Queen My Heart

Queen My Heart
Bab. 58. Amarah Yang Meledak


__ADS_3

"Luciana!!!! I beg you to come home, I love you very much Luciana my wife."


Suaranya menggelegar bagaikan petir di siang bolong. Tuan Leonardo Armando sangat sedih, kecewa, marah semua bercampur aduk menjadi satu bagian di dalam dadanya.


Kepergian istrinya membuatnya seperti orang yang kesetanan dan gila. Cinta membuat dirinya lupa daratan.


Pengawal serta ajudannya hanya berdiri mematung melihat kehancuran dari Tuan Besar mereka.


Di dalam salah satu Kamar di Rumah Besar milik Arya Wiguna Albert Kim Said, ada seorang perempuan diusianya yang baru 48 tahun, masih sangat muda jika dibandingkan dengan usia sebenarnya.


Dia berdiri di balkon kamarnya yang sedang menatap indahnya cahaya sinar rembulan malam. Cahayanya mampu membuat hatinya terasa lebih damai. Walaupun dia tidak menampik, jika ada rasa kehilangan dan kerinduan yang dia rasakan setelah 23 tahun hidup bersama. Hari ini harus terpisah karena rasa ego mereka yang sama-sama tinggi dan berada di puncaknya.


"Maafkan Aku Pi, untuk sementara waktu ini jalan yang terbaik untuk kita berdua, Mami mohon Papi bisa bersabar dan lebih tenang dalam menghadapi kepergianku, walaupun aku tahu itu sangat sulit untuk Papi lakukan."


Bulir bening itu perlahan menetes membasahi pipi mulusnya. Dia pun sedih saat memutuskan untuk pergi dari Istana suaminya. Tetapi, kebahagiaan putrinya lah yang menjadi prioritas utama disisa hidupnya.


"Maafkan keegoisanku Papi, Aku tidak sanggup melihat putri kita harus menangis dan menderita jika Aku tidak hadir di hari paling penting dan bersejarah dalam hidupnya."


Sinar rembulan malam ini menerangi seluruh isi bumi. Cahayanya mampu membuat hati yang galau menjadi lebih baik dan bercahaya kembali lagi.


"Suatu saat nanti, Papi akan mengerti kenapa Mami memilih jalan ini."


Berbeda halnya dengan yang dirasakan oleh ke dua mertuanya itu. Andreas yang terbangun dari tidurnya, karena kehausan bangun dari tidurnya.


"Wajahmu semakin cantik Baby," ujarnya lalu menciumi kening istrinya dengan penuh kelembutan.


Andreas meraih boxernya lalu memakainya dengan buru-buru. Dia ingin ke dapur untuk mengambil air putih. Rasa dahaganya di tengah malam itu membuatnya harus menuruni tangga untuk ke lantai satu letak dapur rumahnya Delia.


Dia perlahan menuruni undakan tangga dengan langkah kakinya yang cukup lebar dan panjang. Telinganya menangkap suara seseorang yang sedang menangis. Rasa penasarannya hingga melupakan tujuan awalnya, untuk mengambil air minum di dalam lemari pendingin.

__ADS_1


"Itu suara siapa? kok sepertinya sangat sedih."


Langkah kakinya terus menuntunnya hingga berada di depan kamar pembantu Aunty dan unclenya.


Baru saja ingin memutar kenop pintu kamar itu, gerakannya terhenti dengan suara intrupsi dari seseorang yang sangat dikenalinya. Membuatnya terkejut saking kagetnya membuat gelas yang dia pegang jatuh ke lantai.


"Abang apa yang terjadi? apa yang Abang lakukan di situ" tanyanya dengan berjalan ke hadapan Andreas.


Andreas tidak tahu harus menjawab apa. Dia takut Cilla salah paham padanya. Andreas berbalik dan tersenyum cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Awalnya Cilla terbangun dari tidurnya, dan melihat tempat tidur suaminya yang kosong. Pricilla sudah mencari keberadaan Andreas, tapi tidak ketemu hingga memutuskan untuk segera memakai pakaian tidurnya.


Dia pun berjalan celingak-celinguk mencari keberadaan Suaminya. Tapi, tetap tidak melihat pemilik tubuh tinggi dengan dada bidang yang atletis itu.


Hingga sudut matanya melihat Andreas yang meraih gagang pintu kamar art itu. Cilla berjalan menghampiri suaminya.


"Baby kok di sini? ada apa?" tanya Cilla dengan tatapan menyelidik.


"Terus?" tanya Cilla yang ikut kepo setelah mendengar penjelasan dari suaminya.


"Terus suara itu hilang entah kemana setelah Kamu berteriak," jawabnya dengan menarik pelan hidung mancung milik istrinya.


"Lupakan saja, mungkin Abang hanya salah dengar saja," ucapnya lalu merangkul pinggang Istrinya untuk berjalan ke arah dapur.


"Ok Baby," ucapnya.


"Temani Abang ambil air putih," tuturnya yang mengajak sang istri untuk pergi dari situ.


Walaupun dalam hatinya ada rasa penasaran dengan suara itu.

__ADS_1


"Tapi, gimana dengan pecahan beling gelas itu Baby?" tanya Cilla.


"Ada yang akan membersihkannya, kamu gak perlu risaukan masalah pecahan gelasnya," jawabnya.


Mereka berjalan ke arah dapur, setelah minum beberapa tegukan air putih, Andreas lalu menggendong tubuh istrinya ke atas kamarnya. Mereka akan melanjutkan babak kedua sebelum Subuh.


Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya:



Dilema Diantara Dua Pilihan


Cinta dan Dendam


Pelakor Pilihan


Hanya Sekedar Pengasuh


Cinta ceo Pesakitan


Ketika Kesetianku Dipertanyakan


Menggenggam Asa


Cinta Kedua CEO


Kau Hanya Milikku


__ADS_1


Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...


Mohon maaf jika ada penulisan yang salah atau terdapat typo...


__ADS_2