
Pintu ruangan perawatan Hyuna terbuka dan masuklah Alan dengan menggenggam bungkusan obat yang sudah dia tebus di apotek. Aulia pun langsung berdiri dan pamit untuk kembali ke ruangannya.
"Jaga baik-baik istrimu jangan biarkan istrimu terbebani dengan pemikiran yang tidak-tidak," tutur Aulia sambil memukul lengan Alan.
Alan hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Aulia. Dan sudah mengerti dengan keadaan Istrinya. Alan berjanji akan membuat Istrinya tidak lagi terbebani dengan pemikirannya sendiri. Semoga tidak ada lagi hal seperti ini dikemudian hari.
Ujian dalam hubungan rumah tangga pasti ada, dan banyak macamnya dan ragamnya. Mampu atau kah tidak dalam menghadapi cobaan dan ujian tersebut tergantung dari pasangan tersebut yang mengartikan cobaan itu.
Sebagian rumah tangga yang diuji dengan kekurangan atau kelebihan harta. Ada juga yang diuji dari kesetiaan kedua pasangan tersebut dan bahkan ada yang diuji oleh Allah dari pihak mertua. Hidup tanpa ujian juga bagaikan sayur tanpa garam.
Ujian lah yang akan mewarnai kehidupan seseorang dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Tapi bersabarlah dalam menghadapi ujian tersebut. karena kesabaran itu tanpa batas yang berbatas itu adalah tingkat keimanan seseorang.
Seperti halnya dengan Hyuna dan Alan yang sedang diuji kekuatan cinta mereka dari orang lain yang ingin merusak pernikahannya. Hyuna sempat stress dan banyak pikiran sehingga janin yang ada di dalam kandungannya mengalami gangguan. Untung saja hal itu tidak berakibat fatal pada kesehatan ibu dan calon anaknya.
"Ingat kalau kamu punya masalah atau pun beban pikiran berbagi lah dengan orang yang kamu anggap tepat dan jangan kamu pendam sendiri karena jika hal itu terjadi sangat berbahaya untuk calon anakmu." Pinta Aulia saat dirinya kembali memeriksa kondisi kesehatan Hyuna yang kembali cek up setelah keluar dari rumah sakit.
"Insya Allah Kak, Hyuna akan usahakan," timpal Hyuna.
"Gimana kabarnya Alan?" tanya Aulia yang sambil memeriksa laporan hasil lab kondisi kesehatan Hyuna.
Alis Aulia berkerut setelah berulang kali memeriksa kertas hasil laboratorium dari Hyuna yang mengira bahwa hasilnya keliru.
"Ini pasti tidak mungkin!!" Gumam Aulia yang tidak percaya dengan kondisi terakhir kesehatan Hyuna.
Hyuna memperhatikan wajah Aulia yang tidak biasa. Dan heran dengan sikap Aulia tersebut. Hyuna ingin bertanya tapi juga segang.
"Aku harus menelpon langsung Alan dan berbicara empat mata dengan Alan," batinnya Aulia.
"Ada apa Kak kok diam?" tanya Hyuna.
"Ohh tidak apa-apa kok, cuma ada hal yang mengganjal di pikiran kakak," kilah Aulia.
"Ohh gitu yah, jadi aku sudah bisa pulang atau masih menunggu lagi?" tanya kembali Hyuna yang menatap raut wajah Aulia yang berubah-ubah ketika membaca laporan hasil kesehatan Hyuna dan bayinya.
Usia kandungan Hyuna sudah memasuki bulan ke 9. Tetapi jika tidak segera bertindak untuk menangani hal tersebut bisa berakibat fatal pada kondisi dan keselamatan Hyuna dan bayinya.
Hal ini terjadi karena penyakit yang diderita Hyuna dulu sewaktu dirinya dengan paksa menggugurkan bayi yang dikandungnya.
Aulia tidak bisa berbuat apa-apa jika seandainya mereka harus dihadapkan pada dua pilihan dan harus memilih hanya satu saja.
Setelah kepergian Hyuna, Aulia segera menelpon Alan untuk segera datang ke rumah sakit.
__ADS_1
"Assalamu alaikum Alan." ucap Dokter Aulia.
"Waalaikumsalam Mbak dokter," jawab Alan.
"Maaf apa kamu ada waktu siang ini, kalau ada boleh kita bertemu di kafe dekat rumah sakit Kafe Best," jelas Aulia.
"Boleh berarti sekitar satu jam lagi yah dari sekarang," sahut Alan sambil melihat jam di hpnya.
"Aku tunggu," ucap Aulia.
"Siap kakak Dokter," balas Alan sebelum menutup teleponnya karena sedang Meeting dengan salah satu kliennya yang berasal dari Korea Selatan.
Alan yang kebetulan di luar tidak di kantornya sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di kafe sesuai janjinya dengan Dokter Aulia. Baru beberapa menit Alan duduk dan sudah memesan minuman dingin, Aulia pun datang.
"Maaf kakak terlambat datang," ucap Aulia sambil duduk dengan perutnya yang sudah buncit.
"Makasih banyak," ucapnya.
"Abang harap kedatanganku nanti adalah saat Kamu akan menjawab yes," ujarnya sebelum mengemudikan mobilnya ke arah luar halaman rumahnya Arya Wiguna.
Tubuh Zoe sehat total lebih cepat dari perkiraan dokter. Sehingga dia tidak ingin diantar masuk oleh Elang.
Zoe membuka pintu rumahnya dan dia terkejut melihat siapa yang buka pintu rumahnya.
Aku bisa mengendus baumu
Jangan pernah lari dariku
Karena kita telah berjanji
Biar matahari bohong pada siang
Pura-pura tak mau panas
Tak perlu menyiksa diri sendiri
Sembunyikan cinta yang ada
Aku tak perlu bahasa apapun
Untuk mengungkap aku cinta kamu
__ADS_1
Aku tak pernah beristirahat
Untuk mencintai Kamu sesuai janjiku, promise
Seribu wajah menggoda aku
Yang ku ingat hanya wajah kamu
janjiku tak pernah main-main
Sekali kamu tetap kamu
Where do you want to hide?
I can smell your smell
Never run from me
Because we promised
Let the sun lie at noon
Pretending not to be hot
No need to torture yourself
Hide existing love
I don't need any language
To reveal I love you
I never rest
To love you according to my promise, promise
A thousand faces tease me
All I remember is your face
I promise never play
__ADS_1
Once you're still you