Queen My Heart

Queen My Heart
Bab. 25. Yes


__ADS_3

Alhamdulillah Makasih banyak," ucap Alexander dengan wajah yang penuh rona bahagia.


"Kamu tenang saja Kalau tentang ke dua orang tuanya Kamu tidak perlu merisaukannya, Insya Allah mereka setuju dengan keputusan dan pilihan Amanda," ucap Mama Elisabeth yang mengerti kegelisahan yang terpancar dari raut wajahnya itu.


Ruangan tamu yang terbilang megah dan besar itu dengan desain interior khas Eropa Timur dan dipadukan dengan khas Indonesia.


Hal itu semakin menambah kecantikan dan keunikan ruangan itu sehingga membuat penghuni rumah megah itu betah berlama-lama duduk di dalam sana.


"Amanda sayang, kalau Alexander adalah Dosen kamu di kampus itu malahan bagus, dan nantinya akan ada yang bisa jagain Kamu dong, walaupun kalian nantinya sudah menikah Kamu masih bisa lanjutkan kuliah Kamu loh," terang Mama Elisabeth.


Amanda berpikir jika dia menikah di usianya yang terbilang masih muda maka karir dan kuliahnya akan terganggu.


Walaupun sebenarnya di dalam hatinya yang paling dalam dia menginginkan dan menyetujuinya. Bahkan ia sangat bahagia dengan Lamaran yang dilayangkan oleh Alexander untuknya.


"Benar sekali apa yang dikatakan oleh Nenek jangan menolak jika ada yang sudah serius dan mantap ingin mempersuntingmu kalo menurut kakak sih gitu," timpal Keyna.

__ADS_1


"Dari pada cowok yang pengecut dan penakut untuk memperjuangkan cintanya dan tidak berani mengungkapkan perasaannya di hadapan orang lain, malahan berbuat bodoh dengan bermain serong hanya untuk menutupi perasaannya pada seseorang," jelas Andrias, lalu melirik ke arah Zack.


Sedangkan Zack hanya acuh tak acuh dengan perkataan dari Andreas. Diasangat mengerti jika Pria yang dimaksudkan oleh Andreas adalah hanya dirinya seorang.


Andreas menatap jengah ke arah Zack. Sedangkan Zack malah menatap tajam ke arah Andreas.


"Aku sangat setuju dengan perkataan dari Andreas, Amanda mungkin banyak di luar sana pria yang menyukaimu tapi dari semuanya tentu ada yang serius ingin menikahimu dan untuk memilih dan mencari salah satu di dari mereka yang datang langsung ke hadapan kita untuk melamar mu itu mungkin akan sulit," ujar Raditya kakak sambung Amanda.


" Jadi bagaimana sayang, apa kamu menerima lamaran dari Pak Alexander atau tidak? Nenek berharap kamu menerima lamaran dari pak Alexander," tutur Neneknya sambil memegang kedua tangan cucunya itu.


Alexandre membalas tatapan yang penuh memuja dan berharap agar Amanda menerima lamarannya.


" Bismillahirrohmanirrohim."


Amanda pun menganggukkan kepalanya tanda dia setuju untuk menikah dengan Alexander Agung, seorang pria dewasa yang lahir dan dibesarkan di Panti Asuhan.

__ADS_1


Dia yang sukses dan berhasil berkat kegigihan dan ketekunannya dalam menjalani perkuliahannya.


Alexander sudah berjanji kepada Tuan Besar Wiguna Alber Kim Said yang tidak akan membuat kecewa orang-orang yang sudah menaruh kepercayaan besar kepadanya.


Alhamdulillah makasih banyak," ucap Alexander dengan wajah yang penuh kebahagiaan.


Mereka yang ada di dalam ruangan itu tersenyum penuh bahagia karena akhirnya Amanda menyetujui dan menerima lamaran dari Dosen mereka.


Alexander kembali menatap kearah Nenek Elisabeth dan berkata, "Tapi bagaimana dengan kedua orangtuanya Amanda Nenek, sebaiknya mungkin kita bertanya kepada mereka, apa mereka setuju untuk menerima lamaran ku atau tidak."


"Kamu tenang saja nak kalau tentang kedua orang tuanya Amanda kamu tidak perlu merisaukannya ataupun berfikiran yang tidak-tidak, insya Allah mereka setuju dengan keputusan dan pilihan Amanda," pungkas Nenek Elisabeth.


Beliau yang mengerti kegelisahan dan kegundahan yang terpancar dari raut wajahnya Alexander.


Agung pun mengeluarkan sebuah kotak beludru warna merah yang berisi sepasang cincin kawin.

__ADS_1


__ADS_2