
Karina takut jika membuat mobil Arman yang mahal tergores sedikit pun. Karina takut jika dituntut untuk ganti rugi dan memperbaiki mobilnya Arman yang pastinya biaya ganti rugi dan perbaikannya bukan uang yang sedikit jumlahnya..Hujan pun turun semakin lebatnya, Karina tetap melajukan mobilnya Arman hingga perlahan tapi pasti sampai di garasi villa megah milik orang tua Arman.
Karina segera meminta tolong kepada Security untuk membantu Arman ke dalam rumah untungnya Security yang berjaga saat itu ada dua orang, sehingga memudahkan untuk memindahkan Arman ke dalam kamarnya. Tubuh Arman yang sempat kehujanan tadi sudah menggigil kedinginan dan tubuhnya sudah demam.
"Pak Karina minta tolong yah diantar Pak Arman sampai ke dalam kamarnya dan ini kunci sama dompet tuan Arman yang sempat tadi jatuh, karena sudah larut malam saya permisi pamit pulang dan maaf tidak sempat mengantar Tuan Arman ke dalam kamarnya," pamit Karina kemudian.
"Apa yang terjadi dengan Tuan Muda Mbak?" Tanya Pak Joko.
"Tuan muda Arman terlibat perkelahian dengan seseorang dan wajahnya pak Arman sempat terkena pukulan dari pria itu, tapi mungkin karena pengaruh pakaiannya yang basah sehingga tubuh pak Arman demam dan menggigil kedinginan," Jawab Karina lagi.
"Makasih banyak Mbak sudah menolong Tuan Muda dan mengantarkannya ke sini," ucap Pak Joko salah satu Security yang membantu Karina.
"Sama-sama Pak, Assalamu alaikum," ujarnya Karina sebelum meninggalkan Villa itu.
Karina memesan ojek online kemudian pulang ke rumahnya. Karina heran dengan Arman setiap kali mereka ketemu hanya jarang sekali Arman dalam keadaan tidak mabuk. Tubuh Karina basah kuyup karena hujan belum reda saat dirinya pulang.
Apa yang terjadi sebenarnya dengan tuan Arman yah, sepertinya dirinya punya masalah yang membuatnya tertekan dan melarikan diri dengan cara mabuk-mabukan. Sedangkan di dalam Villa, Mama Elisabeth yang melihat Arman dibawah oleh Security segera berlari untuk membantu Security itu.
"Apa yang terjadi dengan Arman?" tanya Mama Elisabeth.
"Tuan muda diantar pulang oleh seseorang cewek dalam keadaan yang sudah seperti ini," imbuhnya Pak Joko.
"Antar cepat tuan muda ke dalam kamarnya jangan sampai sakitnya bertambah parah!" perintah Bu Elisha.
Tubuh Arman dibaringkan di atas ranjangnya dan Mama Elisabeth membuka seluruh pakaiannya Arman yang basah Minggu lalu waktu Arman mabuk bukan mama Elisabeth yang menggantikan pakaiannya.
Tetapi security karena Mama Elisabeth tidak ingin Arman marah jika mengetahui bahwa dirinya yang mengganti pakaiannya tersebut. Mama Elisabeth dengan perlahan mengganti satu persatu pakaian yang membalut tubuh Arman.
__ADS_1
Bu Elisabeth kembali teringat dengan putranya yang menghilang saat dirinya mengganti pakaian babynya," Mungkin putraku seumuran dengan Arman andai saja dia masih hidup tapi mama berharap kamu masih hidup Nak," batinnya Bu Elisha.
Dengan penuh hati-hati, Mama Elisabeth melepaskan pakaian Arman tapi disaat Mama Elisabeth kesusahan untuk membersihkan tubuh Arman dari sisa air hujan, Mama Elisabeth kesusahan untuk mengjangkau punggung Arman jadi terpaksa harus memiringkan sedikit tubuhnya Arman.
Disaat Mama Elisabeth menggosok punggung Arman Mama Elisabeth dibuat terkejut dengan tanda lahir yang ada di punggung Arman. Mama Elisabeth memeriksa dengan seksama tanda lahir tersebut. Mama Elisabeth meneteskan air matanya, dan mama Elisabeth tidak ragu lagi dengan tanda lahir yang ada di ada di punggung Arman.
"Ternyata kamu putra Mama Nak, Daniel putra Mama, Mama sangat merindukanmu," Gumamnya Bu Elisabeth yang air matanya sudah membanjiri wajahnya.
Ibu Elisabeth buru-buru memakaikan pakaian ke tubuh Arman. Karena ingin segera bertemu dengan suaminya Pak Hendri. Mama Elisabeth pun menutup pintu kamarnya Arman dan berlari Kecil menuruni undakan tangga dan berlari ke arah ruangan kerja suaminya.
Saking bahagia dan penasarannya Mama Elisabeth tidak mengetuk pintu ruangan tersebut. Nafas Mama Elisabeth memburu dan ngos-ngosan. Hak ini membuat Pak Hendry terkejut dan heran dengan apa yang terjadi dengan Istrinya.
Pak Hendri pun berdiri lalu berjalan ke arah istrinya dan langsung memeluk tubuh istrinya untuk menenangkan Mama Elisabeth.
"Apa yang terjadi denganmu?" tanya pak Hendri yang masih memeluk istrinya.
Kau minta apa akan aku turuti
Walau harus aku terlelah dan letih
Ini demi kamu, sayang
Aku tak akan berhenti menemani dan menyanyagimu
Hingga matahari tak terbit lagi
Bahkan bila aku mati, ku 'kan berdoa pada ilahi
__ADS_1
'Tuk satukan kami di Surga nanti
Tahukah kamu apa yang ku pinta
Di setiap doa sepanjang hariku?
Tuhan, tolong aku, tolong jaga dia
Tuhan, aku sayang dia
Aku tak akan berhenti menemani dan menyayangimu
Hingga matahari tak terbit lagi
Bahkan bila aku mati, ku 'kan berdoa pada ilahi
'Tuk satukan kami di Surga nanti
...Oh
...Aku tak akan berhenti menemani dan menyayangimu
Hingga matahari tak terbit lagi
Bahkan bila aku mati, ku 'kan berdoa pada ilahi
'Tuk satukan kami di Surga nanti
__ADS_1
Wali kangen band..