Queen My Heart

Queen My Heart
Bab. 238


__ADS_3

Walaupun di dalam hatinya masih ada secuil rasa terhadap mantan suaminya. Bu Elisha meronta dan Ingin menghentikan apa yang diperbuat oleh Hendry tapi tak berdaya melawan kekuatan laki-laki yang sudah kalap yang ada di depannya.


Ia akhirnya pasrah juga setelah pasokan udara keduanya menipis baru lah pak Hendri melepaskan pagutan bibirnya di atas bibir wanita yang paling disayanginya itu.


Mama Elisabeth langsung menampar sekuat tenaganya wajah pak Hendry. Sedangkan pak Hendry hanya mengelus wajahnya bekas tamparan keras dari Mama Elisabeth.


Pak Hendry tidak membalas perlakuan bu Elisah bahkan dirinya sudah dijadikan samsat oleh Bu Elisha, beliau semakin histeris dengan suara tangisannya menyayat hati. Pak Hendri pun ikut menangis keduanya sama terpuruk dalam jurang penyesalan.


"Maafkan aku semua ini gara-gara keegoisan aku," ratap Pak Hendri sambil memegang bibir Elizah yang masih basah dan sedikit bengkak akibat ulahnya sendiri.


Mama Elisah memalingkan wajahnya dari hadapan pak Hendry. Beberapa saat kemudian mereka terdiam dan saling menyelami perasaan dan pikiran masing-masing. Hingga Mama Elisabeth bertanya tentang kedua buah hatinya.


"Tolong katakan di mana ke dua anakku, aku mohon pertemukan aku dengan mereka," Bu Elisha menggoyangkan tubuhnya Pak Herry yang terus memohon kepada Pak Hendry agar segera membuka mulutnya untuk berbicara.


Pak Hendry terdiam dan tidak ingin membuka suaranya karena dirinya pun bingung harus menjawab apa karena salah satu anak mereka yaitu putri mereka meninggal akibat perbuatan dari mantan istri selingkuhannya.

__ADS_1


Sedangkan putranya pun keberadaannya tak beliau ketahui. Semua ini ulah dari perempuan lukcnut tersebut yang tega menculik anaknya sehingga keberadaan buah hati mereka tidak diketahui hingga sekarang. Dan pelakunya yaitu selingkuhannya meninggal bersama putri mereka.


"Andai kamu menyayangi mereka pasti kamu tidak akan pernah meninggalkan mereka?" Cibirnya pak Hendry agar Elisah tidak bertanya tentang keberadaan anak mereka.


"Sedikit pun aku tidak pernah melupakan ke dua buah hatiku yang ada bersamamu bahkan Aku berusaha mencari anakku tapi kamu selalu menyembunyikan keberadaan mereka dan menutup semua akses untukku, 9 bulan mereka aku kandung, tidak mudah aku melewati kehamilanku Waktu itu, tangis kesakitan waktu kelahiran mereka aku tidak hiraukan yang penting aku bisa melahirkan ke duanya dengan selamat tapi sekarang kamu menuduh aku jika aku tidak sayang mereka? ku mohon pertemukan aku dengan mereka Hendry." Ratap Elisabeth yang bersujud dihadapan pak Hendr untuk membujuk mantan suaminya itu.


"Maaf." cuma ucapan itu yang bisa pak Hendry ucapkan.


Mama Elisah langsung menatap tajam ke arah oak Hendry dan tidak mengerti dengan maksud permintaan maafnya.


"Ayok katakan kepadaku mereka ada di mana aku ingin bertemu dengan mereka Hendry!" Geramnya Mama Elisabeth yang sudah putus asa.


"Maaf putri kita sudah meninggal dunia saat ia diculik oleh wanita ib liis itu sedangkan putra kita sampai detik ini aku tidak tahu keberadaannya," jawab Pak Hendry dengan sendu.


Bagaikan petir di siang bolong, perasaan mama Elisabeth hancur sehancurnya saat Dia mendengar kabar tersebut. Mama Elisabeth semakin histeris menangis.

__ADS_1


"Ini semua gara-gara kamu Hendry, kamu yang melakukan semua ini kepada anak-anakku, kamu tega, apa salahku padamu haaa!!" Bentaknya Bu Elisha.


"Maafkan aku Elisabeth Aku terlalu bodoh dengan tipuannya," ucap sesal pak Hendry.


Mama Elisabeth pun berdiri dari posisi duduknya dan berjalan seperti orang gila saja, "Tolong menjauhlah dari hidupku!!" teriak Bu Elisha


"Aku mohon kembalilah bersamaku dan kita cari bersama putra kita," ucap Pak Hendry lagi.


"Sial, kenapa hidupku jadi begini, selama dua menikah dengan papa aku semakin tidak betah dan tenang tinggal di rumah," umpatnya Arman lalu memukul setir mobilnya.


Arman melajukan mobilnya tak tentu arah hanya mengikuti arah jalan saja. Sampai sore hari Armand hanya berkeliling kota M tanpa ada niat untuk mencari Resto yang terbuka atau kafe. Rasa laparnya hilang dikarenakan emosinya yang membuncah. Hingga tanpa sengaja Arman melihat Karina mengayuh sepedanya.


"Setelah semua yang kamu lakukan kepadaku kamu ingin kembali lagi denganku, maaf aku tidak bisa," sarkas Mama Elisabeth saat dirinya sudah melangkahkan kakinya di depan pintu.


"Jika kamu tidak kembali dan hidup bersamaku lagi maka jangan salahkan kau jika satu persatu anggota keluarga Wijaya yang kamu sayangi itu akan berakhir di tanganku!!" teriak Pak Hendry dengan penuh amarah.

__ADS_1


Mama Elisabeth menghentikan langkahnya dan tidak tahu harus berbuat apa lagi. Ia marah, takut, cemas, kecewa dalam waktu yang bersamaan.


__ADS_2