
"Berarti kalau sudah buka puasa sudah bisa dong Karina," candanya Arman lagi yang tidak putus asa.
"Maaf Mas sebelum janur kuning melambai dan sebelum ada kata sah diantara kita, hal tersebut tidak boleh kita lakukan," tolaknya Karina yang tidak ingin hubungannya ternodai dengan perbuatan yang tidak seharusnya mereka lakukan.
Kepergian ibunda tercinta Karina menyisakan luka yang mendalam. Karina pun semakin khawatir saat mengetahui kalau adiknya akan dibawa ke luar negeri untuk dijual. Karina tak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan adik-adiknya.
Anak buah Arman sudah menangkap bapak tiri dari Karina dan sekarang sudah berada di dalam ruangan penyekapan milik Arman. Pak Mustari dengan tega menukar anaknya dengan pelunasan semua hutangnya.
Apa karena ada hubungannya dengan perkataan dari Ardiansyah dan Aryanta yang mengatakan kepada Ariel Hermansyah kalau malam pertama itu sangat meyakitkan dan jarang ada perempuan yang selamat dari malam pertamanya.
Ardiansyah Bagaskara dan Arta Martadinata hanya mengerjai Arman saja dan mereka ingin melihat reaksi dari Ariel. Mungkin karena itu lah Aril saking sayangnya kepada Aurel sehingga termakan tipu muslihat dari Artha dan juga Ardian.
Sedangkan di kamar lainnya Agnes yang ingin mengganti pakaiannya karena sudah mandi dan membuka pintu lemarinya dan bola matanya terbelalak saking tidak percayanya dengan apa yang dilihatnya.
Semua pakaiannya yang sebelumnya sering dia pakai semuanya tidak ada di dalam lemari pakaiannya. Yang ada hanyalah pakaian yang kekurangan bahan.
"Apa yang terjadi dengan lemariku, semua pakaianku di taruh dimana dan ini juga pakaian apaan nih yang sangat tipis apa semua benang dan kain di pasaran sudah habis, sepertinya yang buat pakaian ini kekurangan modal," batinnya Agnes.
Agnes mengangkat dan menggantung pakaian tersebut ke atas kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
"Pasti ada yang sengaja menukar pakaianku dengan pakaian ini dan buku apa nih? apa buku tentang cara yang baik dalam menghadapi suami di malam pertama," gumam Agnes.
Agnes dengan berat hati dan sangat terpaksa memakai pakaian tersebut dari pada hanya memakai handuk sebatas paha saja dan takutnya nanti masuk angin.
Agnes pun membaringkan tubuhnya di atas ranjang king size-nya dan mengambil buku tersebut dan segera membuka buku itu. Agnes kembali shock melihat isi dan gambar dari buku tersebut.
"Ini buku atau apa sih, isinya gambarnya yang tidak masuk akal," gerutunya Agnes yang geleng-geleng kepalanya melihat isi bukunya.
__ADS_1
Tapi Agnes kepo juga dengan isinya dan membuatnya penasaran dan membaca buku tersebut hingga matanya terlelap dalam tidurnya. Dengan buku yang masih setia dalam genggamannya.
Tidak lama kemudian Arsene masuk ke dalam kamarnya dan Arsene sedang menghadapi ujian kesabaran iman. Dia masuk ke dalam kamarnya dan langsung mengunci pintu kamarnya karena sudah mengantuk dan ingin tidur.
Tetapi apa yang terjadi pose dan posisi Agnes disaat tertidur dan pakaian yang dipakai oleh istrinya membuat Arsene harus bersusah payah menelan ludahnya.
Agnes memakai pakaian yang kekurangan bahan yang tembus pandang yang berwarna merah menyala. Bahkan Agnes tidak memakai pakaian dalam apa pun sehingga Arsene semakin dibuat ketar ketir dan cenat cenut kepala atas dan kepala bawahnya.
Arsene ingin keluar dari kamarnya karena tidak ingin menggangu tidur dari Agnes, tapi tiba-tiba Agnes mengigau dan mengatakan kalau dirinya kedinginan.
"Apa yang harus aku lakukan?" Batinnya Arsene.
Arsene tidak tahu harus berbuat apa dan hanya ikut naik berbaring di samping Agnes. Tapi tangannya Agnes langsung menarik tubuh Firman dengan sekuat tenaga mugkin Agnes mengira kalau tubuhnya Arsene adalah bantal guling.
Arsene semakin dibuat kelimpungan ehingga Agnes memeluk erat Arsene seakan-akan akan ada yang merebut Arsenio dari sisinya.
"Jadi Abang harus apa Sayang?" tanya polos Arsenio.
"Peluk Adek yah Bang," jawab Agnes.
Arsenio Firmansyah pun mengabulkan permintaan dari Agnes Norita Naufal dan segera memeluk tubuh Istrinya yang baru beberapa jam resmi dia nikahi. Firman semakin dibuat cenat cenut tak berdaya dengan godaan dari Ratna.
Karena akal sehatnya Arsenio dikalahkan oleh bisikan dari arah lain di telinganya membuatnya melakukan kewajibannya sebagai seorang suami. Saking enaknya bercocok tanam untuk yang pertama kalinya Arsenio alami dan rasakan membuatnya tidak berhenti bahkan semakin bersemangat walau pun Arsenio sudah berteriak antara kesakitan atau keenakan
Hutang pak Mustari ternyata belum lunas setelah Pak Mustari merebut semua gaji yang diperoleh oleh Karina dan ternyata hutang piutang yang dimiliki oleh bapak tiri Karina senilai 500 juta yang setiap hari bunganya semakin bertambah.
Karena sudah didesak oleh rentenir untuk membayar hutang tersebut sedangkan Pak Mustari sama sekali tidak memiliki uang sepeserpun dan jika tidak segera melunasi maka Pak Mustari akan dibunuh.
__ADS_1
"Ingat baik-baik yah Pak Mustari, jika bapak tidak segera melunasi semua hutang bapak beserta bunganya maka nyawa bapak yang akan menjadi taruhannya!" ancam anak buah Pak Joni selaku rentenir yang memberikan pinjaman uang untuk Pak Mustari.
"Bapak terlalu sok mampu untuk melunasinya, jadi bapak tidak berfikir gimana susahnya mencari uang, tapi gampang saja kalau bapak ingin melunasinya bapak tinggal menyerahkan kepada kami semua putri bapak yang tiga orang itu dan kami akan membawa mereka ke Dubai untuk dijadikan perempuan yang tentunya akan menghasilkan uang yang sangat banyak dan semua hutang bapak dianggap lunas beserta bunganya," jelas Pak Mansyur salah satu anak buah pak Joni.
Pak Mustari pulang ke rumahnya dan langsung memenuhi permintaan mereka yaitu membawa kedua putrinya dengan tega dan tidak berperasaan sama sekali bahkan memukul istrinya yang sedang sakit.
Kepala Pak Mustari sudah dibayangi oleh uang banyak sehingga lupa daratan dan kalap untuk menyiksa Istrinya agar bebas membawa kedua putrinya. Untung saja Karina berada di luar pasti Karina akan bernasib sama seperti ke dua adiknya.
"Pak kumohon jangan bawa mereka pak, kasihan mereka masih kecil, bapak mau bawa mereka ke mana?" tanya Ibunya Karina yang masih menarik kaki suaminya agar tidak berhasil membawa anaknya.
Tapi teriakan dan perkataan dari mulut istri dan anaknya sudah tidak dihiraukan oleh Pak Mustari bahkan pak Mustari dengan tega menginjak kaki istrinya yang sedari tadi merangkak memegang kakinya.
"Bapak tolong lepaskan kami Pak, kasihan Ibu tidak ada yang menjaganya!!" ratap adiknya Karina yaitu Karmila.
Tapi Pak Mustari sama sekali tidak menghiraukan ucapan dari anaknya dan masih terus menarik kedua tangannya seperti seseorang yang sedang menarik kambing saja.
"Pak kasihan Ibu, tolong kami lepaskan kami pak kami akan memenuhi semua permintaan bapak asalkan jangan bawa kami pergi dari sini," ratap Kania yang meronta ingin berlari ke arah ibunya yang sudah terkapar dengan bersimbah darah di sekujur tubuhnya.
Para tetangga melihat dan menyaksikan langsung kejadian tersebut tapi mereka tidak ada yang berniat untuk membantunya karena mereka tahu dan sadar jika mereka ikut campur maka mereka akan dipukuli oleh Pak Mustari.
Mereka sudah mengenal Pak Mustari yang terkenal sangar dan kejam. Mereka sering sudah melihat langsung kebiadaban pak Mustari jika Karina tidak ada di rumahnya tapi, jika Karina ada Pak Mustari seakan-akan tidak berkutik untuk menyiksa Istrinya dan anaknya.
"Ayo bangun!! kamu belum puas tidur kah!!" Hardik anak buah Arman sambil menyiram air yang sangat dingin ke tubuh pak Mustari.
Pak Mustari yang diguyur air dingin langsung terbangun dari pingsannya. Saking dinginnya air tersebut membuat tubuhnya menggigil kedinginan. Wajahnya yang sudah tidak seperti sebelumnya dan banyak luka lebam di sekujur wajahnya bahkan masih banyak darah segar yang mengalir di sekujur tubuhnya.
"Ingat jangan biarkan dia cepat mati usahakan dia berteriak kencang untuk meminta kematian mendatanginya dari pada harus menanggung penyiksaan dari kalian" ucap Arman sebelum meninggalkan ruangan yang pengap dan sumpek tersebut.
__ADS_1
Ruangan itu khusus untuk dijadikan tempat penyiksaan bagi siapa pun yang melanggar aturan atau pun orang yang ingin mengganggu ketenangan keluarganya.