Queen My Heart

Queen My Heart
Bab. 228


__ADS_3

"ya Allah selamatkan lah anakku dan sehatkan lah dia kembali agar segera berkumpul dengan kami seperti dulu lagi," Lirihnya Mama Elisah.


Mereka tidak sabar menunggu hasil pemeriksaan medis dari Hana. Edah menelpon Aswin suaminya untuk mengetahui perkembangan dari pencarian dokter yang menangani Hana.


Kesenangan bermula dari kebersamaan bersama orang-orang terdekat, terutama keluarga.


Fun starts from being together with the closest people, especially family*.


Jika jahat dibalas kejahatan, maka itu adalah dendam.


Jika kebaikan dibalas kebaikan maka itu adalah perkara biasa.


Jika kebaikan dibalas kejahatan maka itu adalah zhalim.


Tapi, jika kejahatan dibalas kebaikan itu adalah mulia dan terpuji


Tapi dokter tersebut berhasil lolos dan ternyata dia bukanlah dokter yang bekerja di rumah sakit tersebut. Karena Aswin sudah mencari informasi tentang jati dirinya ternyata namanya tidak tercantum di dalam daftar nama-nama dokter yang bekerja di rumah sakit jiwa Harapan.


Cobaan demi cobaan melanda keluarga besar Wijayanto Wiguna jika hati diselimuti oleh rasa benci dijamin hidup akan susah dan keberkahan hidup pun akan menjauh.


Jadilah manusia yang pintar memaafkan kesalahan orang lain. Berdamailah dengan masa lalu.

__ADS_1


Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, keadaan Emir berangsur membaik. Bahkan Emier sudah dinyatakan bisa ke luar dari rumah sakit dan tinggal di rawat jalan saja. Sedangkan Nyonya Ella juga sudah pulih total dan kembali beraktivitas seperti sedia kala.


Paman Mutahar Kansil dan anaknya Ahmed sudah menjalani masa hukumannya sesuai dengan perbuatannya di dalam penjara. Emier dan Nyonya Ella memberikan hukuman kepada anggota keluarganya yang lain dengan memberikan hukuman yang setimpal sesuai dengan perbuatannya.


Bahkan mereka diasingkan ke daerah terpencil dan tidak diberi harta benda sedikit pun. Walaupun di dalam keluarga mereka sempat mengalami goncangan secara interen tetapi Nyonya Ella mengatasinya dengan penuh bijaksana dan adil.


Bu Ella memberikan hukuman yang sesuai dengan perbuatan mereka dan agar kelak mereka tidak berani berpikir apa lagi untuk berbuat jahat lagi. Oma Ella melakukan hal itu ingin ada efek jera bagi mereka, sehingga untuk melakukan kembali kejahatan mereka bisa berpikir ulang.


Susana makan malam itu terasa sunyi yang biasanya ramai dengan celotehan anggota keluarga lainnya. Yang meramaikan hanya tawa dan canda kedua anaknya Emier yang sering membuat Oma Ella pusing karena mereka berbicara memakai bahasa tanah air yaitu bahasa Indonesia walaupun mereka fasih memakai bahasa Inggris tapi bahasa masih Turki kurang paham.


Satu hari sebelum Emir keluar dari rumah sakit, kedua anaknya juga sudah datang bersama ibu mertuanya Emier dari Jakarta. Oma Ella meminta kepada cucunya untuk menetap di Turki karena Oma Ella merasa kesepian jika, Emier dan Rimah kembali ke Indonesia.


Rimah menatap balik ke arahnya Nyonya Ella, "Bicaralah Oma, insya Allah kami akan penuhi permintaan Oma selama kami bisa," tuturnya Rimah.


"iya Oma kalau ada sesuatu yang mengganjal dipikiran Oma, Oma bisa berbagi kepada kami." Emier ikut menimpali dengan menyentuh tangannya neneknya itu.


"Oma berat ingin mengatakannya tetapi Oma tidak tahu harus meminta kepada siapa?" tanya Oma Ella yang sudah murung.


"Oma kalau bersikap seperti itu berarti Oma tidak menganggap kami sebagai anggota keluarganya Oma dan aku juga bukan cucu Oma dong kalau gitu," imbuhnya Rimah sambil memegang tangan Oma Ella.


Oma Ella bersyukur karena cucu-cucunya sangat baik dan pengertian terhadapnya. Oma Ella bersyukur karena mendapatkan cucu menantu yang baik dan Sholehah walau pun awalnya beliau tidak merestui tapi seiring berjalannya waktu Oma Ella pun sudah membuka hatinya untuk menerima pernikahan Rimah dan Emier.

__ADS_1


Nyonya Ella tersenyum bahagia seraya berkata, "Makasih banyak sebelumnya Nak, Oma Ella bersyukur karena kamu sangat pengertian dan tidak banyak menuntut terhadap suami kamu selama ini," ujarnya Bu Ella.


Rimah tersenyum sumringah, "Alhamdulillah Oma sudah bisa menerima pernikahan kami dan menyayangiku serta anak-anaku juga," sahutnya Emier.


Rimah masih mengarahkan pandangannya ke arah Nyonya Ella sembari mengunyah makanannya, "Jadi Oma meminta tolong kepada kami apa?" tanya Rimah yang penasaran dengan permintaan dari Oma Ella tersebut.


Alan sudah lelah mengemudikan motornya tetapi belum sampai juga. Dengan susah payah dan melalui jauhnya perjalanan dan melewati lorong-lorong kecil yang sempit akhirnya rombongan mereka sampai juga.


Dan yang membuat Alan sampai melongo dan terheran karena mereka hanya menemui sebatang pohon kelapa saja dan tingginya lumayan kira-kira hampir 15 meter tingginya.


"Oma meminta tolong kepada kalian untuk tinggal di sini saja dan Oma ingin disisa hidup Oma kalian ada di sampingku dan saya juga meminta kepada ibumu untuk tinggal juga di sini bersama kita," ucap Oma Ella dengan penuh harap.


Rina memandang Emier untuk meminta jawaban dan suaminya pun mengangguk tanpa harus banyak pikir dan mempertimbangkan terlebih dahulu perkataannya.


"Aku siap begitupun dengan anak-anakku dan Ibuku juga Oma siap untuk menemani Oma di istana yang berdiri begitu megah dan besar ini," tuturnya Rima yang tersenyum bahagia karena Oma Ella sudah berubah tidak seperti awal ia menginjak kakinya di Turki.


"Alhamdulillah Makasih banyak Nak, Emre tidak salah memilih istri dan Oma bahagia kalian bersedia" ucap Oma Ella dengan penuh rasa syukur.


Rimah lebih antusias menjalani hari-harinya dengan penuh rasa syukur dan bahagia karena, dirinya dirinya dimanjakan oleh Emre dan keluarganya. Bahkan peraturan yang selama ini sudah ada dan turun temurun mereka jalani dan patuhi sudah dihapus dan tidak akan pernah dibuat ataupun dijalankan seperti yang telah lalu yang hanya membuat dan menyisakan tangis duka yang mendalam saja.


Paman Husain dan anak-anaknya juga sudah sering berkunjung ke istana Oma Ella padahal dulunya numpang melewati rumah itu saja mereka akan berpikir panjang terlebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2