
"Semoga dia bisa membantu Arman untuk berubah lebih baik lagi dan saya yakin dia gadis yang baik, lagian dia yang tempo hari menolong Arman saat kecelakaan," batinnya Nyonya Elisabeth.
Karina menunduk karena malu-malu karena ditatap terus oleh Mama Elisabeth, "Kalau gitu kamu ikut ibu ke atas, kebetulan kamar anak ibu berada di lantai dua," Ujarnya Mama Elisabeth dan kemudian berjalan untuk menuntun Karina ke kamar Arman.
"Apa ibu Elisabeth masih punya putra yang masih kecil yah, karena tidak mungkin aku akan membantu anaknya yang sudah besar untuk mengaji, tapi aku sering lewat depan Villa ini tapi aku Kok tidak pernah melihat ada anak kecil," batin Karina yang keheranan.
Karina tetap mengikuti langkah kakinya ibu Elisabeth tanpa suara. Karina berperang dengan pemikirannya sendiri tentang siapa anaknya nyonya Elisabeth yang ingin belajar dengannya. Pintu kayu jati itu terbuka dengan lebarnya.
Ibu Elisha beserta Karina masuk ke dalam kamar tersebut. Sedangkan Arman yang terlalu fokus membaca buku tuntunan shalat wajib tidak menyadari kedatangan mereka dan pandangannya tidak beralih dari buku tersebut.
"Maaf ganggu nak, orang yang akan membantu kamu untuk mengaji sudah datang," imbuhnya Mama Elisabeth yang tersenyum penuh arti ke arah Arman.
Sedangkan Karina kaget setelah mendengar perkataan dari Mama Elisabeth yang mengatakan kalau Tuan Arman kah yang akan dia bantu.
__ADS_1
Sedangkan Arman pun kaget sekaligus terkejut melihat sosok perempuan cantik yang ada di depannya dan membuatnya terkesan dengan penampilan baru cewek yang seminggu ini dia rindukan kehadirannya. Arman refleks tersenyum ke arah Karina yang jarang sekali Mama Elisabeth lihat senyuman putranya itu.
"Kenalkan ini putra Ibu, tolong kamu bantu dan bimbing dia yah," harap Elisabeth yang memecah keheningan yang tercipta di antara mereka.
Karena Arman dan Karina hanya sibuk saling berpandangan. Karina yang tidak kuasa menahan rasa kaget sekaligus tidak percaya dan Arman yang bahagia bisa bertemu kembali dengan gadis yang akhir-akhir ini memenuhi mimpinya.
"Mungkin kalian sudah saling kenal jadi Mama tidak perlu lagi repot-repot untuk memperkenalkan kalian berdua," tutur Mama Elisabeth yang tersenyum melihat anaknya yang tidak berkedip memandang Karina.
"Tapi Ibu meminta tolong kepada kamu untuk sementara tinggal di sini selama kamu menjadi guru les ngaji putraku hingga putraku bisa mandiri membaca Alquran tanpa bantuan orang lain," ungkap Bu Elisabeth.
"Kalau masalah pakaian kamu, kamu tidak perlu khawatir dengan semua itu, Ibu yang akan mengatur semua itu dan kamu cukup fokus membantu putraku saja," jelas Mama Elisabeth lagi.
"Baik Bu," ucap singkat Karina yang tidak mungkin menentang perkataan dari Nyonya besar.
__ADS_1
"Kalau gitu silahkan mulai saja, Mama pamit turun yah nak, kalau ada apa-apa atau kamu butuh sesuatu panggil Mama yah Nak," ucap Mama Elisabeth lalu berjalan ke arah pintu keluar dan menutup pintu kamar Arman.
Sedangkan Arman masih saja memperhatikan wajah Karina yang membuatnya sedari tadi tidak bisa berpaling. Sedangkan Karina merasa tidak enak jika harus dipandang dan ditatap seperti itu oleh tuan Arman.
"Maaf tuan, apa kita bisa memulai pelajaran mengajinya?" tanya Karina yang tidak ingin menunda-nunda lagi.
"Silahkan mulai saja," tutur Arman.
Karina pun mulai membuka pelajaran baca tulis Al-Qur'an dengan bertanya tentang apa yang sudah diketahui oleh Arman. Karina cukup kagum dengan kemampuan yang dimiliki oleh Arman.
Karena sudah banyak huruf hijaiyah yang Arman kuasai padahal setaunya Arman baru mulai belajar hari ini dari mamanya. Karina kadang malu jika harus berdekatan dengan Arman Karena kondisi Arman yang masih susah dan tidak leluasa untuk bergerak bebas.
Seperti sekarang Karina membantu Arman untuk memperbaiki posisi duduknya Arman sehingga mereka harus berdekatan. Hal ini dimanfaatkan oleh Arman dan di dalam hatinya sangat bersorak gembira.
__ADS_1
"Kalau gini aku harus terus berpura-pura tidak cepat mengerti dan berpura-pura mengeluh sakit agar dia bisa berada di dekatku, entah kenapa wangi alami dari tubuhnya membuatku candu dan terus ingin selalu berdekatan dengannya," gumam Arman.
Sedangkan Karina yang polos tidak mengerti siasat dari Arman. Mama Elisabeth memantau mereka dari Cctv yang beliau pasang sembunyi-sembunyi dan Arman tidak mengetahui hal tersebut. Mama Elisabeth ingin mendekatkan mereka setelah mencari tahu identitas dari Karina melalui detektifnya.