
Linda tidak mengijinkan Pak Hendry untuk melihat terakhir kalinya putrinya dengan berbagai alasan. Pak Hendri kembali teringat beberapa tahun yang lalu. Waktu itu saya sedang berangkat ke luar kota dan menitipkan anak-anak kita pada Linda.
Hanya sehari keberangkatanku ke luar kota dan dikabarkan kalau kedua anak kita menghilang dan putri kita sudah meninggal. Waktu saya yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga saya tidak pernah memikirkan kejadian tersebut dengan baik.
Satu Minggu kemudian dengan alasan kalau Linda sangat sedih atas kehilangan dan kematian putri kita dia membawa sepasang anak bayi dan kami merawatnya hingga berumur 10 tahun. Di usia Arman yang sepuluh tahun, aku mengetahui perbuatan tidak manusiawi Linda yang setiap hari menyiksa Arman jika saya ke luar daerah maupun keluar negeri.
Hingga suatu hari Linda kedapatan selingkuh di belakangku dan Arman yang menjadi saksi tersebut harus disiksa dan dipukuli oleh mereka hingga masuk rumah sakit. Dan mulai saat itu, Arman seakan-akan selalu mudah marah dan emosi walau pun hanya masalah sepele saja.
Dia selalu ada di dalam pikirannya adalah balas dendam kepada siapa pun yang menghalangi jalannya dan jika dia menginginkan sesuatu dan tidak dipenuhi maka dia akan marah bahkan mengamuk. Saya sangat menyesali keputusanku yang menikahi Linda dan berselingkuh dari kamu.
Hasutan demi hasutan yang aku dengar dari mulut Linda yang mengatakan kamu itu jelek dan selingkuh dengan pria lain dan dengan segala cara Linda menggodaku sehingga aku tertipu dan terperdaya dengan kebohongannya.
__ADS_1
"Ya Allah aku tidak menyangka putraku menderita seperti itu, bahkan nyawanya menjadi taruhan dari kejahatan perempuan itu," batinnya Bu Elisah.
"Maafkan aku ini semua kesalahanku, aku sangat menyesal telah membuat kamu terluka dan mengusir kamu dari rumah dan dari hidupku," sesalnya Pak Hendry yang meneteskan air mata penyesalannya.
"Sudahlah mas semuanya sudah terjadi dan tidak perlu menyesali semua yang telah terjadi dan sekarang jalan yang terbaik adalah melupakan masa lalu kelam, berdamai lah dengan masa lalu dan buanglah jauh-jauh pikiran untuk selalu balas dendam, karena tidak ada gunanya selalu balas dendam," ungkap Mama Elisabeth yang masih menangis tersedu-sedu.
Bu Elisabeth masih duduk di samping bangkar Arman yang sejak dipindahkan mama Elisabeth sudah berada di sana hingga sekarang pukul 8 pagi tapi Karina belum juga bangun dan sekarang sudah dipindahkan ke kursi panjang sedangkan Arman masih tidak sadarkan diri setelah dioperasi.
"Arman jangan lari nak, ayok mendekatlah ke sini Nak, ini mama sayang," ucap seorang perempuan yang berpakaian putih yang sedang berdiri di bawah pohon.
Ahmad Arman perlahan-lahan berbalik arah dan terus berjalan ke arah lain. Tapi perempuan itu terus memanggil Arman agar berbalik dan berhenti untuk berjalan.
__ADS_1
"Arman sayang ini mama sayang, Mama sangat merindukanmu apa kamu tidak ingin bertemu dengan mama Nak!!" teriak perempuan itu yang mengaku adalah mamanya.
Tapi Arman tetap berjalan hingga di ujung Padang ilalang tersebut ada sebuah jurang yang sangat dalam, langkahnya terhenti dan karena tidak seimbang Arman akhirnya terjatuh ke dalam jurang tersebut.
Tapi tiba-tiba ada tangan yang sangat putih, lembut dan halus menariknya hingga ke atas. Tubuh Arman berhasil diselamatkan dan Arman langsung memeluk tubuh perempuan itu dan memanggil namanya Mama.
"Mama…!!" Jeritnya Arman dengan nafas yang kembali memburu, nafasnya ngos-ngosan dan sedikit susah untuk bernafas normal.
Bu Elisabeth yang mendengar teriakannya Arman dan merasakan ranjang Arman yang bergoyang membuatnya terbangun dari tidurnya yang baru beberapa menit mengistirahatkan tubuhnya. Kondisi Arman yang berbalut kain perban di kepalanya sedangkan kakinya yang digips membuat pergerakannya menjadi terbatas.
Arman selalu menatap wajah mama Elisabeth selama dia tersadar dari komanya beberapa jam. Arman membandingkan wajah perempuan yang menolongnya di dalam mimpinya itu mirip dengan Mama Elisabeth. Arman tanpa sadar meneteskan air matanya.
__ADS_1
Arman sangat sedih dan tidak tahu tiba-tiba perasaan rindu, sedih dan takut kehilangan bercampur jadi satu. Arman tanpa sadar langsung memegang tangan Mama Elisabeth. Sedangkan Mama Elisabeth yang menyadari hal tersebut langsung membalas pegangan tangan Arman.
"Apa yang kamu rasakan nak, apa Kamu ingin minum?" tanya Bu Elisha.