titah Pak Hendri kepada kaki tangannya.


"Siap Bos," jawab ke duanya.


Tapi juga tidak ingin hidup sengsara seperti dulu lagi. Sedangkan rasa lelah dan capek yang dirasakan oleh Adit dan yang lainnya terbayar sudah dengan kebahagiaan yang terpancar dari rona wajah masyarakat yang mendapat bantuan dari mereka.


Mereka bersyukur karena acara yang mereka lakukan berjalan mulus dan tanpa hambatan. Bu Elisah shalat isya sendiri dalam kamarnya dan sejak pulang dari Villa milik Pak Hendry dirinya berdiam diri dan menutup dan mengunci rapat kamarnya.


"Apa yang harus aku lakukan ya Allah, aku tidak tahu harus melangkah kemana dan tolong berikan aku jalan keluar yang terbaik dari kemelut hatiku ini," imbuhnya Mama Elisah dalam doanya.


Beberapa hari kemudian, Nyonya Elisha pun memberikan kabar kepada Pak Hendry agar segera datang ke rumah utama untuk melamarnya. Mama Elisabeth sudah memutuskan untuk memilih menerima lamaran dari Pak Hendri walaupun usia mereka sudah tidak muda lagi yaitu 55 tahun.

__ADS_1


Tetapi demi kebahagiaan anggota keluarganya Mama Elisah rela melakukan apapun, cukup kedua anaknya terdahulu yang tidak bisa dia lindungi dan sayangi. Rombongan keluarga dan anak buahnya pak Hendry sudah datang dan memenuhi rumah utama.


Mereka membawa berbagai macam seserahan dan membuat seluruh anaknya heran dan tidak mengerti dengan maksud kedatangan orang-orang tersebut yang baru pertama kali ini mereka jumpai.


Pak Hendri bahkan memanggil pak ustadz dan ibu-ibu pengajian untuk mengantarnya datang melamar Bu Elisah. Yang tentunya mereka mendapatkan amplop yang isinya fantastis.


"Assalamu Alaikum," ucap pak ustadz Yusuf yang mulai membuka percakapan mereka karena sudah hampir setengah jam mereka duduk dan tidak ada yang berusaha untuk membuka percakapan di antara mereka.


"Waalaikumsalam," ucap salam mereka yang ada di dalam sana.


Adit, Andre dan Malik saling berpandangan tidak mengerti dengan keadaan tersebut. Begitupun dengan para istri mereka.


"Baiklah karena bapak lihat kalian sepertinya bingung dengan maksud kedatangan kami maka dari itu ijinkan bapak untuk mengutarakan maksud kedatangan kami di kediaman kalian yaitu ingin melamar Ibunda kalian dan saya hanya perantara dan pak Hendri selaku pihak laki-laki yang ingin menikah dengan Ibu Elizah meminta izin agar kalian mengizinkan mereka untuk menikah," jelasnya Pak ustadz.


Pak Ustadz yang membuat Endah dan Echa saling bertatapan dan menatap lagi ke arah mamanya sedangkan yang ditatap tidak mampu membalas tatapan mata dari anaknya.


"Maafkan saya selaku anak tertua di keluarga ini pun tidak mampu memberikan Jawaban dari permintaan bapak Hendri karena semua ini adalah sepenuhnya hak dari Mama kami," ujarnya Andre.

__ADS_1


__ADS_2