
"Sini tasmu mama yang bawa masuk," pinta Mama Elisabeth yang mengulurkan tangannya untuk mengambil tas Arman.
Ahmad malah menghempas tangan mama Elisabeth kebelakang dan bahkan membentaknya, "Tidak usah sok perhatian sama saya, kita tidak ada hubungan apa pun dan jangan coba-coba untuk menyentuh semua barang-barang pribadiku apa pun alasannya dan satu hal lagi bagiku semua ibu itu sama semuanya jahat!" bentaknya Ahmad yang menghardik mama Elisabeth pas depan wajahnya lalu berlari menaiki undakan tangga.
"Aku tidak ingin makan masakan kamu jangan sampai kamu menaruh racun ke dalam makananku," cibirnya lagi dan kembali berlari naik ke atas Lantai dua tempat kamarnya berada dan menutup pintu kamarnya dengan sangat kuat.
Mama Elisabeth hanya mematung dan tidak menyangka jika dirinya akan mendapat perlakuan seperti itu padahal niatnya baik tidak ada udang di balik terigu. Pak Hendri mendatangi Istrinya dan langsung mengelus punggung mama Elisabeth.
"Maafkan sikap Ahmad yang tidak sopan, Arman sudah seperti itu dari dulu dan ini juga karena kesalahannya aku yang salah mendidiknya," ucap Pak Hendri yang sangat menyesal dengan sikap Arman yang sangat kasar.
Pak Hendri melangkahkan kakinya ingin naik ke lantai atas tapi tangannya dipegang oleh Mama Elisabeth sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa Kok, wajar saja dia bersikap seperti itu, karena kami baru saling kenal mugkin seiring berjalannya waktu pasti sikapnya akan berubah, Lagian aku tidak apa-apa." Jawab mama Elisabeth lalu berjalan ke arah Meja makan untuk merapikan meja makan tersebut.
Hidup ini tak akan indah
Tanpa kau ada di hati
Ceria ini tak kan ada
Tanpa kau ada di sisi
Kekasihku, kau bunga mimpiku
Tiada yang lain hanya dirimu
Yang kusayang dan selalu kukenang
'Kan selalu bersama dalam suka dan duka
__ADS_1
Dirimu satu yang kumau
takkan lagi ada selain dirimu
Cinta suci hanyalah untukmu
Dengarlah kasih, kaulah dambaanku
Walau kan datang badai menghadang
Kita kan selalu bersama
Tetap satu dalam cinta
Tiada yang mampu merubah
Bagaikan untaian mutiara
Takkan kulepas hingga akhir masa
Kan selalu bersama dalam suka dan duka
Satu Minggu kemudian, Arman kembali Bar untuk mencari Karina yang pernah menolongnya sewaktu dirinya mabuk berat. Tapi hasilnya masih sama karena Karina tidak masuk bekerja. Arman lalu mencari Alwi untung nya Alwi sip pagi hari ini sehingga dia bisa ketemu dan meminta alamat Karina.
"Maaf mas aku mau ketemu dengan Alwi?" tanya Arman kepada office boy yang sedang membersihkan lantai.
OB tersebut menghentikan aktifitasnya sejenak lalu menjawab pertanyaan dari Arman, "Alwi ada di belakang pak, dia lagi membuang sampah," jawab OB itu.
"Makasih banyak Mas," ucap Arman sambil memberikan dua lembar uang kertas merah kepada OB itu.
__ADS_1
"Makasih banyak Pak," ucapnya lalu kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena Arman bertanya padanya.
Arman melangkahkan kakinya menuju bagian belakang Bar. Arman melihat Alwi sedang sibuk membereskan beberapa botol bekas minuman para pelanggan.
"Alwi?" teriak Ahmad.
"Iya pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Alwi yang memperhatikan wajah Arman yang sepertinya dia kenali.
"Kamu temannya Karisma yang office girl di sini juga, boleh aku minta alamatnya?" tanya Arman.
"Bukannya bapak yang beberapa hari lalu yang kami tolong karena pingsan di lantai Bar?" tanya Alwi.
"Iya benar sekali, kok kamu tahu?." tanya Balik Arman.
"Kebetulan waktu bapak pingsan aku bersama Karina membantu bapak untuk membawa bapak ke dalam kamar karena kami tidak tahu harus menghubungi keluarga bapak yang mana." jelas Alwi.
"Kalau gitu boleh saya minta nomor hpnya Karina atau alamat rumahnya?."" ucap Arman yang berharap sekali.
"Kalau nomor hpnya gak ada pak karena Karina menjual hpnya demi pengobatan mamanya dan alamatnya di jalan suka damai lorong 2," ucap Alwi.
"Makasih banyak, dan ini ucapan Makasih saya karena kamu sudah menolongku tempo hari dan ini untuk informasi Karina." ucap Arman yang menyerahkan sekitar 10 lembar uang kertas merah. Othor kok gak dikasih yah hehehe.
Arman segera berjalan menuju mobilnya dan melajukan mobilnya ke alamat yang telah dia terima dari Alwi. Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke alamat yang Arman cari.
"Ternyata ada tempat seperti ini di dalam kota yang sangat besar, gimana caranya mereka bisa hidup yah?" Gumam Ahmad Arman pada dirinya sendiri setelah melihat keadaan perkampungan tersebut.
Sedangkan Arman pun kaget sekaligus terkejut melihat sosok perempuan cantik yang ada di depannya dan membuatnya terkesan dengan penampilan baru cewek yang seminggu ini dia rindukan kehadirannya. Arman refleks tersenyum ke arah Karina yang jarang sekali Mama Elisabeth lihat senyuman putranya itu.
Tapi Arman kembali berteriak ke arah Mama Elisabeth sebelum dirinya berada di lantai Dua dan sedikit mundurkan langkah nya.
__ADS_1