
Arman segera berjalan menuju mobilnya dan melajukan mobilnya ke alamat yang telah dia terima dari Alwi. Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke alamat yang Arman cari.
"Ternyata ada tempat seperti ini di dalam kota yang sangat besar, gimana caranya mereka bisa hidup yah?" Gumam Ahmad Arman pada dirinya sendiri setelah melihat keadaan perkampungan tersebut.
Tapi Arman kembali berteriak ke arah Mama Elisabeth sebelum dirinya berada di lantai Dua dan sedikit mundurkan langkah nya.
Nyonya Elisah duduk di balkon kamarnya setelah melaksanakan shalat isya sekaligus shalat tarawih di masjid. Dia merasakan kerinduan dengan anak-anaknya dari Wijaya.
Bu Elisabh berharap kedua anak perempuannya mengerti dan menerima semua keputusan dan kenyataan yang ada. Deru mesin mobil membuyarkan lamunannya.
Bu Elisha segera menatap ke arah sumber suara. Ia melihat Ahmad yang keluar dari mobilnya dengan langkah gontai dan sempoyongan.
Kadang langkanya tersandung yang membuat dirinya terjatuh ke atas rumput. Mama Elisabeth yang melihatnya langsung berlari ke arah bawah dan segera membuka pintu rumahnya.
__ADS_1
Elisha melihat sosok Ahmadnseakan-akan beliau melihat Adit anak kandungnya sendiri. Mama Elisabeth segera membantu Arman untuk bangkit dari tidurnya di atas rumput yang hijau.
"Apa yang terjadi padamu nak, kenapa kamu bisa berbaring di atas rumput, di sini itu kotor dan cuacanya dingin," ucap Mama Elisabeth yang khawatir melihat kondisi dari Arman.
"Jauhkan tangan kotormu dari tubuhku, dan tidak usah sok perhatian kepadaku karena perhatianmu itu palsu dan hanya menginginkan pujian dari papa," gertak Ahamd Arman yang kembali membentak Mama Elisah dengan perkataannya yang sangat kasar dan menepis tangan Mama sambungnya di atas tangannya.
Karena Arman menyingkirkan tangan Bu Elizah dengan kuat membuat tubuh mama Elisabeth terhuyung ke belakang dan langsung terduduk di atas rumput.
"Ya Allah kuatkan hatiku, seperti ini ternyata rasanya diperlakukan kasar oleh anak kita, ya Alloh ampunilah segala dosaku dan bukakanlah pintu hatinya untuk segllera berubah," ucap Mama Elisah sambil berdiri dari posisi duduknya.
"Makasih Pak, saya baik-baik saja kok ,tidak ada yang terluka," jawab Mama Elisabeth.
"Maafkan Tuan Muda yah Nyonya, mungkin karena selama ini dipikirannya semua ibu itu sama jahatnya," ucap lagi Security itu.
__ADS_1
Bu Elisha menatap ke arah security, "Maksudnya Pak, Aku tidak mengerti?" tanyanya Bu Elisah.
"Tua muda itu bukan anak kandungku Tuan besar, sejak kecil dia besar tanpa kasih sayang dari seorang ibu dan sewaktu kecil Arman sering mendapatkan perlakuan kasar dari istri ke dua tuan besar, setiap hari disiksa tapi kami tidak ada yang berani berkomentar atau pun mengusik kelakuan ibunya dulu, tapi jika Pak Hendry berada di rumah maka tuan Muda disayang dan dimanja bahkan jauh dari kata disiksa tapi jika Bapak pergi kerja maka Arman kecil akan ketakutan dan disiksa hingga Arman berteriak!" Jelasnya Pak Malik Security Pak Hendry yang sudah bekerja sejak Ahamd masih bayi.
"Ya Allah pantas saja Arman bersikap seperti itu dan sangat membenci seorang Ibu," batinnya Bu Elisha yang tidak menyangka bahwa selama Ini Arman sangat menderita.
"Hal itu berlangsung hingga Arman berusia 7 tahun, dan penyiksaan tersebut berakhir ketika Mamanya Arman istri ke dua dari Pak Hendry ketahuan selingkuh dan disaat itu pula Arman tidak lagi disiksa tapi karakter Tuan muda Arman menjadi arogan, kasar dan egois," ungkap Pak Malik lagi.
Arman berjalan masuk ke dalam rumah dan kadang kakinya terbentur oleh ujung kursi yang membuatnya kembali marah-marah bahkan mengumpat.
"Sampai kapan pun aku tidak akan menerima kehadiranmu kau di rumah ini, dan bagiku kamu bukanlah Istri dari Papaku!!" teriak Arman yang sudah terbaring di kursi tamu.
Bu Elisah memerintahkan kepada para Security untuk membantu membawa Arman ke dalam kamarnya. Ia tetap membantu Arman untuk melepas sepatu Arman dan membuka pakaiannya yang sudah kotor penuh dengan noda muntahannya.
__ADS_1
Pagi harinya, Arman terbangun dari tidurnya dan heran dengan pakaiannya yang sudah terganti dengan pakaian tidur. Arman berjalan ke arah kamar mandi karena akan berangkat kerja, dan setelah berpakaian Arman berjalan ke arah dapur dan sudah duduk di kursi tapi sampai beberapa menit kemudian makanan tidak datang.