
Suasana duka menyelimuti rumah ke dua orang tuanya Mark. Ibunya Mark tidak ingin putranya disemayamkan di kediaman anak dan menantunya dulu. Eliana berlari ke arah mantan Ibu mertuanya. Mereka berpelukan saling menyalurkan rasa sedih yang menyelimuti hati mereka.
"Moms, maafkan Mark yang sudah buat Mommy kecewa, Eliana juga minta maaf karena salah Eliana yang terlalu egois yang tidak sabar menemani Mark sehingga Mark memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.
"Ini semua bukan kesalahan Kamu, melainkan jelas-jelas kesalahannya sendiri yang lebih memilih batu kerikil dari comberan dari pada batu berlian."
"Seperti inilah takdir hidup Mas Mark, apa yang kita lakukan jika takdirnya seperti ini, maka bersabarlah Eliana, Moms yakin Mark sudah tenang di alam sana,"
Mereka masih berpelukan satu sama lain untuk saling menguatkan. Kesedihan terlihat jelas di wajah mereka yang datang melayat. Mereka tidak menyangka jika, seorang CEO yang disegani dan dikenal baik hati, dan setia pada istri dan keluarganya ternyata tidak sesuai dengan yang mereka saksikan di akhir hidupnya Mark
Harta, tahta dan wanita adalah ujian bagi setiap kaum pria. Jika Kamu tidak mampu untuk mengendalikan diri sendiri sebaiknya, akan berakhir seperti ini hidup kalian.
"Daddy, maafkan Key yah Dad, Key sudah banyak salah dan dosa sama Daddy," Air matanya membanjiri seluruh wajahnya.
Key menciumi seluruh wajah Daddynya yang sudah dikafani dan siap untuk dishalatkan. Raditya ikut memeluk jenazah Mark. Dia tidak hentinya meneteskan air matanya.
Memang dia akui setelah mereka dewasa barulah Daddy-nya berubah drastis dari penyayang, baik hati menjadi Ayah yang sangat diktator. Selebihnya mereka tetap bahagia,bangga dan bersyukur memiliki Ayah yang seperti Mark.
Beberapa saat kemudian, jenazah dishalatkan di rumah duka dan dikebumikan di TPU khusus keluarga besar Mark. Banyaknya pelayat yang mengantar Mark ke tempat Peristirahatan terakhirnya membuktikan bahwa kebaikannya masih diingat oleh orang-orang.
Empat hari mereka berada di Prancis mereka pun memutuskan untuk segera kembali ke Indonesia, Jakarta. Sedangkan Amanda nanti selesai tujuh harinya baru kembali ke Inggris, London untuk mengurus pernikahannya setelah lebaran idul Adha.
Selama di Prancis, Alexander Agung selalu menemani Amanda di mana pun berada. Agung selalu setia menemani dan mendukung Amanda. Amanda bersyukur karena calon suaminya mampu membuatnya sedikit dan mampu melupakan kegundahan dan kesedihan hatinya.
"Makasih banyak Abang, selalu berada disampingku untuk melewati semua ini."
Agung yang duduk di sampingnya di kursi taman memandang wajah penuh cinta kekasihnya yang nantinya akan menjadi pendamping hidupnya kelak.
"Abang merasa bahagia dan bersyukur karena Abang bisa menemani Kamu di saat kamu butuh seseorang untuk bersandar."
__ADS_1
Amanda menyadarkan kepalanya di bahu Agung yang cukup lebar itu. Mereka duduk di kursi taman sambil menikmati indahnya pemandangan malam hari di Paris.
Paris adalah kota mode dan tempat paling romantis sepanjang masa. Suasana malam itu sangat cocok untuk pasangan yang memadu kasih.
Neneknya melihat mereka berdua dengan tersenyum bahagia.
"Nenek berharap agar kalian kelak hidup bahagia, biarkanlah kisah rumah tangga kedua orang tuamu menjadi pelajaran bagi kehidupan kalian kedepannya."
Air matanya mengalir membasahi wajahnya yang sudah keriput itu. Beliau tidak mengira jika nasib anak tunggalnya berakhir menyedihkan di akhir hidupnya.
"Mark Mami merindukanmu nak, Mami masih ingat di saat Kamu berlarian ke arah Mami untuk digendong, dengan langkah kaki kecilmu itu," air matanya menetes membasahi pipinya.
Beberapa hari kemudian, Amanda berpamitan kepada neneknya. Neneknya enggan untuk melepaskan dan mengijinkan kepergian cucunya. Rumah besar itu pasti akan kembali sepi. Andai saja bisa, dia akan tinggal bersama dengan Besannya Mama Elisabeth di Inggris.
Tetapi, rumah yang ditempati menyimpan sejuta kenangan indah bersama putra tunggalnya dengan mendiang suaminya. Amanda memeluk tubuh Neneknya yang masih kelihatan muda itu di usianya yang sudah menginjak usia 60an.
Neneknya membalas pelukan dari cucu ketiganya itu.
"Nenek terima tawaran Nenek Elisabeth saja, agar Nenek tidak kesepian lagi di sini, Insya Allah Kakek dan Daddy Mark pasti akan mengerti."
"Nenek akan pertimbangkan Permintaan Nya Nenek Kamu, kalau Nenek sudah siap ke sana pasti akan segera menelpon Kamu atau Keyna.
"Amanda pamit dulu yah Nek, jaga kesehatan Nenek, dan jangan lupa jangan terlalu bersedih dan terpuruk dalam kesedihannya Nenek, assalamu alaikum Nek."
"Waalaikum salam, hati-hati sayang, insya Allah akan saya laksanakan apa pun yang Kamu katakan."
Neneknya tidak ingin melepas pelukan dari cucu perempuannya tersebut.
"Jujur saja Nenek sangat sedih melihat kalian akan pergi jauh meninggalkan Nenek, tapi itu yang terbaik untuk kalian."
__ADS_1
Silahkan mampir juga ke novel aku yg lainnya ceritanya tidak kalah seru dengan My Queen Heart loh...
dilema diantara dua pilihan
cinta dan dendam
pelakor pilihan
hanya sekedar pengasuh
cinta ceo pesakitan
ketika kesetianku dipertanyakan
menggenggam asa
cinta kedua ceo
kau hanya milikku
Makasih banyak bagi kakak readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...
Tetap dukung my queen heart dengan cara like setiap babnya, rate bintang 5, favoritkan dan votenya serta komentarnya yah...
Maaf jika banyak terdapat kesalahan dalam pengetikannya atau typonya...
__ADS_1