Queen My Heart

Queen My Heart
Bab. 243


__ADS_3

"Papa! Aku siap dan sanggup untuk menjaga Papa hingga papa tidak mampu berdiri lagi, dan tidak suka dengannya gimana kalau dia hanya mencintai Papa sedangkan saya tidak, apa lagi jika dia tahu saya yang pernah ingin mencelakai anak dan menantunya Papa!!' bentaknya Ahmad yang sudah tegang bahkan suaranya sudah naik beberapa oktaf.


"Arman insya Allah Mama Elisabeth akan menyayangimu sepenuh hatinya dan cobalah untuk membuka hati dan menerimanya, dan Papa mohon besok datanglah di acara Papa, dan Papa sangat berharap kedatangan kamu" ucap Pak Hendry yang memegang punggung tangannya.


"Ingat tidak semua Mama itu sama Nak, yakinlah Mama Elisabeth adalah Mama yang akan menyayangimu dengan sepenuh hatinya dan tunjukkan kepadanya jika kamu menyayanginya juga," harap Pak Hendry.


Perdebatan Papa dan anak itu berlanjut hingga sampai sore hari. Ahmad berdiri dan berlalu dari hadapan Papanya dengan emosi yang meluap-luap saking marahnya sampai-sampai urat lehernya semakin nampak di pandangan mata.


Di kamar yang cukup besar dan megah, ada seseorang yang sedari tadi berdiri di depan sebuah lukisan yang tidak membuatnya bosan dan capek untuk memandang wajah orang dalam lukisan tersebut.


Air matanya tak hentinya mengalir membasahi wajahnya yang sudah nampak ada keriput di sekitar area matanya.


"Maaf bukannya Aku sudah melupakanmu atau pun sudah tidak mencintaimu, tapi Aku lakukan ini semua demi Anak-anak kita dan cucumu, Mama tidak ingin melihat mereka menderita lagi Mas," ucap cicitnya yang berdialog dengan lukisan Pak Wiguna.


Langkahnya terhenti setelah melihat Mama nya sedang menangis tersedu-sedu di hadapan lukisan ayahnya dan dirinya sempat mendengar alasan Mamanya menerima lamaran dari mantan suaminya dulu.


Adit hanya berdiam diri terlebih dahulu di depan pintu sebelum masuk tapi hingga beberapa menit lamanya dirinya berdiri di depan pintu tapi,bMama nya masih sibuk dengan tatapannya di depan lukisan suaminya Pak Wijaya. Adit segera berjalan ke arah Mamanya dan langsung memeluk tubuh Mamanya dari belakang.

__ADS_1


"Jangan menangis lagi Ma, kalau ini yang terbaik maka lakukanlah dengan segenap hati Mama dan aku yakin papa pasti menerima kenyataan ini dan mengijinkan untuk menikah dengan Pak Hendry," ujarnya Aditia dengan nada suara yang lebih lembut dan tenang.


Arya pun membalikkan tubuh Mamanya menghadap ke arahnya dan langsung menghapus jejak air mata di wajah Mama Elisabeth.


"Sudah Ma, mereka pasti akan mengerti dengan keputusan Mama Ayah dan adikku, mereka cukup Sabar dan bijaksana dalam menanggapi perihal ini" ucap Arya yang menarik tubuh renta Mama nya ke dalam pelukannya.


Mama Elisabeth langsung menangis sejadinya, dan tidak percaya jika anak ke duanya tidak keberatan dengan keputusan yang diambil nya bahkan Arya sangat berharap agar keputusan mamanya tidak membuatnya bersedih dan menyesal dikemudian hari.


"Makasih banyak nak atas pengertiannya, ternyata putraku yang selama ini sering bermanja-manja dan selalu menginginkan dibacakan cerita jika ingin tidur sudah dewasa dan semakin bijaksana, Mama bangga sekali dengan kamu nak" ucap Mama Elisabeth didalam pelukan putra ke duanya.


"Besok adalah hari bahagia Mama jadi Arya tidak ingin melihat ada lingkaran hitam di sekitar mata Mama nanti jadi saigannya panda hehehe" ucap Arya yang berusaha menghibur Mamanya.


Arya kemudian menyelimuti Mamanya dan mengecup kening Mamanya.


"Tidurlah ma, besok mama harus tampil cantik agar pak Hendry semakin pangling melihat Wajah neneknya si kembar," ucap Adit.


Adit yang kemudian mencium kening Mamanya dan sebelum keluar mematikan lampu utama kemudian menyalakan lampu tidur yang ada di atas meja nakas. Ia berjalan ke arah luar dengan langkah yang lebar.

__ADS_1


Adit baru saja menghapus jejak air matanya setelah beberapa menit menahan laju air matanya agar Mama Elisabeth tidak terbebani dengan pemikirannya sendiri yang bisa membuat Mama Elisabeth sulit untuk melangkah ke depan.


Ini adalah hidup Nyonya besar yang harus berlanjut dan jangan menghalangi niat baik seseorang. Dia bersandar di balik pintu kamar pribadi Mamanya.


"Ya Allah lindungilah selalu mamaku, jauhkan mama aku dari segala marabahaya dan semoga Mamaku selalu dan bahagia selamanya," batinnya Adit.


Persiapan sudah banyak yang dilakukan oleh kedua keluarga mempelai wanita maupun mempelai prianya yang mempersiapkan keperluannya. Mereka berbaur seakan-akan tidak pernah ada rasa saling bermusuhan dan dendam dari hati mereka.


Karina adalah gadis yang periang, mudah bergaul dan suka menolong orang lain. Usia Karina baru menginjak 20 tahun tapi cukup dewasa dan bijaksana dalam menghadapi kerasnya kehidupan.


Bapak tirinya yang sering pulang malam dalam keadaan mabuk tidak pernah ia hiraukan kecuali jika bapak sambungnya itu berbuat yang tidak-tidak baru lah Karina menegur bapaknya.


Adit pun ikut membantu persiapan tersebut dan ia meminta kepada mereka untuk menurunkan ego mereka demi kebahagiaan di kemudian hari.


Beberapa jam kemudian, Mama Elisabeth tiba-tiba bangun dari tidurnya dan nafasnya memburu dan ngos-ngosan seakan-akan dirinya dari berlari. Mama Elisabeth segera meraih gelas yang ada di atas Meja Nakas ranjangnya dan mengisi gelas tersebut dengan air putih.


"putraku!" Cicitnya Mama Elisah setelah keadaannya sudah kembali normal.

__ADS_1


Nyonya Elisha bermimpi bertemu dengan seorang pria yang memiliki dua buah tanda lahir di punggungnya.


"Ya Allah jikalau memang putraku masih hidup maka dekatkanlah dia denganku dan jika dia sudah meninggal maka berilah aku petunjuk bahwa dia masih hidup," lirihnya Bu Elisha yang berharap Bu Elisha yang sangat ingin bersua dengan putra pertamanya yang hilang saat diculik oleh selingkuhan mantan suaminya.


__ADS_2